POJOKSATU.id– Tragedi kebakaran di Gedung Terra Drone, Kemayoran, Jakarta Pusat.
Menyisakan pertanyaan besar bagaimana sebuah kebakaran yang dimulai dari lantai 1 dapat menewaskan 20 orang yang berada di lantai 3 hingga 6?
Jawabannya bukan hanya soal besarnya api, melainkan soal kecepatan asap yang jauh melampaui kesiapan sistem evakuasi gedung tersebut.
Data keterangan resmi Damkar menunjukkan pola yang sama asap memenuhi gedung dalam hitungan menit, sementara jalur evakuasi tidak mampu menjadi penyelamat.
Di titik inilah tragedi berlangsung.
Asap yang Bergerak Lebih Cepat dari Api
Baca Juga: Mengupas Gedung Terra Drone Kemayoran, Pusat Operasional Drone yang Berujung Tragedi Kebakaran Maut
Menurut laporan resmi, kebakaran bermula dari baterai drone yang tersimpan di lantai 1.
Baterai lithium memang dikenal memiliki risiko tinggi karena mudah memicu ledakan kecil dan menghasilkan asap beracun saat terbakar.
Ketika api muncul, beberapa karyawan mencoba memadamkan, namun justru asap yang lebih dulu menyebar ke atas.
Baca Juga: Kesaksian Warga Sekitar Gedung Terra Drone: Sedih Banget, Kantong Jenazah Terus Datang
Damkar menyebut mayoritas korban tewas bukan karena terbakar, tetapi akibat kehabisan oksigen dan paparan asap tebal.
Asap dari baterai lithium membawa partikel berbahaya yang menyebabkan sesak napas hanya dalam hitungan detik.
Ketika asap memasuki lorong dan tangga darurat, ruang-ruang itu berubah menjadi perangkap.
Lantai 3–6 Menjadi Titik Terjebak Terbesar
Baca Juga: Kesaksian Warga Sekitar Gedung Terra Drone: Sedih Banget, Kantong Jenazah Terus Datang
Korban ditemukan di berbagai titik lantai atas. Tirto mencatat bahwa mereka terjebak ketika mencoba mencari jalur aman menuju tangga darurat.
Namun asap yang naik dari bawah bergerak lebih cepat daripada langkah kaki manusia.
Jalur evakuasi yang seharusnya menjadi rute penyelamatan justru dipenuhi asap hanya beberapa menit setelah api muncul.
Baca Juga: Ketua Koperasi Apresiasi Program Pendanaan BTN Syariah
Karena gedung ini bertingkat tujuh, struktur vertikalnya mempercepat pergerakan asap ke lantai atas.
Ventilasi, tangga, dan lorong dalam gedung berfungsi tidak lebih dari corong yang mengalirkan asap ke seluruh bagian gedung.
Dalam kondisi ini, mereka yang berada di lantai tinggi tidak lagi memiliki banyak pilihan.
Sebagian berusaha menuju jendela, sebagian mencoba bertahan di ruangan, dan sebagian mencari tangga lain.
Baca Juga: Dosen UGM Raih Best Greenship Innovation 2025, Jadi Model Bangunan Kayu Rendah Emisi
Namun kecepatan asap dari baterai lithium mengalahkan apa pun yang dapat dilakukan karyawan saat itu.
Sistem Evakuasi yang Tak Mampu Mengimbangi Situasi
Hingga kini belum ada keterangan rinci tentang alarm kebakaran gedung tersebut, namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa evakuasi tidak berjalan sinkron dengan kecepatan penyebaran asap.
Laporan dari Kumparan dan Liputan6 menunjukkan bahwa sebagian besar korban tidak berhasil meninggalkan lantai atas sebelum asap memenuhi ruangan.
Damkar tiba sekitar pukul 12.43 WIB, hanya beberapa menit setelah laporan masuk. Namun korban sudah banyak yang terjebak.
Baca Juga: Kesaksian Warga Sekitar Gedung Terra Drone: Sedih Banget, Kantong Jenazah Terus Datang
Petugas kemudian melakukan evakuasi dramatis via jendela dan tangga hidrolik, namun bagi sebagian korban, bantuan datang terlambat.
Tragedi ini menunjukkan bahwa gedung yang menyimpan material berisiko tinggi seperti baterai lithium.
Membutuhkan standar keselamatan khusus, termasuk sistem deteksi asap yang lebih sensitif, jalur evakuasi bebas asap, hingga ruang aman (safe room) bagi pekerja.
Baca Juga: Dosen UGM Raih Best Greenship Innovation 2025, Jadi Model Bangunan Kayu Rendah Emisi
Kebakaran di Gedung Terra Drone mengungkap fakta penting bahwa dalam peristiwa kebakaran modern, asap sering menjadi pembunuh utama, bukan api.
Ketika sistem evakuasi, ventilasi, dan jalur tangga tidak dirancang untuk menghadapi kebakaran yang berkembang cepat.
Setiap lantai dapat berubah menjadi ruang tanpa oksigen.
Peristiwa ini menjadi alarm bagi banyak gedung perkantoran lain di Indonesia yang mungkin menyimpan perangkat berisiko serupa.
Baca Juga: Mengupas Gedung Terra Drone Kemayoran, Pusat Operasional Drone yang Berujung Tragedi Kebakaran Maut
Inovasi teknologi seharusnya berjalan seiring dengan standar keselamatan yang ketat, agar gedung tidak berubah menjadi perangkap bagi orang-orang yang bekerja di dalamnya.***




