POJOKSATU.ID — Publik kembali gaduh. Bukan soal besarnya banjir di Aceh Tamiang, bukan soal proses evakuasi yang dramatis.
Bukan juga tentang ribuan warga yang kini hidup di tempat pengungsian.
Yang justru menjadi sorotan warga internet adalah stiker berwajah Presiden yang menempel pada bantuan 50 ton sembako yang dikirim pemerintah pusat.
Baca Juga: Geger! Kemensos Bagikan Bantuan Mencapai 25 Miliar bagi Korban Banjir Sumatera! Itu Kewajiban!
Alih-alih merasa terharu dengan cepatnya negara mengirimkan bantuan, masyarakat justru mempertanyakannya.
Bantuan 50 Ton Diberangkatkan Menko AHY
Pada Senin, 1 Desember, Menko Polhukam Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) melepas pengiriman 50 ton bantuan untuk Provinsi Aceh. Bantuan ini terdiri dari:
Baca Juga: Bupati Aceh Utara Menangis Angkat Tangan, Resmi Tak Sanggup Atasi Banjir, Pemerintah Pusat Lambat
40 ton beras dari Kementerian Transmigrasi,
10 ton bantuan dari Kementerian Sosial, berisi mi instan, telur, obat-obatan, dan berbagai kebutuhan darurat lainnya.
Pengiriman dilakukan melalui KRI Sutedi Senoputra-378, yang tiba di Aceh pada Selasa dini hari.
Selanjutnya, bantuan akan didistribusikan oleh Komando Daerah Angkatan Laut (Kodal) I ke wilayah Aceh Tamiang dan daerah terdampak lainnya.
Secara administratif dan logistik, langkah cepat pemerintah patut diapresiasi. Rakyat terdampak banjir memang membutuhkan pasokan makanan dan bantuan medis yang segera.
Namun rupanya, publik melihat hal lain yang sama mencoloknya branding politik yang terasa lebih cepat sampai daripada barang bantuannya sendiri.
Pertanyaan Publik Kenapa Wajah Presiden Ada di Sini?
Di tengah bencana alam yang memaksa ribuan warga mengungsi.
Baca Juga: Geger! Kemensos Bagikan Bantuan Mencapai 25 Miliar bagi Korban Banjir Sumatera! Itu Kewajiban!
muncul perdebatan baru apakah wajar bantuan negara diberi stiker berwajah Presiden?
Netizen berpendapat, bantuan yang dananya berasal dari APBN.
semestinya menggunakan label “Bantuan Pemerintah Indonesia” bukan personalisasi tokoh.
Satire-satire seperti ini bertebaran karena masyarakat merasa kehadiran negara dalam bencana semestinya bersifat institusional, bukan individual.
Baca Juga: Bupati Aceh Utara Menangis Angkat Tangan, Resmi Tak Sanggup Atasi Banjir, Pemerintah Pusat Lambat
Wajah pejabat dianggap tidak relevan ketika warga sedang berjuang untuk bertahan hidup.
Bantuan Cepat, Sorotan Lebih Cepat
Ironisnya, yang menjadi viral justru bukan kondisi para pengungsi atau upaya distribusi dari TNI AL, melainkan stiker tersebut.
Dalam hitungan jam, foto-foto bantuan dengan wajah Presiden tersebar lebih luas daripada update resmi penanganan bencana.
Di sisi lain, publik menegaskan bahwa mereka tidak menolak bantuan.
Justru mereka mengapresiasi langkah cepat pemerintah. Hanya saja, masyarakat ingin batas yang jelas antara kerja kemanusiaan dan kerja pencitraan.
Rakyat Menilai, Stiker Tidak Perlu Ikut Bicara
Pada akhirnya, bantuan 50 ton ini sangat dibutuhkan dan telah tiba di daerah terdampak.
Namun perdebatan tentang stiker memperlihatkan satu hal masyarakat semakin kritis terhadap simbol-simbol politik yang masuk di ruang kemanusiaan.
Bencana seharusnya menghadirkan simpati, bukan strategi branding.
Karena ketika rakyat sedang membutuhkan pertolongan, yang ingin mereka lihat adalah kehadiran negara, bukan siapa yang ingin terlihat hadir.***




