POJOKSATU.ID - Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Aceh Tamiang pada Jumat 12 Desember 2025.

Kembali memunculkan kritik tajam terhadap lambannya respons pemerintah pusat dalam penanganan bencana besar di Sumatra.

Dengan jumlah korban meninggal dunia yang telah mencapai 990 jiwa, sementara 218 orang masih hilang.

Banyak pihak menilai kehadiran Prabowo datang terlalu terlambat untuk memberi dampak nyata bagi para penyintas.

Baca Juga: Jangan Sampai Terlambat! Lewat 20 Desember, NIP PPPK Paruh Waktu Otomatis Ditolak

Kedatangan Prabowo dilakukan setelah ia menyelesaikan rangkaian perjalanan luar negeri ke Rusia dan Pakistan. 

Sehingga menimbulkan persepsi bahwa urusan diplomatik tetap lebih diutamakan.

Meski berbagai daerah di Indonesia tengah mengalami bencana besar yang menelan ratusan korban.

Saat tiba di lokasi, Prabowo disambut para menteri dan pejabat daerah.

Baca Juga: Kapolri Teken Aturan Baru! Polisi Kini Bisa Duduki Jabatan di 17 Kementerian, Berseberangan dengan Putusan MK

Namun sambutan tersebut tak bisa menutupi fakta bahwa kondisi lapangan masih kacau dan jauh dari pulih.

Di posko pengungsian, Prabowo menyalami warga dan menyatakan kedatangannya adalah bentuk penunaian janji yang ia ucapkan saat kunjungan sebelumnya.

Namun bagi para pengungsi yang telah berminggu-minggu hidup dalam kondisi minim sanitasi, persediaan air bersih yang terbatas.

Dan akses kesehatan yang timpang, kunjungan itu tak lebih dari agenda simbolis yang tidak menyentuh inti persoalan penanganan bencana.

Dalam pidatonya, Prabowo berjanji akan memperbaiki keadaan bersama jajaran kementerian.

Namun pernyataan tersebut terasa jauh dari realitas yang ada.

Laporan BNPB mencatat lebih dari 5.400 orang mengalami luka, dengan Aceh Tamiang menjadi salah satu wilayah paling terdampak parah.

Kerusakan fasilitas publik dan rumah warga masih luas, sementara proses evakuasi korban yang hilang berlangsung sangat lambat.

Baca Juga: Pakar Hukum Minta MK Patuhi Putusan PTUN Karena Ini Negara Hukum

Sejumlah warga mengaku bahwa bantuan yang datang tersendat dan tidak merata.

Banyak pengungsi mengeluhkan minimnya logistik, tenda, serta pelayanan kesehatan.

Ironisnya, pemerintah pusat baru benar-benar menunjukkan perhatian setelah angka korban terus melonjak dan tekanan publik membesar.

Di lapangan, aparat dan relawan masih berjibaku menghadapi medan yang sulit, terutama di wilayah-wilayah yang terisolasi.

Baca Juga: Terkuak! Kakek Tarman Bagi-Bagi Uang dari Mobil Gadai demi Tutupi Mahar Cek Palsu Rp 3 Miliar

Sementara itu, pemerintah daerah pun tampak kewalahan menghadapi skala bencana yang jauh melampaui kapasitas mereka.

Kunjungan Prabowo yang dilakukan dalam waktu singkat tidak menyentuh akar persoalan keterlambatan respons dan minimnya kesiapsiagaan sebelumnya.

Meskipun Prabowo menyatakan akan memperbaiki situasi.

Banyak pihak menilai langkah tersebut harusnya dilakukan lebih cepat ketika bencana mulai menunjukkan skala masif.

Fakta bahwa dirinya baru hadir setelah lawatan internasional memberi kesan bahwa kepentingan luar negeri lebih diutamakan ketimbang keselamatan rakyat di dalam negeri.

Dengan korban meninggal terus bertambah dan ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal.

Masyarakat meminta tindakan nyata, bukan sekadar kunjungan singkat.

Pemerintah pusat didesak mengambil langkah strategis dan cepat untuk memastikan bantuan tidak lagi tersendat dan rekonstruksi berjalan secara transparan.

Baca Juga: Ketentuan Penting PPPK Badan Gizi Nasional 2025, Semua Poin Wajib Dipatuhi Peserta

Bagi warga Aceh Tamiang, janji memperbaiki keadaan hanya akan berarti jika dibarengi aksi nyata.

Namun sampai hari ini banyak pengungsi mengaku masih menunggu bukti komitmen tersebut.

Prabowo mungkin sudah datang, namun kepedulian sejati diukur dari langkah setelah kunjungan, bukan dari kata-kata di depan kamera.***