POJOKSATU.id- Kontroversi besar mewarnai perjalanan Timnas Kickboxing Indonesia di SEA Games 2025 Thailand.
Dalam hitungan jam, dua peristiwa beruntun mengguncang publik tanah air.
Dugaan kecurangan dalam pertandingan yang membuat atlet Indonesia berteriak lantang di arena, serta deportasi manajer tim yang terjadi jelang laga penting.
Kombinasi dua insiden ini menimbulkan tanda tanya besar mengenai jalannya kompetisi dan perlakuan terhadap kontingen Indonesia.
Atlet kickboxing Indonesia, Andi Mesyara Jerni Maswara, tampil pada nomor point fighting 50 kg putri.
Namun pertandingan semifinal itu berubah tegang setelah ia merasakan kejanggalan pada sistem penilaian.
Baca Juga: Strategi Licik Resbob Terbongkar! Nekat Tinggalkan HP dan Berpindah-Pindah Kota
Andi mengungkapkan bahwa skor lawan tiba-tiba meningkat drastis tanpa adanya serangan jelas yang masuk.
Sementara itu, serangannya sendiri dinilai tak menambah poin seperti seharusnya.
"Di ronde pertama, saya sudah unggul 4-3. Di situ saya udah tenang, saya sudah berusaha untuk mencari jarak yang enak"
Baca Juga: PNS dan PPPK Kerja Bergilir Karena Efisiensi Anggaran 2026, Apa Dampaknya ke TPP?
"main yang enak, tapi tiba-tiba disetop sama wasit dengan alasan saya harus fight. Saya harus menyerang,"
Ungkap Andi Jerni di Instagram pribadinya, @andijerni dikutip pojoksatu.id dari idn times.
Situasi kian membingungkan ketika, menurut Andi, waktu pertandingan tidak dihentikan meskipun wasit telah berteriak “stop”.
Kondisi itu membuatnya kehilangan peluang mengejar ketinggalan skor. Usai pertandingan, Andi tampak emosional dan berteriak bahwa ia merasa dicurangi.
Baca Juga: PNS dan PPPK Kerja Bergilir Karena Efisiensi Anggaran 2026, Apa Dampaknya ke TPP?
Reaksi spontan ini kemudian tersebar luas dan langsung menyedot perhatian publik Indonesia.
Di tengah sorotan atas dugaan kecurangan tersebut, terungkap fakta baru yang tidak kalah mengejutkan.
Manajer Tim Kickboxing Indonesia, Rosi Nurasjati, ternyata tidak berada di venue untuk mendampingi tim.
Bukan karena absen, tetapi karena dideportasi oleh otoritas Thailand sehari sebelum pertandingan berlangsung.
Rosi, yang ditugaskan resmi oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), dideportasi setelah mendapat tekanan dari Konfederasi Kickboxing Asia (WAKO Asia).
Menurut kesaksian pelatih dan ofisial tim.
Baca Juga: PNS dan PPPK Kerja Bergilir Karena Efisiensi Anggaran 2026, Apa Dampaknya ke TPP?
Rosi bahkan dihadang aparat kepolisian bersenjata lengkap dan anjing pelacak sebelum dipaksa menandatangani surat pernyataan untuk segera meninggalkan Thailand.
Lebih jauh lagi, terdapat laporan bahwa WAKO Asia mengancam men-diskualifikasi atlet Indonesia jika Rosi menolak menandatangani surat tersebut.
Kondisi itu membuat Timnas Kickboxing kehilangan figur manajerial penting pada momen krusial.
Tanpa manajer, tim tidak memiliki perwakilan resmi untuk mengajukan protes terkait dugaan kejanggalan dalam pertandingan semifinal.
Pelatih Indonesia mengakui kesulitan tersebut, sebab dalam cabang olahraga dengan sistem poin cepat seperti kickboxing, protes harus diajukan segera oleh manajer tim.
Kronologi berlapis ini memicu gelombang reaksi dari publik, terutama setelah dua insiden ini saling berkaitan.
Gugatan soal fair play muncul ke permukaan, mengingat deportasi manajer diduga kuat mempengaruhi kemampuan tim melakukan pembelaan ketika atlet merasa dirugikan.
Hingga kini, berbagai pihak mendesak adanya penjelasan resmi dari panitia SEA Games, federasi kickboxing internasional, dan juga pihak Thailand sebagai tuan rumah.
Meski demikian, para atlet tetap menunjukkan tekad kuat.
Mereka menyatakan akan fokus menyelesaikan seluruh pertandingan sambil berharap ada kejelasan dari penyelenggara terkait peristiwa yang mereka alami.
Kontroversi ini diperkirakan masih akan berlanjut, mengingat beberapa bukti dan kesaksian baru terus mengemuka dari lapangan.
Insiden ini menjadi salah satu yang paling disorot pada SEA Games 2025, bukan hanya karena emosionalnya reaksi atlet.
Tetapi juga karena adanya dugaan tekanan terhadap ofisial Indonesia.
Publik kini menunggu langkah lanjutan dari pemerintah Indonesia serta federasi olahraga terkait untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang.***



.webp)
