POJOKSATU.ID - Di tengah suasana duka yang menyelimuti Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) akibat bencana, sebuah kisah memilukan sekaligus memancing amarah publik mencuat ke permukaan.
Saat warga masih berjibaku dengan evakuasi, lumpur, dan kehilangan, justru muncul oknum yang memanfaatkan situasi darurat untuk kepentingan pribadi.
Sebuah keluhan disampaikan salah seorang warga yang mobilnya dihalangi ketika hendak melewati jalan di salah satu titik terdampak.
Ia menuturkan bahwa jalur tersebut sengaja ditutup menggunakan tumpukan sampah dan balok kayu.
Bukan untuk mitigasi, bukan untuk keselamatan, melainkan sebagai syarat agar pengendara membayar biaya tertentu jika ingin lewat.
Menurut pengakuannya, mobil yang ia tumpangi tidak diizinkan melintas sebelum memberikan uang sebesar Rp30 ribu.
Baca Juga: Bernuansa Tropis di Bali, Seminyak dan Kuta Beach Party, Selalu Pecah Tiap Pergantian Tahun
Ia mengungkapkan kekecewaan mendalam, terlebih karena kondisi Tapteng masih dalam masa pemulihan dan banyak keluarga sedang berjuang untuk bertahan.
“Di saat Tapteng berduka, masih ada yang tega menutup jalan pakai sampah dan kayu. Mobil kami tak boleh lewat sebelum bayar Rp30 ribu. Begini kah cara memperlakukan sesama?” ujarnya dengan nada kecewa. dilansir dari instagram @voktis.id
Kejadian ini sontak menuai sorotan karena kondisi di lapangan seharusnya menjadi ruang solidaritas, bukan kesempatan untuk melakukan pungutan liar.
Warga lainnya juga menyampaikan keresahan serupa.
Baca Juga: Bukan Hanya Tanjung Priok dan Sekitarnya, Banjir Rob Juga Terjadi di Kepulauan SeribuBaca Juga: Bukan Hanya Tanjung Priok dan Sekitarnya, Banjir Rob Juga Terjadi di Kepulauan Seribu
Mereka menilai bahwa tindakan seperti ini tidak hanya meresahkan, tetapi juga memperlambat distribusi bantuan dan pergerakan relawan yang tengah melakukan penanganan darurat.
Bencana yang melanda Tapteng telah mengakibatkan sejumlah akses terputus dan menyulitkan mobilitas masyarakat.
Dalam kondisi seperti itu, setiap jalan yang terbuka seharusnya digunakan secara optimal untuk memudahkan pengiriman logistik dan evakuasi.
Penutupan jalan secara sengaja hanya menambah beban dan memperparah situasi yang sudah sulit.
Banyak warga berharap tindakan tegas diberikan kepada siapa pun yang mencoba mengambil keuntungan di tengah penderitaan.
Mereka menegaskan bahwa bencana bukan ajang mencari keuntungan, apalagi dengan memungut uang dari orang-orang yang sedang berusaha membantu atau menyelamatkan diri.
Insiden ini juga memicu diskusi lebih luas mengenai pentingnya pengawasan aparat dan pemerintah setempat.
Baca Juga: Terang yang Mengubah Hidup: Ketika Sambungan Listrik Gratis Hadir di NTT
Dalam kondisi darurat, setiap hambatan kecil bisa berdampak besar pada proses evakuasi maupun penyaluran bantuan.
Karena itu, warga meminta agar aparat turun memastikan jalur-jalur vital tetap aman dan tidak dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Meski demikian, sejumlah warga tetap mengedepankan solidaritas.
Baca Juga: 9 Hari Terisolasi, Warga Aceh Tengah Bangun Helipad Darurat Demi Menunggu Bantuan yang Datang
Mereka berharap kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah bencana, yang paling dibutuhkan adalah kebersamaan dan rasa kemanusiaan.
Bantuan dan dukungan moral jauh lebih dibutuhkan daripada praktik pungli yang memperburuk situasi.***




