POJOKSATU.id - Viral di media sosial, sebuah momen tak terduga dari sebuah acara resmi tiba-tiba menyedot perhatian publik.

Kejadian itu melibatkan Mukhamad Misbakhun, Ketua Komisi XI DPR, serta Purbaya Yudhi Sadewa pada kamis 11/12/2025.

 yang dalam video dan potongan klip yang beredar digambarkan seolah sedang berada dalam situasi yang penuh ketegangan namun juga mengundang tawa.

Baca Juga: Wali Kota Bekasi Kantongi Izin Terbang ke Tiongkok, Tanpa Bebankan APBD

Semua bermula ketika Purbaya, yang hadir membahas isu-isu ekonomi dalam sebuah forum di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan.

Tiba-tiba melontarkan pernyataan mengejutkan soal keberadaan wartawan.

Dengan nada santai namun penuh kehati-hatian, ia mengingatkan bahwa setiap ucapannya bisa saja menjadi sorotan besar publik.

Dalam momen yang kini viral itu, Purbaya berkata, “Jadi ngomongnya harus hati-hati ya, nggak boleh koboi-koboi amat."

Baca Juga: Wali Kota Bekasi Kantongi Izin Terbang ke Tiongkok, Tanpa Bebankan APBD

"Aturan media, nggak usah diundang biar saya ngomongnya enak.” Ujaran itulah yang kemudian menjadi pemicu riuh reaksi netizen.

Melihat pernyataan tersebut, Misbakhun langsung menimpali dengan lontaran usulan yang membuat suasana ruangan berubah seketika.

Ia berkata, “apa setuju tertutup. kalau setuju tertutup media harus keluar”.

Baca Juga: Gerakan Teman Sebaya RukunSamaTeman Resmi Diluncurkan, Ajak Murid Jadi Agen Perubahan di Sekolah

Ucapan itu membuat banyak orang di ruangan terkejut.

Sementara sebagian lainnya tertawa karena tidak menyangka forum resmi bisa berubah menjadi situasi seolah-olah sedang rapat internal rahasia.

Menurut potongan informasi yang tersebar, Misbakhun sebenarnya merespons candaan Purbaya.

Namun, karena momen itu direkam dan langsung menyebar di berbagai platform, publik pun menafsirkannya secara beragam.

Baca Juga: Universitas Indonesia Naik Peringkat di UI GreenMetric 2025, Kokoh sebagai Kampus Paling Berkelanjutan di Asia

Ada yang menilai itu hanya selingan humor, namun lebih banyak yang menganggap pernyataan tersebut sensitif, terutama karena menyangkut transparansi pejabat publik.

Menariknya, setelah Misbakhun mengusulkan rapat tertutup, Purbaya justru mengambil langkah sebaliknya.

Ia meminta agar wartawan tetap berada di ruangan, sebuah keputusan yang disambut tawa para kader Golkar yang hadir.

Baca Juga: Universitas Indonesia Naik Peringkat di UI GreenMetric 2025, Kokoh sebagai Kampus Paling Berkelanjutan di Asia

Situasinya jadi seperti adu celetukan spontan yang tidak direncanakan, dan di situlah letak daya tarik viralnya.

Akhirnya, acara tersebut tetap terbuka dan berjalan lancar tanpa ada pengusiran wartawan seperti yang sempat terucap.

Namun tetap saja, percikan kecil itu sudah terlanjur menjadi perbincangan besar.

Baca Juga: Pelaku Kekerasan di Sekolah Didominasi Siswa, Wamendikdasmen Sorot Peran Komite Sekolah

Di media sosial, netizen ramai-ramai mengomentari bahwa apapun yang dibahas oleh pejabat seharusnya memang disampaikan secara terbuka.

Mereka menegaskan bahwa transparansi adalah hak publik, sehingga wajar bila banyak yang merasa sensitif ketika ada ucapan soal menutup akses media.

Beberapa komentar menyebut kejadian ini sebagai “komedi politik tipis-tipis”.

Sementara yang lain menganggapnya sebagai bentuk ketidakpekaan terhadap peran jurnalis sebagai pengawas publik.

Apa pun perspektifnya, yang jelas momen ini telah menjadi bahan pembicaraan hangat.

Dan memperlihatkan bagaimana satu kalimat spontan dari pejabat bisa langsung viral serta memicu diskusi luas tentang keterbukaan informasi.***