POJOKSATU.ID - Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem, melukiskan kondisi memprihatinkan pasca banjir bandang dan longsor yang mengguncang berbagai wilayah.
Dari pantauannya langsung di lapangan, Aceh Tamiang disebut sebagai daerah dengan kerusakan paling brutal, bahkan digambarkan “hancur habis dari atas sampai bawah”.
Aceh Tamiang hancur habis, atas sampai bawah, sampai jalan, sampai ke laut habis semuanya.
"Yang paling terpuruk adalah Aceh Tamiang,” ungkap Mualem, dikutip dari Tirto.id, 6 Desember 2025.
Baca Juga: Rembesan Air Laut Mengganas! Tanggul Penjaringan Nyaris Runtuh, Warga Menjerit Tak Dibantu
Pernyataan itu merangkum betapa seriusnya kerusakan di lapangan.
Banjir bandang bukan hanya merendam rumah penduduk, tetapi juga menyeret kampung-kampung, merobohkan infrastruktur, dan menghapus akses vital menuju sejumlah wilayah.
Laporan di lapangan menunjukkan reruntuhan rumah kayu tersapu bersih, dan banyak desa tak lagi tampak bentuk aslinya.
Menurut Mualem, empat wilayah terdampak paling parah—Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, dan sebagian Bireuen mengalami kerusakan ekstrim.
Banyak rumah warga, terutama yang berkontruksi kayu, rata dengan tanah atau hanyut tanpa jejak.
Sejumlah kampung dilaporkan hilang akibat terseret arus deras.
“Itu yang paling kita sesalilah. Tapi apa boleh buat itu bencana alam,” ucapnya, dengan nada pasrah.
Namun sikap pasrah itu justru mengundang kritik dari publik yang menilai pemda terlalu lambat bereaksi dan terlalu banyak menyerahkan narasi pada “takdir”.
Distribusi bantuan kini menjadi pekerjaan besar. Pemerintah mengaku berupaya memaksimalkan suplai logistik.
Namun Mualem sendiri mengakui hambatan besar karena akses jalan terputus di berbagai titik.
Kondisi ini membuat sejumlah wilayah terisolasi dan sulit dijangkau tim penyelamat.
“Air bersih, sembako, pakaian, apa saja mereka mau pasti kita penuhi. Tapi aksesnya yang parah. Weuh hate (sedih hati), parah sekali banyak korban jiwa,” kata Mualem.
Baca Juga: 3 Hari Menyusuri Lumpur, Anaknya Tak Kunjung Ditemukan, Jeritan Siska Guncang Padang!
Pengakuan itu memperlihatkan bahwa pemerintah daerah masih kesulitan melakukan penanganan cepat.
Terutama di daerah-daerah terpencil yang kini tertutup endapan lumpur tebal serta reruntuhan rumah.
Kerusakan masif itu juga diikuti korban jiwa yang terus bertambah.
Banyak warga masih dinyatakan hilang, dan evakuasi berjalan lambat karena tim penyelamat harus menembus jalur-jalur yang terputus.
Baca Juga: Puluhan Calon PPPK Bangkalan Mundur Massal! Padahal NIP Sudah Terbit, Ada Apa Sebenarnya?
Situasi ini memicu kecemasan mendalam di tengah masyarakat yang kini berlindung di tenda darurat.
Mualem menyebut beberapa kabupaten dalam kondisi “urgent sekali”, menggambarkan betapa daruratnya situasi yang kini tak hanya soal kerusakan fisik.
Tetapi juga hidup-mati warga yang terjebak dalam kondisi terisolasi.
Dengan kerusakan yang sedemikian luas, publik menuntut pemerintah bergerak lebih cepat.
Bencana di Aceh kali ini bukan sekadar banjir musiman ini adalah kehancuran masif.
Yang menyisakan pekerjaan panjang dalam hal pemulihan, penanganan, hingga investigasi penyebab utamanya.***




