POJOKSATU.ID - Sejumlah wilayah di Aceh hingga kini masih belum tersentuh bantuan logistik akibat banjir dan longsor yang melanda daerah tersebut dalam beberapa hari terakhir.
Salah satu yang paling terdampak adalah Kecamatan Linge, Aceh Tengah, yang sampai saat ini masih menunggu kiriman bantuan setelah akses darat mereka terputus total.
Di Dusun Jamat, Kecamatan Linge, warga bahkan terpaksa mengambil langkah ekstrem.
Mereka berinisiatif membangun landasan helikopter atau helipad darurat di tengah desa agar helikopter dapat mendarat dan membawa bantuan.
Upaya itu dilakukan secara swadaya sambil berharap perhatian pemerintah segera tiba.
Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, salah satu warga Linge menceritakan kondisi terkini desa mereka.
Baca Juga: Lahir dari Kas Masjid, Begini Perjalanan 130 Tahun BRI
Ia mengungkapkan bahwa warga sudah terisolasi selama sembilan hari penuh tanpa pasokan logistik yang memadai. dikutip pojoksatu.id dari @ctd.insider (4/12/2025)
Sejumlah warga mulai jatuh sakit sementara akses menuju kota hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama dua hari dua malam.
Kondisi geografis yang berat membuat jalur darat mustahil dilalui kendaraan.
Karena itu, satu-satunya cara agar bantuan bisa menjangkau desa tersebut hanya melalui udara.
Baca Juga: Mulai 2026 TPG Cair Tiap Bulan, Guru Sertifikasi Tak Perlu Lagi Menunggu Rapelan!
Pengiriman bantuan lewat airdrop atau pendaratan helikopter menjadi harapan terakhir warga untuk mendapatkan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan mendesak lainnya.
Helipad yang mereka bangun pun merupakan bentuk usaha agar proses distribusi dari udara dapat berlangsung lebih aman dan efektif.
Kisah pilu warga Linge ini menjadi gambaran bagaimana sejumlah wilayah pedalaman Aceh masih berjuang sendiri pascabencana.
Baca Juga: Heboh LISA UGM Salah Sebut Jokowi! Respons Kampus Lebih Gesit dari Pemerintah
Di tengah minimnya akses dan kondisi medan yang menantang, warga harus memaksakan segala upaya agar kebutuhan hidup tetap terpenuhi.
Mereka menyebut bahwa suara mereka sering kali tak sampai ke pusat informasi karena jarak dan keterputusannya jaringan komunikasi.
Warga yang muncul dalam video tersebut menggambarkan betapa beratnya situasi yang mereka hadapi.
Anak-anak hingga orang lanjut usia mulai menunjukkan tanda-tanda sakit, sementara persediaan makanan semakin menipis.
Mereka khawatir jika bantuan tidak segera datang, kondisi bisa berubah menjadi krisis kemanusiaan.
Ia juga menyampaikan harapannya agar pemerintah segera turun tangan sebelum semuanya terlambat.
Menurutnya, suara kecil dari pelosok Aceh ini bisa saja berubah menjadi kabar duka jika penanganan tidak dilakukan sesegera mungkin.
Pesan itu disampaikan dengan nada penuh kelelahan, menggambarkan betapa gentingnya keadaan di lapangan.
Baca Juga: Banjir Rob Melanda Sejumlah Kawasan di Jakarta Utara
Peristiwa ini membuka mata banyak pihak bahwa infrastruktur dan akses ke sejumlah desa terpencil masih sangat rentan, terutama saat bencana datang tiba-tiba.
Banyak warga berharap upaya penyelamatan dan distribusi logistik dapat segera dipercepat, tidak hanya untuk Linge tetapi juga daerah lain yang mengalami kondisi serupa.***




