POJOKSATU.id — Tidak banyak yang tahu bahwa perjalanan intelektual seorang Yusril Ihza Mahendra.
Tokoh hukum paling berpengaruh di Indonesia, pernah dibentuk oleh sebuah kejadian emosional di kampus.
Sebuah momen ketika ia begitu marah hingga bertekad meninggalkan Pascasarjana UI dan bersumpah akan kembali sebagai guru besar termuda.
Kisah itu kembali mencuat ketika Yusril berbincang dengan Mahfud MD dalam sebuah dialog panjang mengenai perjalanan hidup dan pemikiran mereka.
Yusril secara terbuka mengungkapkan bahwa ambisi akademiknya lahir dari kejadian yang tidak menyenangkan.
Ia mengenang satu peristiwa ketika seorang guru besar memperlakukannya tidak adil.
“Saya agak marah… saya mau angkat kursi, saya mau lempar,”
ujar Yusril sambil tertawa mengingat masa mudanya.
Namun di balik tawa itu, tersimpan emosi kuat yang mengubah jalan hidupnya.
“Hari ini saya keluar dari Pascasarjana UI. Nanti Anda akan lihat, saya akan jadi guru besar lebih muda dari Anda,” katanya.
Dari titik inilah sebuah dendam positif lahir, yang kelak mendorongnya menembus batas-batas akademik pada masanya.
Dari Jakarta ke Punjab, Mengubah Kemarahan Jadi Prestasi
Keluar dari kampus bukan keputusan kecil.
Yusril memutuskan untuk melangkah jauh ia terbang ke Pakistan dan melanjutkan studi di University of Punjab.
Ambisinya hanya satu: membuktikan bahwa ia bisa mencapai gelar tertinggi di dunia akademik lebih cepat dari siapa pun.
Ketika kembali ke Indonesia, Yusril bukan hanya membawa gelar doktor, tetapi juga produktivitas intelektual yang luar biasa.
Ia menulis artikel, mengajar, dan tampil sebagai pemikir muda paling menonjol di bidang hukum tata negara.
Baca Juga: Bantuan Kemanusiaan Danantara dan BUMN Dukung Pemulihan Aceh
Pada usia 42 tahun, ia diangkat menjadi guru besar, menjadikannya salah satu profesor termuda pada masa itu.
Mahfud MD yang saat itu juga tengah menapaki jalur akademik mengakui bahwa Yusril adalah tokoh pembuka jalan.
“Orang pertama yang meloncat dari lektor muda langsung menjadi guru besar itu Yusril,” kata Mahfud.
Pada era tersebut, guru besar biasanya berusia di atas 55 tahun. Lonjakan karier akademik seperti Yusril adalah hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dendam yang Membangun, Bukan Merusak
Menariknya, kisah Yusril ini bukan tentang permusuhan, melainkan tentang bagaimana emosi negatif bisa diubah menjadi energi konstruktif.
Baca Juga: Belum Lulus Sudah Menjabat, Wagub Bangka Belitung Hellyana Resmi Jadi Tersangka Kasus Ijazah Palsu
Kemarahan yang muncul tidak membuatnya berhenti belajar justru menjadi bahan bakar untuk berlari lebih cepat.
Dalam dialog itu, Yusril menegaskan bahwa ia tidak menyimpan dendam pribadi.
Saat menjadi profesor, ia bahkan ditopang oleh dukungan tokoh-tokoh akademik lintas latar belakang.
Termasuk Charles Himawan, akademisi non-Muslim yang mengusulkan namanya dalam proses pengangkatan profesor.
Kisah ini memberi pesan kuat kadang, hidup memberi kita kejadian yang menyakitkan. Namun dari situlah energi perubahan lahir.
“Kalau banyak mikir dan tidak dituliskan, lama-lama bisa gila,” canda Yusril mengingat masa-masa ia menulis artikel untuk bertahan hidup sekaligus meniti karier intelektual.
Pelajaran Penting dari Seorang Guru Besar
Perjalanan Yusril menunjukkan bahwa kemarahan kadang perlu disalurkan pada tempat yang tepat.
Bukan untuk merusak, tetapi untuk membangun.
Baca Juga: Bantuan Kemanusiaan Danantara dan BUMN Dukung Pemulihan Aceh
Ia tidak memilih jalur konfrontasi, melainkan jalur pembuktian.
Kisah ini bukan hanya tentang akademisi atau politikus. Ini kisah tentang manusia yang belajar mengubah sakit hati menjadi kemenangan.
Bahwa jalur kesuksesan sering kali dimulai dari sebuah peristiwa yang membuat kita berkata, “Suatu hari, saya akan buktikan.” dan kini terbukti***




