POJOKSATU.id - Jagat maya tengah diramaikan kisah seorang penarik becak di Kabupaten Brebes yang mengaku mengalami kejadian tak terduga usai menerima bantuan becak listrik.

Peristiwa ini menjadi perbincangan hangat lantaran bantuan yang seharusnya meringankan beban hidupnya justru berubah menjadi sumber kebingungan dan kekecewaan.

Penerima bantuan tersebut bernama Daklan, warga Desa Padakaton, Kecamatan Ketanggungan.

Baca Juga: Izin Pemanfaatan Kayu Pascabanjir Dikeluarkan, Polisi Masih Selidiki Dugaan Illegal Logging

Ia adalah pengemudi becak yang sehari-hari menghidupi keluarga dengan menarik penumpang dari satu desa ke desa lain.

Hari yang semestinya menjadi kebahagiaan baginya justru berubah menjadi pengalaman yang membuatnya terpukul.

Daklan menuturkan bahwa ia baru saja pulang usai menerima bantuan becak listrik yang disebut-sebut merupakan bagian dari program Presiden Prabowo.

Baca Juga: Saat Anak Lebih Sering Mendengar Lagu Populer, Apa Dampaknya?

Namun sesampainya di kawasan Desa Jagalempeni, Wanasari, ia mengaku dicegat oleh seseorang bernama Herman yang disebut sebagai Ketua BUMDes setempat.

“Habis dapat bantuan becak, saya pulang pakai becak itu. Tapi sampai Jagalempeni, saya dihentikan dan becaknya langsung dinaikkan ke mobil bak terbuka,”

ujar Daklan dikutip pojoksatu.id dari instagram @trendingbuzz.id.

Baca Juga: Geger Dugaan Bom di Depan Gereja GKPS Bandung, Polisi Sterilkan Lokasi

menceritakan kembali detik-detik kejadian yang membuatnya syok.

Setelah dibawa pergi, becak listrik itu tak pernah tiba di rumahnya hingga sore hari.

Daklan yang cemas akhirnya bertanya keberadaan becak tersebut. Namun jawaban yang diterimanya justru membuat hatinya makin gundah.

Ia mengaku diberitahu bahwa becak itu diambil untuk keperluan BUMDes, dan sebagai gantinya ia hanya diberi uang Rp50 ribu.

Baca Juga: Saat Anak Lebih Sering Mendengar Lagu Populer, Apa Dampaknya?

Situasi makin mengundang tanda tanya setelah Daklan menyebut bahwa ada tiga orang dari desanya yang masuk daftar penerima.

Namun hanya dirinya yang bekerja sebagai tukang becak.

Dua nama lainnya, yakni Muhtadi  dan Sudrajat , diketahui bekerja sebagai buruh dan pegawai BUMDes.

Baca Juga: Geger Dugaan Bom di Depan Gereja GKPS Bandung, Polisi Sterilkan Lokasi

Kisah ini kemudian menyebar luas dan ramai diperbincangkan warga sekitar hingga viral di media sosial.

Banyak warganet yang mempertanyakan mekanisme penyaluran bantuan tersebut, termasuk kenapa bantuan itu bisa dibawa kembali setelah diserahkan.

Ketika dikonfirmasi terpisah, Ketua BUMDes Mekar Jaya, Suherman, memberikan penjelasan berbeda.

Baca Juga: Izin Pemanfaatan Kayu Pascabanjir Dikeluarkan, Polisi Masih Selidiki Dugaan Illegal Logging

Ia menyebut bahwa BUMDes tidak menerima becak listrik tersebut secara resmi.

Menurutnya, becak hanya dititipkan sementara di TPS 3R KSM Sejahtera Bersama.

Suherman juga menuturkan alasan mengapa becak itu belum diserahkan ke warga mana pun.

Menurutnya, banyak pengemudi becak di desa tersebut yang meminta untuk didaftarkan sebagai penerima bantuan.

Penjelasan ini justru membuka babak baru diskusi publik.

Mengapa terjadi perbedaan informasi antara penerima bantuan dan pihak BUMDes?.

Baca Juga: Kabar Gembira ASN Boleh WFA Akhir Tahun! Pemerintah Pastikan Pelayanan Publik Tetap Aman dan Lancar

Apakah ada ketidakteraturan dalam proses distribusi bantuan? Atau terjadi miskomunikasi yang merugikan warga?

Hingga kini, Daklan mengaku masih berharap becak listrik itu kembali kepadanya.

Sementara warganet terus memantau perkembangan kasus ini, menyoroti transparansi pembagian bantuan serta perlakuan yang diterima pengemudi becak tersebut.

Baca Juga: Geger Dugaan Bom di Depan Gereja GKPS Bandung, Polisi Sterilkan Lokasi

Fenomena ini memperlihatkan betapa pentingnya akurasi, kejelasan

Dan keterbukaan dalam menyalurkan program bantuan agar tidak menimbulkan salah paham yang kemudian viral dan memicu kegaduhan di masyarakat.***