POJOKSATU.id – Di tengah bencana banjir besar yang melanda Aceh dan sejumlah wilayah di Pulau Sumatra, sebuah video pendek menyentuh hati publik.

Dalam rekaman itu, terlihat seorang ayah duduk sederhana, hanya menyantap nasi dan buah mangga saja sementara tersedia mie instan dan dua butir telur.

Tapi makanan itu bukan untuk dirinya.

Ia memilih melepas hak makan sendirinya, agar makanan layak bisa dinikmati oleh anak-anaknya.

Baca Juga: Panen Jagung Anggadita Tembus Dua Ton, Polsek Klari Ikut Turun Tangan

Keluarga itu total sembilan orang terpaksa bertahan hidup dalam kondisi serba terbatas.

Sudah tujuh hari mereka berada di tengah banjir, dengan stok logistik yang terus menipis, tanpa tanda-tanda bantuan datang segera.

Pengorbanan sang ayah pun terekam jelas ia rela lapar dan makan seadanya agar anak-anaknya bisa kenyang.

Baca Juga: Korban Butuh Makan dan Rumah, Erick Thohir Malah Janji Bagi-Bagi Alat Olahraga?

Sang perekam video bahkan memasang caption penuh haru, menceritakan bagaimana sang ayah memilih mengalah secara diam-diam  sebuah cinta yang sederhana, namun nyata.

Sejak video itu beredar luas di media sosial, banyak netizen yang ikut bersedih. Mereka mengungkapkan empati dan apresiasi atas ketabahan sang ayah.

Banyak komentar menyebut bahwa sosok itu adalah bukti bahwa ayah sejati akan berkorban untuk keluarganya, bahkan bila dirinya sendiri harus kelaparan.

Baca Juga: Panen Jagung Anggadita Tembus Dua Ton, Polsek Klari Ikut Turun Tangan

 

Distribusi bantuan sempat terhambat karena kondisi wilayah yang terisolir.

Namun pemerintah dan lembaga kemanusiaan telah mulai mendistribusikan bantuan darurat  meski di sejumlah titik.

Warga masih menunggu kedatangan logistik esensial seperti pangan, air bersih, dan bahan bakar.

Baca Juga: Model Baru Bertani, Desa Anggadita Karawang Berhasil Panen Jagung Hibrida

Dalam situasi sulit seperti ini, kisah pengorbanan keluarga seperti ayah dalam video tersebut menjadi simbol hope harapan kecil dari kemanusiaan di tengah bencana.

Kondisi di Aceh dan Sumatra kini krusial wilayah-wilayah terisolasi, akses jalan rusak, suplai logistik terhambat.

Pemerintah dan relawan harus terus mempercepat distribusi bantuan terutama kebutuhan dasar seperti pangan, air bersih, dan tenaga medis.

Baca Juga: Kapolri Lepas Penjarah! Fakta Mengejutkan Kelaparan Massal di Sibolga Bikin Publik Geram

Selain itu, masyarakat luas juga dapat berperan dengan menyebarkan cerita ini, memberi dukungan doa, serta membantu lewat jalur resmi jika memungkinkan.

Karena di tengah bencana, empati dan solidaritas bisa menjadi harapan terbesar bagi mereka yang terpuruk.

Semoga kisah seperti ini membuka mata kita semua  bahwa di balik setiap korban bencana, ada manusia dengan nama, rasa takut, harapan, dan cinta yang sederhana.

Baca Juga: Panen Jagung Anggadita Tembus Dua Ton, Polsek Klari Ikut Turun Tangan

Mari berbagi, membantu, dan menjaga kemanusiaan itu tetap hidup.***