POJOKSATU.id - Dalam tiga bulan terakhir, Indonesia menghadapi rangkaian kecelakaan gedung yang terjadi dalam waktu berdekatan dan memakan korban jiwa.
Dari runtuhnya bangunan pesantren di Sidoarjo, kebakaran gedung teknologi di Jakarta, hingga ambruknya bangunan bekas sekolah saat pembongkaran.
Seluruh peristiwa ini mengarah pada satu persoalan besar: lemahnya pengawasan keselamatan bangunan.
Runtuhnya Ponpes Al-Khoziny, 67 Santri Tewas
Tragedi pertama terjadi pada 29 September 2025 di Pondok Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo.
Ketika para santri tengah melaksanakan salat Asar, bangunan yang sedang diperluas dari dua menjadi empat lantai runtuh seketika.
Baca Juga: Reforestasi Kok Makin Gundul? Komitmen Rp815 M ala Luhut Dipertanyakan Publik
Struktur tidak mampu menahan beban tambahan, membuat lantai atas menjatuhi para santri yang berada di bawahnya.
Laporan resmi menyebutkan 67 orang meninggal dunia dan lebih dari 100 lainnya luka-luka.
Konstruksi bangunan yang tidak ideal ditambah proyek yang berjalan di tengah aktivitas pesantren menjadi faktor kuat penyebab ambruknya struktur.
Baca Juga: Reforestasi Kok Makin Gundul? Komitmen Rp815 M ala Luhut Dipertanyakan Publik
Peristiwa ini memicu kritik keras terhadap minimnya audit bangunan pendidikan, terlebih yang menampung ribuan santri.
Kebakaran Gedung Terra Drone, 22 Korban Meninggal
Belum dua bulan berselang, kebakaran besar terjadi di gedung Terra Drone Indonesia di Kemayoran, Jakarta Pusat, pada 9 Desember 2025.
Api diperkirakan berasal dari lantai dasar sebelum merambat ke lantai atas. Kepulan asap tebal menjadi penyebab mayoritas korban meninggal karena tak sempat keluar dari gedung.
Baca Juga: Reforestasi Kok Makin Gundul? Komitmen Rp815 M ala Luhut Dipertanyakan Publik
Dalam peristiwa ini, 22 orang meninggal, termasuk sejumlah pegawai yang terjebak di ruangan tertutup.
Dugaan awal mengarah pada kemungkinan korsleting listrik atau insiden yang melibatkan baterai lithium.
Proses hukum bergerak cepat direktur perusahaan ditetapkan sebagai tersangka karena dinilai lalai dalam memastikan keselamatan bangunan dan jalur evakuasi.
Baca Juga: Baru Jadi Tersangka, Wakil Walikota Bandung Mendadak Sakit! Bandung Gempar, Publik Langsung Curiga
Kebakaran ini menyoroti persoalan serius pada sistem proteksi gedung bertingkat, terutama di perusahaan teknologi yang menyimpan perangkat berpotensi memicu panas.
Bangunan Ambruk di Kelapa Gading Saat Pembongkaran
Peristiwa lain terjadi pada 4 Desember 2025 di Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Sebuah bangunan tiga lantai, yang sebelumnya merupakan sekolah, runtuh saat proses pembongkaran berlangsung.
Seorang pekerja yang baru keluar dari basement tertimpa puing lantai yang ambrol dan ditemukan meninggal dunia.
Meski korban tidak sebanyak dua tragedi sebelumnya, insiden ini mempertegas pola yang sama lemahnya pengawasan konstruksi dan keselamatan kerja di lapangan.
Proyek pembongkaran atau renovasi seharusnya berada di bawah pengawasan teknis ketat karena struktur bangunan berada pada kondisi paling rentan.
Pola Kelemahan yang Tidak Bisa Diabaikan
Jika tiga kasus ini digabungkan, terlihat pola yang serupa banyak gedung runtuh atau terbakar akibat kelalaian struktur.
Kurangnya proteksi, dan tidak adanya audit keselamatan rutin.
Baca Juga: Kisruh PBNU Makin Panas! Ma’ruf Amin Bongkar Langkah Syuriyah, Tidak Sah dan Langgar Tradisi NU!
Pada Ponpes Al-Khoziny, kekeliruan konstruksi. Pada Terra Drone, minimnya mitigasi kebakaran. Pada Kelapa Gading, lemahnya pengawasan pekerjaan teknis.
Pemerintah memang mengambil langkah berbeda pada setiap kasus dari menggelontorkan Rp125,3 miliar APBN.
Untuk membangun ulang pesantren hingga proses pidana terhadap perusahaan swasta.
Baca Juga: Kisruh PBNU Makin Panas! Ma’ruf Amin Bongkar Langkah Syuriyah, Tidak Sah dan Langgar Tradisi NU!
Namun inti persoalannya sama keselamatan bangunan di Indonesia belum menjadi prioritas yang dijaga dengan disiplin.
Tiga tragedi ini seharusnya cukup menjadi alarm bahwa negara membutuhkan audit menyeluruh terhadap bangunan pendidikan, kantor, dan fasilitas publik lainnya.
Jika tidak, rentetan kecelakaan serupa hanya tinggal menunggu waktu.***




