POJOKSATU.ID - Dalam upaya konkret membantu korban bencana banjir di Sumatra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menunjukkan empati dan tanggung jawab sosial.
UPI memutuskan membebaskan biaya kuliah (UKT) seorang mahasiswi korban tragis banjir bandang, serta menawarkan dukungan psikologis dan akademik sebuah tindakan yang patut diapresiasi.
Mahasiswi yang mendapatkan program bantuan ini adalah Olivia Yuliana seorang mahasiswa yang kehilangan kedua orang tua dan dua saudaranya akibat bencana banjir baru-baru ini di Sumatra.
Dengan keputusan UPI, secara penuh biaya kuliahnya dibebaskan sampai ia menyelesaikan masa studi. Langkah ini menjadi harapan nyata bagi Olivia di tengah duka mendalam yang tengah ia tanggung.
Tak hanya memberikan keringanan finansial, UPI juga memastikan bahwa Olivia mendapatkan pendampingan psikologi serta dukungan administrasi akademik lewat kantor urusan mahasiswa.
Hal ini penting kehilangan keluarga dalam tragedi seperti banjir bukan hanya meninggalkan luka materi tetapi juga trauma batin dan beban emosional.
Dengan pendampingan yang tepat, diharapkan Olivia dapat terus menempuh pendidikan tanpa harus terbebani rasa duka yang mendalam.
Baca Juga: 20 Jurusan Kuliah Punya Prospek Cerah hingga 2030, Mau di Luar atau di Dalam Negeri, Simak Dulu Ini
Universitas juga menyatakan akan terus mengumpulkan data untuk mengidentifikasi apakah ada mahasiswa lain yang terdampak bencana serupa.
Bila ditemukan, UPI menegaskan bahwa kebijakan serupa akan diperluas agar tak ada mahasiswa korban yang terabaikan.
Komitmen ini menunjukkan kepedulian UPI terhadap mahasiswa sebagai individu bukan sekadar pelajar serta tanggung jawab sosial institusi pendidikan terhadap kondisi darurat di luar kampus.
Baca Juga: DPR Ngamuk! Menteri di Filipina Mundur Gara-Gara Banjir, Raja Juli: Saya Siap Dievaluasi
Langkah UPI mendapat sambutan hangat dari berbagai pihak, termasuk komunitas mahasiswa, alumnus, dan masyarakat umum.
Banyak yang menilai bahwa tindakan tersebut mencerminkan nilai-nilai solidaritas bahwa di saat krisis, pendidikan tidak boleh menjadi beban tambahan.
Apresiasi pun mengalir, sekaligus menjadi pengingat bagi institusi pendidikan lain untuk mengambil peran sosial yang proaktif saat bencana terjadi.
Baca Juga: Reformasi TPG 2026! Pembayaran Bulanan Dijanjikan, Tapi Apakah Budaya Telat Bisa Benar-Benar Hilang?
Bagi Olivia, dukungan tersebut berarti lebih dari sekadar gratis biaya kuliah ini adalah bentuk perdamaian dan kesempatan untuk bangkit.
Ia bisa meneruskan studi tanpa beban materi, fokus pada pemulihan diri, serta mendapatkan dukungan emosional dari kampus.
Momen ini bisa jadi titik balik dalam hidupnya, dari duka menuju harapan baru.
Sementara itu, mahasiswa dan keluarga korban di wilayah terdampak bencana menyampaikan harapan besar bahwa kebijakan seperti UPI akan terus dijalankan.
Bahwa negara maupun instansi pendidikan tidak menutup mata terhadap penderitaan warga terdampak.
Mereka berharap tindakan nyata, bukan sekadar wacana solidaritas.
Di tengah duka akibat banjir, keputusan UPI menunjukkan bahwa empati dan tanggung jawab sosial bisa diwujudkan lewat aksi nyata.
Universitas menunjukkan bahwa pendidikan dan kemanusiaan bisa berjalan beriringan bahkan di saat taufan menerjang.
Semoga langkah ini menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan lain di Indonesia untuk turut hadir bagi korban bencana, dan membantu mengurangi beban mereka di masa sulit.***




