POJOKSATU.id — Pernyataan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Sultan Bachtiar Najamuddin soal “harga diri bangsa tinggi”.
ketika Indonesia belum menerima bantuan asing memicu diskusi luas di publik.
Ucapan itu muncul setelah pemerintah menegaskan bahwa hingga saat ini Indonesia belum menerima dan belum membutuhkan bantuan dari negara lain.
Baca Juga: Polda Lampung Hentikan Penyelidikan Bongkahan kayu di Pesisir Barat, karena Tak Ada Unsur Pidana
terutama dalam konteks penanganan bencana di Sumatera.
"Saya masih bersepakat dengan Pak Presiden bahwa sepanjang negara ini masih mampu untuk mengelola bencana ini"
"untuk me-recovery ini dengan cepat, harga diri bangsa kita juga tinggi,”
Baca Juga: Ujung Zulfa
Ujarnya dilansir tempo.co saat depan awak media di Kompleks DPR di Jakarta, pada Rabu, 10 Desember 2025.
Pemerintah melalui Istana menyampaikan bahwa kapasitas nasional dinilai masih mencukupi untuk menangani dampak bencana, mulai dari logistik, pangan, hingga energi.
Hal tersebut dikuatkan oleh laporan resmi bahwa persediaan BBM, bahan makanan, dan kebutuhan dasar lainnya masih berada pada level aman.
Sikap ini kemudian mendapat dukungan penuh dari Ketua DPD.
“Indonesia bangsa besar. Kita tidak harus selalu mengandalkan bantuan asing ketika menghadapi situasi sulit,”
ujar Sultan Bachtiar Najamuddin, seperti dikutip dari Tempo. Menurutnya, keputusan ini bukan hanya soal teknis penanganan, tetapi juga menyangkut kedaulatan dan martabat negara.
Namun, yang membuat pernyataan ini viral adalah munculnya spekulasi bahwa langkah pemerintah bukan sekadar kebijakan domestik, melainkan sinyal diplomasi internasional di era pemerintahan baru.
Angle inilah yang membuat isu tersebut menjadi sorotan publik.
Baca Juga: Kekayaan Wakil Wali Kota Bandung Disorot, Properti Rp 23 Miliar hingga Kas Miliaran Rupiah
Antara Fakta Lapangan dan Pesan Diplomasi
Pernyataan pemerintah bahwa Indonesia belum menerima bantuan asing muncul bersamaan dengan viralnya sebuah video yang mengklaim bahwa 11 negara telah mengirimkan bantuan untuk korban bencana.
Tempo melakukan pemeriksaan fakta dan menyatakan bahwa klaim tersebut keliru tidak ada bantuan asing yang secara resmi diterima atau masuk ke Indonesia.
Sikap resmi pemerintah, yang berulang kali menegaskan “belum membutuhkan bantuan luar”,.
menimbulkan interpretasi bahwa Indonesia sedang berusaha menunjukkan kemandirian strategis.
Di sinilah ucapannya tentang “harga diri bangsa” menangkap perhatian publik dan media internasional.
Sejumlah pengamat hubungan luar negeri menilai, keputusan menahan bantuan asing bukan hal yang terlalu aneh.
Negara seperti Jepang, Tiongkok, dan Turki juga pernah melakukan hal serupa dalam situasi tertentu, terutama ketika ingin menunjukkan kekuatan internal dan stabilitas nasional.
Dalam konteks Indonesia, penolakan sementara bantuan asing bisa dibaca sebagai penegasan posisi diplomatik, bahwa negara ini mampu berdiri sendiri dalam kondisi darurat dan tidak berada dalam posisi ketergantungan.
Respons Publik dan Dinamika Nasionalisme
Meski begitu, respons publik tidak seragam.
Sebagian masyarakat menilai langkah pemerintah sebagai bentuk percaya diri nasional.
menempatkan Indonesia sejajar dengan negara-negara kuat yang mampu mengelola bencana besar tanpa bantuan luar.
Baca Juga: Wakil Wali Kota Bandung dan Anggota DPRD Ditetapkan Tersangka Korupsi, Kejari Ungkap Modus Proyek
Namun sebagian lain mempertanyakan apakah keputusan tersebut dapat memengaruhi kecepatan penanganan di lapangan.
Beberapa laporan lembaga kemanusiaan menyebutkan bahwa akses ke beberapa wilayah masih terhambat, terutama akibat cuaca dan infrastruktur.
Di titik inilah narasi “harga diri bangsa” menjadi perbincangan heboh.
Baca Juga: Polda Lampung Hentikan Penyelidikan Bongkahan kayu di Pesisir Barat, karena Tak Ada Unsur Pidana
Banyak yang menilai sikap pemerintah berlapis satu sisi untuk menjaga stabilitas internal, sisi lain sebagai gestur politik global.
Sinyal Politik atau Kemandirian Nasional?
Fakta bahwa pemerintah secara konsisten menolak bantuan asing, diperkuat oleh dukungan institusi seperti DPD, membuat isu ini menaikkan pertanyaan strategis
Apakah Indonesia sedang menunjukkan wajah baru diplomasi di bawah pemerintahan Prabowo Subianto?
Hingga kini, pemerintah belum memberikan tanda akan membuka pintu bantuan luar.
Sikap itu tetap konsisten Indonesia mampu dan siap mengatasi bencana dengan kekuatan sendiri.
Terlepas dari pro-kontra, satu hal yang jelas ucapan Ketua DPD membuat isu ini meluas dari sekadar penanganan bencana menjadi pembicaraan tentang identitas nasional dan arah politik luar negeri Indonesia.***




