POJOKSATU.id, JAKARTA-- Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyampaikan permintaan maaf jika ada yang salah paham soal pernyataannya terkait bantuan dari Malaysia untuk bencana Aceh.
Tito menyampaikan permintaan maaf usai menjadi sorotan publik dari Malaysia mengenai bantuan dari Malaysia yang disebutnya tak sampai Rp 1 miliar.
Klarifikasi itu disampaikan Tito usai menghadiri pelantikan Anggota Komisi Yudisial dan para Duta Besar RI di Istana Negara, Jakarta, Jumat, 19 Desember 2025.
Tito mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak bermaksud mengecilkan dukungan Malaysia.
Baca Juga: Perkuat Garda Terdepan Kemanusiaan, PMI Bogor Fokus Tingkatkan Peran Kecamatan
“Saya sama sekali tidak bermaksud untuk mengecilkan bantuan, dukungan dari warga Malaysia kepada Aceh, tidak, sama sekali tidak bermaksud itu. Kalau ada yang salah paham saya minta maaf,” kata Tito.
Ia menjelaskan konteks pembicaraannya terkait mekanisme penerimaan bantuan asing dan perbandingan nilai bantuan terhadap anggaran pemerintah Indonesia.
Tito menilai ada banyak upaya yang telah dikerahkan pemerintah sejak hari pertama bencana, namun tidak seluruhnya terekam media.
Menurut Mendagri, substansi ucapannya justru ingin menegaskan bahwa penghargaan juga perlu diberikan terhadap kerja pemerintah pusat dan daerah yang dinilai tidak terlalu terekspos.
Baca Juga: Penempatan Kerja 7.036 PPPK Paruh Waktu Depok Tidak Permanen, Bisa Digeser Sesuai Kebutuhan
“Tolong juga dihargai, kira-kira gitu, lah tolong juga dihargai, upaya pemerintah pusat, pemerintah daerah para relawan, donatur, daerah dalam negeri yang juga sangat banyak yang saya lihat pemberitaannya kecil," kata Tito.
Tito menyebut dirinya memiliki hubungan panjang dengan pejabat Malaysia sejak masa tugasnya di kepolisian.
“Saya sangat menghormati warga Malaysia, pemerintah Malaysia, senior-senior di Malaysia, dan saudara-saudara diaspora. Dari dulu pun hubungan saya baik,” tuturnya.
Sebelumnya dalam acara Helmy Yahya Bicara, Sabtu, 13 Desember 2025 lalu, Tito menyinggung bantuan obat-obatan dari Malaysia yang nilanya disebut tak lebih dari Rp1 miliar. Tetapi lebih disorot dibanding kontribusi pemerintah.
"Itu nilainya nggak sampai Rp1 miliar, kurang lebih Rp1 miliar," ungkap Tito.
“Negara kan kalau untuk Rp1 miliar kita cukup, kita punya anggaran yang jauh lebih besar daripada itu," kata Tito lagi.
Tito menilai tak seharusnya bantuan asing bernilai kecil dibanding anggaran pemerintah justru menimbulkan kesan negatif bagi Indonesia.
"Jadi jangan sampai nanti image-nya seolah dapat bantuan dari negara lain, padahal nggak seberapa dibanding dengan kemampuan kita, lebih dari itu," kata Tito Karnavian.***




