POJOKSATU.id - Paviliun CLT Nusantara kembali menjadi perbincangan hangat setelah resmi meraih Best Greenship Innovation pada ajang Greenship Awards 2025.

Penghargaan ini menegaskan posisi UGM sebagai kampus yang serius mendorong konsep bangunan ramah lingkungan berbasis kayu rendah emisi.

Rumah kayu inovatif hasil kolaborasi tim riset Prof. Dr. Ali Awaludin bersama mitra industri ini dinilai menghadirkan model konstruksi masa depan.

Baca Juga: Ketua Koperasi Apresiasi Program Pendanaan BTN Syariah

Penggunaan material yang terbarukan, konsep energi bersih, serta penerapan teknologi pintar membuat paviliun ini dinilai punya nilai keberlanjutan tinggi untuk konteks Indonesia.

Paviliun Riset yang Jadi Sorotan Internasional
Berdiri di Taman Manufaktur Fakultas Teknik UGM, Paviliun CLT Nusantara telah dikunjungi berbagai mitra dari lima benua.

Dikutip dari portal resmi UGM pada Selasa (9/12/2025), sejak diresmikan Dekan FT UGM Prof. Selo pada 23 Agustus 2024, bangunan ini menjadi pusat perhatian akademisi hingga tamu internasional.

Baca Juga: Mengupas Gedung Terra Drone Kemayoran, Pusat Operasional Drone yang Berujung Tragedi Kebakaran Maut

Ali bahkan menyebut paviliun ini bukan hanya ruang pertemuan, tetapi juga laboratorium inovasi konstruksi berkelanjutan.

Di dalamnya, teknologi kayu terintegrasi dengan panel surya, smart lighting, serta IoT smart garden yang mendukung prinsip nol emisi.

Kombinasi ini membuatnya tampil sebagai contoh nyata bangunan yang efisien, bersih, dan adaptif terhadap kebutuhan masa depan.

Baca Juga: Momen Pegawai Memanjat Tangga Tipis Selamatkan Diri, Kebakaran Terra Drone Renggut 22 Nyawa

Kayu Akasia dan Teknologi CLT Sesuai Iklim Indonesia
Ali memaparkan bahwa Paviliun CLT Nusantara dibangun menggunakan kayu akasia, jenis pohon fast growing yang kuat, tahan jamur, dan mudah diperbarui.

Teknologi Cross-Laminated Timber (CLT) yang digunakan juga telah melalui proses reverse engineering agar sesuai dengan iklim tropis dan karakter material Indonesia.

Struktur kayu akasia yang ramping diperkuat dengan alat sambung lokal berbasis CLT sehingga menghasilkan bangunan yang tahan guncangan, efisien, sekaligus mampu menyimpan karbon.

Baca Juga: Kebakaran Landa Ruko Perkantoran di Cempaka Baru, Jakarta Pusat: 20 Korban Dikabarkan Meninggal

Berawal dari Eksperimen Sederhana
Proyek ini merupakan hasil kolaborasi peneliti dari UGM, ITB, dan Polman Bandung.

Menariknya, riset awalnya dimulai dari eksperimen sederhana menggunakan lakban dan kayu akasia sebelum berkembang menjadi prototipe berskala nasional.

Meski begitu, Ali menegaskan bahwa paviliun ini bukan ditujukan sebagai hunian massal, melainkan ruang edukatif seperti sekolah dasar, SMP, hingga area belajar publik.

Baca Juga: Tragedi Mencekam Kemayoran Diperkirakan 20 Nyawa Melayang dalam Sekejap di Gedung Terra Drone

Konsep ini diharapkan memberi pengalaman langsung kepada generasi muda untuk mengenal ecological material dan praktik bangunan berkelanjutan yang selama ini hanya mereka lihat dalam teori.

Selaras Target Nol Emisi Indonesia
Ali juga menyinggung bahwa inovasi bangunan kayu memiliki peran penting dalam mendukung target nol emisi Indonesia pada 2026.

Struktur kayu mampu menyerap karbon, perawatannya efisien, dan usia bangunan bisa panjang selama dirawat dengan benar. Menurut Ali, kayu cukup dijaga agar tetap kering dan diberi coating ulang dua kali setahun.

Baca Juga: Update Kebakaran Ruko Terra Drone, Petugas Akui Kesulitan Evakuasi 20 Jenazah dari Lantai 7

Bagi Ali, Paviliun CLT Nusantara adalah ruang kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan industri untuk mendorong adopsi konstruksi hijau.

Ia berharap UGM segera memperluas penerapan konsep ini agar dapat menginspirasi kampus lain di Indonesia. Ia bahkan mencontohkan UBC Vancouver dan NTU Singapura yang sudah lebih dulu membangun gedung bertingkat dari kayu. ***