POJOKSATU.id — Jakarta kembali dibuat deg-degan setelah sebuah tanggul laut
Di kawasan Pelindo Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, mengalami kebocoran pada Kamis, 4 Desember 2025.
Insiden itu terjadi saat permukaan air laut mencapai 211 sentimeter, salah satu level tertinggi yang tercatat dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Bukan Guru! Ini Formasi Paling Dibutuhkan PPPK Tendik Sekolah Rakyat 2025
Tekanan air yang begitu besar membuat struktur tanggul kewalahan hingga muncul celah yang langsung diserbu air laut.
Situasi cepat berubah menjadi dramatis. Dalam hitungan menit, petugas Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Utara bergegas ke lokasi.
Mereka membawa ratusan karung pasir untuk menghentikan laju air yang mengalir melalui celah tanggul.
Baca Juga: Jakarta Tenggelam 9 cm Setahun, Fakta Mengerikan di Balik Banjir Rob 2025 yang Terus Mengintai!
Total 500 karung pasir dilempar satu per satu sebagai upaya darurat agar kawasan Muara Baru terhindar dari rob besar yang bisa meluas hingga ke permukiman warga.
Warga setempat ikut dibuat panik. Banyak yang sudah bersiap-siap mengangkat barang berharga ke bagian rumah yang lebih tinggi.
Beberapa orang bahkan sempat mengira tanggul benar-benar jebol.
Baca Juga: Menjelang Pleno 9 Desember, PBNU Terbelah Dua, Siapa Penguasa Sah?
Meski akhirnya berhasil dikendalikan, insiden ini menyisakan pertanyaan besar: seberapa kuat benteng Jakarta menahan gempuran laut?
Fenomena pasang tinggi seperti yang terjadi di Muara Baru bukanlah kejadian langka.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sudah memperingatkan adanya potensi rob akibat fase bulan purnama yang meningkatkan tinggi gelombang.
Namun kombinasi rob ekstrem dengan kondisi daratan Jakarta Utara yang terus turun setiap tahun membuat ancaman ini semakin nyata.
Baca Juga: Bukan Guru! Ini Formasi Paling Dibutuhkan PPPK Tendik Sekolah Rakyat 2025
Di sejumlah titik, penurunan permukaan tanah bisa mencapai 10 hingga 15 cm per tahun.
Artinya, meski tanggul sudah ditinggikan, permukaan tanah yang turun terus membuat struktur pertahanan harus bekerja ekstra menahan tekanan laut.
Kebocoran di Muara Baru menjadi contoh betapa rentannya wilayah pesisir Jakarta.
Baca Juga: Internet Rakyat Surge Resmi Meluncur! Internet Unlimited 100 Mbps Cuma Rp100 Ribu
Pemprov DKI menyatakan bahwa penambalan yang dilakukan masih bersifat sementara.
Rencana perbaikan permanen dijadwalkan berlangsung pada 2026, menyusul evaluasi teknis untuk memperkuat titik rawan.
Pemerintah memastikan bahwa seluruh tanggul di pesisir utara akan diperiksa ulang demi meminimalkan risiko kejadian serupa.
Baca Juga: Bukan Guru! Ini Formasi Paling Dibutuhkan PPPK Tendik Sekolah Rakyat 2025
Namun para ahli hidrologi mengingatkan bahwa insiden ini adalah alarm keras.
Bahkan bila tanggul diperkuat, Jakarta tetap menghadapi ancaman besar dari kombinasi kenaikan muka air laut, penurunan tanah, dan curah hujan ekstrem.
Tanpa pengelolaan air yang lebih baik, pengurangan eksploitasi air tanah, serta perlindungan ekosistem pesisir seperti mangrove, risiko rob di masa depan bisa semakin sering terjadi.
Kebocoran tanggul Muara Baru menjadi pengingat bahwa pertarungan Jakarta melawan laut belum selesai.
Jika satu celah kecil saja mampu membuat seluruh kawasan waspada, maka kota ini butuh solusi lebih menyeluruh daripada sekadar tambalan darurat.
Warga pesisir kini hanya bisa berharap agar cuaca lebih bersahabat, tanggul tetap kokoh, dan pemerintah bergerak cepat memperkuat seluruh garis pantai Jakarta.
Baca Juga: Bukan Guru! Ini Formasi Paling Dibutuhkan PPPK Tendik Sekolah Rakyat 2025
Sebab bagi mereka, setiap pasang tinggi adalah ancaman yang bisa berubah menjadi bencana kapan saja.***




