POJOKSATU.ID - Suasana kawasan tambang emas PT SRM di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, berubah mencekam pada Minggu sore 14 Desember 2025.
Insiden serius terjadi ketika sekelompok warga negara asal China diduga melakukan aksi premanisme serius.
Terhadap petugas keamanan perusahaan dan lima anggota TNI yang tengah berada di lokasi.
Baca Juga: Besaran TPG 100 Persen yang Diterima Bulan Desember Lebih dari Rp5 Juta? Begini Penjelasannya!
Peristiwa ini memunculkan kekhawatiran besar soal lemahnya pengawasan dan wibawa negara di kawasan industri strategis.
Kronologi bermula sekitar pukul 15.30 WIB saat petugas keamanan perusahaan mencurigai adanya aktivitas penerbangan drone ilegal di area tambang.
Drone tersebut diduga diterbangkan tanpa izin dan berpotensi mengancam keamanan operasional perusahaan.
Baca Juga: Panduan Lengkap Beli Tiket Api Kereta Bandung–Semarang untuk Libur Natal dan Tahun Baru 2026
Petugas keamanan kemudian berkoordinasi dengan lima anggota TNI dari Batalyon Zeni Tempur 6 (Yonzipur 6/SD) yang saat itu sedang melaksanakan Latihan di sekitar lokasi.
Sekitar 300 meter dari pintu masuk tambang, tim gabungan menemukan empat WNA China yang sedang mengoperasikan drone.
Namun, situasi yang awalnya tampak terkendali berubah drastis. Tanpa diduga, muncul sebelas WNA lainnya dari arah sekitar lokasi.
Baca Juga: Fantastis! Dakwaan Jaksa Sebut Nadiem Kantongi Rp 809 Miliar di Balik Kerugian Negara Rp 2 Triliun
Sehingga total ada 15 orang yang diduga terlibat dalam insiden tersebut.
Yang mengejutkan, para WNA itu tidak datang dengan tangan kosong.
Mereka diduga membawa berbagai senjata berbahaya, mulai dari senjata tajam, airsoft gun, hingga alat setrum.
Menghadapi kondisi kalah jumlah dan potensi kekerasan yang lebih besar, lima anggota TNI dan petugas keamanan memilih mundur untuk menghindari jatuhnya korban jiwa.
Kegagalan melampiaskan amarah kepada aparat membuat kelompok WNA tersebut diduga merusak fasilitas perusahaan.
Satu unit mobil milik PT SRM dilaporkan rusak berat, sementara satu sepeda motor hancur tak berbentuk.
Petugas keamanan hanya berhasil mengamankan satu bilah senjata tajam sebagai barang bukti di lokasi kejadian.
Chief Security PT SRM, Imran Kurniawan, menyebut insiden tersebut sebagai ancaman serius terhadap keselamatan pekerja dan aparat negara.
Baca Juga: Panduan Lengkap Beli Tiket Kereta Jakarta–Semarang untuk Libur Natal dan Tahun Baru 2026
Ia menilai kejadian ini bukan sekadar konflik biasa, melainkan bentuk premanisme berskala internasional yang berani menantang otoritas di wilayah Indonesia.
Kapolsek Tumbang Titi, Iptu Made Adyana, membenarkan terjadinya insiden tersebut. Ia menyatakan polisi telah turun ke lokasi dan situasi saat ini dinyatakan kondusif.
Meski demikian, hingga Minggu malam pihak perusahaan belum membuat laporan resmi ke kepolisian karena masih melakukan koordinasi dengan tim kuasa hukum.
Baca Juga: WhatsApp Rilis Fitur Belanja Baru Jelang Harbolnas 2025, UMKM Makin Mudah Layani Transaksi
Sikap menunggu ini justru memicu tanda tanya besar di publik.
Banyak pihak mempertanyakan mengapa penyerangan terhadap aparat TNI berseragam bisa terjadi tanpa konsekuensi hukum yang jelas dalam waktu cepat.
Keberanian para WNA tersebut menyerang aparat negara dinilai sebagai sinyal berbahaya jika tidak ditindak tegas.
Insiden ini menambah daftar panjang persoalan keamanan di kawasan pertambangan yang melibatkan tenaga asing.
Publik kini menuntut ketegasan negara dalam menegakkan hukum dan memastikan bahwa tidak ada pihak asing yang bertindak sewenang-wenang di wilayah Indonesia.
Tanpa langkah tegas, kekhawatiran akan tergerusnya wibawa negara bukan lagi sekadar isu, melainkan ancaman nyata.***




