POJOKSATU.ID - Banjir yang melanda wilayah Keerom, Papua, kembali membuka persoalan serius terkait kerusakan lingkungan dan lemahnya perlindungan infrastruktur.

Arus deras Sungai Pas pada 17 Desember 2025 dilaporkan menghanyutkan tumpukan kayu gelondongan hingga menghantam jembatan penghubung utama di Distrik Keerom.

Akibatnya, jembatan tersebut putus total dan melumpuhkan akses transportasi warga.

Baca Juga: Tak Bermaksud Mengecilkan Bantuan Malaysia, Mendagri Tito Minta Maaf Kalau Ada Salah Paham

Peristiwa ini menjadi pukulan telak bagi masyarakat setempat.

Jembatan yang ambruk selama ini merupakan jalur vital penghubung antarwilayah, sekaligus akses utama distribusi logistik, layanan kesehatan, dan aktivitas ekonomi warga.

Dengan putusnya jembatan, mobilitas masyarakat praktis terhenti dan membuat kehidupan sehari-hari semakin sulit.

Baca Juga: Penempatan Kerja 7.036 PPPK Paruh Waktu Depok Tidak Permanen, Bisa Digeser Sesuai Kebutuhan

Kayu-kayu gelondongan yang terbawa banjir diduga berasal dari kawasan hulu Sungai Pas.

Material berukuran besar itu bukan hanya memperkuat daya arus banjir, tetapi juga mempercepat kehancuran infrastruktur yang menjadi penyangga keselamatan warga.

Dugaan ini kembali menyoroti persoalan lama terkait pengelolaan hutan dan aktivitas manusia di wilayah hulu sungai.

Baca Juga: Belajar dari CPNS 2024, Ini Peluang Formasi Lulusan D-III dan S-1 di Kemenag untuk CPNS 2026

Sejumlah warga Keerom mengaku sudah lama khawatir dengan kondisi lingkungan di sekitar daerah aliran sungai.

Mereka menilai, banjir kali ini bukan sekadar bencana alam biasa, melainkan akumulasi dari kerusakan lingkungan yang dibiarkan terus terjadi.

Ketika hujan deras turun, material kayu dari hulu seolah menjadi “senjata” yang menghancurkan apa pun di jalurnya.

Fenomena banjir yang membawa kayu gelondongan ini juga ramai diperbincangkan di media sosial.

Banyak netizen membandingkan kejadian di Keerom dengan banjir bandang yang sebelumnya melanda Sumatera dan Aceh.

Baca Juga: Perkuat Garda Terdepan Kemanusiaan, PMI Bogor Fokus Tingkatkan Peran Kecamatan

Dalam sejumlah kasus tersebut, gelondongan kayu dari hulu sungai juga terbukti memperparah dampak banjir hingga merusak rumah, jembatan, dan fasilitas umum.

Perbandingan ini memunculkan kekhawatiran publik yang lebih luas.

Jika pola kerusakan lingkungan di hulu tidak segera ditangani, ancaman serupa berpotensi terjadi di berbagai wilayah lain di Indonesia.

Baca Juga: SMK PGRI 2 Karawang: Rapor Jadi Alarm Evaluasi Jelang Ujian Akhir

Hal ini termasuk Papua yang dikenal memiliki kawasan hutan luas dan sensitif secara ekologis.

Putusnya jembatan Keerom juga menyingkap persoalan kesiapan infrastruktur menghadapi bencana.

Banyak pihak menilai, pembangunan jembatan dan fasilitas publik di daerah rawan banjir seharusnya mempertimbangkan risiko lingkungan secara serius.

Baca Juga: Daftar KIP Kuliah 2026? Ini Syarat dan Fasilitas yang Didapat, Cek Langsung di Sini

Tanpa pengawasan ketat dan mitigasi bencana yang memadai, infrastruktur akan terus menjadi korban pertama setiap kali bencana datang.

Hingga kini, warga masih menunggu langkah konkret dari pemerintah daerah dan pusat untuk memulihkan akses transportasi.

Selain pembangunan kembali jembatan, masyarakat juga mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas di kawasan hulu sungai.

Mereka khawatir, jika hanya fokus pada perbaikan fisik tanpa menyentuh akar masalah lingkungan, bencana serupa akan kembali terulang.

Banjir Keerom menjadi pengingat keras bahwa kerusakan lingkungan bukan isu abstrak.

Baca Juga: Sosok Kajari Albertinus Napitupulu Kena OTT KPK, Ternyata 2013 Terlibat Suap 50.000 Dollar AS

Dampaknya nyata, menghancurkan infrastruktur, memutus akses hidup warga, dan mengancam keselamatan banyak orang.

Tanpa tindakan tegas dan konsisten, bencana demi bencana berpotensi terus menjadi harga mahal yang harus dibayar masyarakat.***