POJOKSATU.id – Rekrutmen PPPK Badan Gizi Nasional (BGN) tahun 2025 dibuka dengan ketersediaan kuota tenaga PPPK yang sangat besar.
Di Tahun Anggaran ini, rekrutmen PPPK BGN 2025 membuka total 32.000 formasi yang disiapkan untuk memperkuat lini tugas BGN, terutama layanan operasional yang menjadi tulang punggung kegiatan harian lembaga tersebut.
Di formasi khusus, sebanyak 31.250 formasi sepenuhnya dialokasikan untuk jabatan Penata Layanan Operasional dengan kualifikasi pendidikan S-1 atau D-IV semua jurusan.
Sementara itu, 750 formasi umum terbagi dalam empat kualifikasi utama, yaitu 300 formasi Penata Layanan Operasional untuk lulusan S-1 Ilmu Gizi atau D-IV Gizi dan Dietetika, 300 formasi Penata Layanan Operasional untuk lulusan S-1/D-IV Akuntansi.
Kemudian 75 formasi Pengelola Layanan Operasional untuk lulusan D-III Akuntansi, serta 75 formasi Pengelola Layanan Operasional untuk lulusan D-III Gizi.
Formasi-formasi ini disiapkan untuk memperkuat kompetensi teknis di bidang gizi dan tata kelola keuangan sesuai kebutuhan inti BGN.
Namun, banyak pelamar yang belum mengetahui, apa sebenarnya fungsi dua jabatan ini di BGN?
Dilihat dari formasi yang ditetapkan, fungsi Penata Layanan Operasional menjadi kebutuhan paling besar, sedangkan Pengelola Layanan Operasional lebih diarahkan pada bidang yang membutuhkan manajemen operasional spesifik.
Pertimbangan Latar Pendidikan
Dari formasi yang dibuka dalam rekrutmen PPPK BGN 2025, ada latar keahlian pendidikan yang dibutuhkan untuk menjalankan kelembagaan dalam mengkoordinasikan dan melaksanakan tugas pemenuhan gizi di tingkat nasional.
Salah satunya adalah penyediaan Makan Bergizi Gratis atau MBG yang bertujuan untuk menyediakan makanan bergizi seimbang secara gratis bagi siswa di sekolah umum, pesantren, serta kelompok rentan lainnya seperti lansia, pemulung, dan ibu hamil/menyusui.
Untuk mencapai tujuan nasional itu, memang membutuhkan tenaga ahli yang penting setingkat PPPK. Bukan dengan cara melatih lulusan SMA atau fresh graduate yang dilatih 3 bulan.
Perlu diketahui, latar keahlian S1 Gizi maupun D IV Gizi dan Dietetika pada dasarnya berada dalam rumpun yang sama, yaitu ilmu gizi.
Keduanya menyiapkan lulusan untuk bekerja di bidang pelayanan gizi, dietetika, intervensi gizi masyarakat, hingga pengelolaan layanan gizi di fasilitas kesehatan maupun instansi pemerintah.
Sedangkan S1 Akuntansi dan D IV Akuntansi termasuk dalam rumpun keahlian akuntansi.
Keduanya diakui sebagai kualifikasi yang relevan untuk formasi yang membutuhkan kompetensi:
- Pengelolaan keuangan
- Penyusunan laporan keuangan
- Audit dan verifikasi
- Pengendalian internal
- Administrasi keuangan dan penatausahaan
BGN membutuhkan lulusan S1 Gizi, D IV Gizi & Dietetika, S1 Akuntansi, dan D IV Akuntansi karena lembaga ini menjalankan dua fungsi besar sekaligus dalam teknis gizi dan tata kelola kelembagaan.
Keahlian yang Dibutuhkan
Pada sisi teknis, tenaga gizi menjadi ujung tombak pelaksanaan program nasional, mulai dari intervensi gizi masyarakat, edukasi gizi, hingga pemantauan status gizi di berbagai daerah.
Tanpa tenaga ahli gizi, program perbaikan gizi keluarga dan pencegahan stunting yang menjadi mandat utama BGN tidak bisa berjalan.
