POJOKSATU.ID - Tragedi kebakaran Gedung Terra Drone di Jakarta Pusat kembali menjadi sorotan tajam setelah fakta baru terungkap terkait pergerakan para pegawai sesaat setelah api muncul.
Alih-alih berlari ke luar gedung, sebagian besar justru naik ke lantai atas, sebuah keputusan yang akhirnya membuat mereka terjebak dalam asap pekat hingga 22 orang meregang nyawa.
Menurut hasil penyelidikan awal dan keterangan saksi, api diduga bermula dari baterai yang tersimpan di lantai 1.
Baca Juga: Akhirnya Terjawab! THR TPG 100 Persen dan Gaji ke-13 2025 Dipastikan Cair Serentak
Ledakan kecil disusul percikan api terjadi di area gudang yang menjadi tempat penyimpanan baterai drone dan perangkat berdaya tinggi.
Dalam kurang dari satu menit, asap tebal memenuhi koridor bawah dan membuat pegawai di lantai dua serta tiga panik.
Di sinilah misterinya, banyak karyawan memilih naik, bukan turun. Namun, penyebabnya ternyata bukan sekadar kepanikan.
Baca Juga: Bank BJB dan Bayer Raih Penghargaan Pemkot Depok Berkat Konsistensi Program CSR
Mereka menyebut jalur evakuasi utama di bagian tengah gedung langsung diselimuti asap hitam.
Koridor itu adalah akses utama menuju pintu keluar, sehingga ketika asap masuk lebih dulu, para pegawai tidak lagi bisa melihat apa pun di depan mereka.
Beberapa saksi yang selamat menyebut asap masuk lebih cepat daripada api. “Kami tidak bisa melihat apa-apa.
Baca Juga: Banten Unjuk Gigi di Hakordia 2025, Arak-Arakan Anti Korupsi Jadi Sorotan
Asapnya menusuk mata dan panas sekali. Orang-orang berteriak, kami pikir ke atas lebih aman,” ujar salah satu pegawai.
Keputusan itu ternyata menjadi titik fatal, karena lantai atas terhubung dengan ruang tertutup tanpa ventilasi memadai.
Asap kemudian naik mengikuti aliran udara dan mengurung mereka di ruangan kecil tanpa jalan keluar.
Petugas pemadam kebakaran yang tiba di lokasi mengakui bahwa korban ditemukan di lantai-lantai tinggi dalam kondisi lemas akibat kekurangan oksigen, bukan terbakar.
Artinya, para pegawai terperangkap lebih karena tidak adanya jalur evakuasi alternatif, bukan karena mereka salah mengambil keputusan.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius mengenai kesiapan gedung dalam menghadapi situasi darurat.
Baca Juga: Upah 2026 Masih Misteri, Pemkot Serang Angkat Tangan Tunggu Aturan Pusat
Para ahli keselamatan menilai bahwa gedung bertingkat seharusnya memiliki jalur evakuasi terpisah, sistem ventilasi asap, dan alarm kebakaran yang bekerja otomatis.
Jika satu jalur tertutup asap, jalur lain seharusnya dapat digunakan.
Selain itu, tidak sedikit perusahaan yang mengabaikan pelatihan evakuasi rutin.
Para pegawai Terra Drone diduga tidak memiliki pemahaman memadai mengenai jalur keluar lain di luar tangga utama.
Minimnya edukasi keselamatan memperburuk situasi dalam hitungan menit.
Hingga kini, aparat masih menyelidiki apakah ada pelanggaran keselamatan kerja atau kelalaian manajemen dalam menyiapkan prosedur evakuasi.
Namun fakta bahwa puluhan pegawai terjebak di lantai atas menunjukkan bahwa sistem proteksi kebakaran gedung tersebut tidak bekerja sebagaimana mestinya.
Tragedi ini menjadi pengingat bahwa keselamatan gedung tidak boleh dianggap formalitas.
Keputusan naik ke lantai atas memang tampak keliru, namun pada kenyataannya, mereka tidak punya pilihan lain karena jalur evakuasi utama sudah berubah menjadi lorong kematian.***