Selain itu, lulusan D IV Gizi & Dietetika dibutuhkan untuk aspek yang lebih spesifik seperti penyusunan standar layanan gizi, terapi diet, serta pengelolaan unit layanan gizi yang menjadi bagian dari penguatan kualitas pelayanan.
Mereka berperan memastikan bahwa seluruh pedoman teknis, pengawasan lapangan, dan evaluasi layanan gizi berjalan sesuai standar nasional.
Sedangkan kebutuhan lulusan S1 dan D IV Akuntansi dibutuhkan karena BGN mengelola anggaran besar untuk program gizi berskala nasional.
Tenaga akuntansi berperan mengawal penyusunan anggaran, penatausahaan, pelaporan keuangan, verifikasi dokumen, hingga pengendalian internal agar seluruh penggunaan anggaran program berjalan transparan dan akuntabel.
Dengan formasi mencapai 32.000 orang, keberadaan tenaga akuntansi menjadi kunci menjaga tertib administrasi dan keuangan di seluruh unit kerja BGN.
Penata Layanan Operasional
Penata Layanan Operasional adalah jabatan pelaksana yang bertanggung jawab pada pekerjaan administratif dan teknis sehari-hari.
Di BGN, posisi ini punya peran krusial karena berhubungan langsung dengan ketertiban dokumen, kelancaran layanan, serta keteraturan data lembaga.
Tugasnya antara lain mengelola surat masuk dan keluar, mengatur kearsipan, menjaga data agar tertata, membantu penyusunan laporan, hingga menjalankan berbagai layanan administratif yang memastikan roda organisasi tetap berputar.
Alurnya harus rapi karena setiap unit di BGN butuh dukungan administratif yang solid, agar program berjalan tanpa hambatan.
Dalam praktiknya, Penata Layanan Operasional adalah pihak yang memastikan seluruh dokumen, proses administrasi, dan layanan teknis tidak macet.
Ini pekerjaan dasar yang memengaruhi unit hulu hingga hilir.
Pengelola Layanan Operasional
Berbeda dengan Penata, Pengelola Layanan Operasional memegang peran yang lebih mengarah pada pengaturan alur kerja, koordinasi unit, serta manajemen operasional.
Bila Penata lebih banyak menjalankan tugas teknis sehari-hari, Pengelola memastikan seluruh alur layanan operasional berjalan sesuai standar dan terarah.
Tugasnya meliputi menyiapkan alur layanan, mengatur pembagian kerja, memonitor kegiatan operasional, menilai apakah standar layanan sudah terpenuhi, hingga menyusun laporan evaluasi beserta rekomendasi perbaikan.
Di BGN, posisi ini sangat dibutuhkan untuk memastikan pelaksanaan program gizi nasional tidak hanya berjalan, tetapi juga efisien, sinkron antar-unit, dan memiliki jejak laporan yang akurat.
Tanpa posisi ini, proses koordinasi bisa terhambat.
Eksekusi Harian dan Manajemen Layanan
Baik itu Penata Layanan Operasional maupun Pengelola Layanan Operasional, keduanya memang berada dalam rumpun operasional, namun perannya berbeda.
Penata bertugas mengeksekusi pekerjaan teknis administratif sehari-hari.
Pengelola mengatur, mengoordinasikan, dan mengawasi alur pelayanan agar tetap sesuai standar.
Sedangkan Penata memastikan pekerjaan berjalan; Pengelola memastikan pekerjaan berjalan dengan benar dan efisien.
Keduanya saling menguatkan, dan karena itu keberadaan dua posisi ini menjadi kombinasi ideal dalam mendukung operasional BGN yang cakupannya sangat luas.
Melihat skala program BGN dan kebutuhan administratif yang besar, wajar jika formasi Penata dan Pengelola Layanan Operasional mendapat porsi besar di tahun ini.
Untuk pelamar yang suka kerja terstruktur, detail, dan mendukung layanan publik dari balik layar, dua posisi ini bisa menjadi pijakan karier yang menjanjikan dalam sistem pemerintahan. ***




