POJOKSATU.ID - Di tengah megahnya gedung pencakar langit dan kawasan premium di jantung ibu kota, masih ada sejumlah jalan kampung di Jakarta Pusat yang kondisinya memprihatinkan.
Puluhan tahun tak pernah tersentuh aspal, jalan-jalan ini menjadi simbol konflik lama antara pembangunan modern dan minimnya perhatian terhadap permukiman padat penduduk.
Warga di beberapa kelurahan mengaku sudah terbiasa hidup dengan jalan berlubang, becek saat hujan, dan berdebu saat kemarau.
Baca Juga: Pertamina Regional JBB Amankan Suplai dan Layanan SPBU KM 57A untuk Puncak Nataru 2025/2026
Di beberapa titik, jalan bahkan hanya berupa tanah keras yang telah dihimpit bangunan lama.
Kondisi itu dirasakan warga Karet Tengsin, Tanah Abang, beberapa bagian Kebon Sirih, hingga permukiman padat di Senen.
Menurut mereka, perbaikan yang pernah dilakukan hanya sekadar tambalan sementara yang tidak menyelesaikan masalah.
Baca Juga: Heboh! Kelaparan Picu Kepanikan Massal, BNPB Akui Warga Sampai Rebut Paksa Logistik
Ironi ini semakin terasa ketika jalan-jalan besar di Jakarta Pusat terlihat mulus dan rapi, mendapat penanganan rutin, sementara lingkungan kampung berada dalam kondisi seperti dilupakan.
Keadaan ini bukan hanya menghambat mobilitas warga, tetapi juga berdampak pada akses pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat yang tinggal di dalamnya.
Aduan sudah berulang kali disampaikan, baik melalui aplikasi pengaduan resmi pemerintah maupun langsung melalui ketua RT dan RW.
Baca Juga: Reformasi ASN di Ujung Tahun! DPR dan Publik Tegaskan, Nasib Honorer dan PPPK Harus Aman
Namun, respons yang datang sering kali sebatas peninjauan lapangan tanpa tindak lanjut besar.
Banyak warga akhirnya merasa pesimis, seolah kampung mereka bukan bagian dari prioritas pembangunan Jakarta.
Kerusakan jalan ini juga menimbulkan persoalan keseharian. Saat hujan, air menggenang karena tidak ada saluran yang memadai.
Motor pun sering tergelincir, terutama pada malam hari ketika pencahayaan minim. Ketika cuaca panas, debu tebal masuk ke rumah-rumah warga dan mengganggu kenyamanan hidup.
Anak-anak harus ekstra hati-hati saat berjalan ke sekolah melewati jalan yang tidak layak.
Warga menilai salah satu penyebab utamanya adalah sempitnya gang dan padatnya bangunan.
Banyak jalan kampung berada di antara rumah yang berhimpitan, membuat alat berat sulit masuk.
Baca Juga: Viral! Bencana Kelaparan di Sumut, Ratusan Warga Menjarah Toko Setelah Bantuan Terlambat
Hal ini sering menjadi alasan penundaan proyek perbaikan secara permanen.
Meski begitu, warga berpendapat bahwa kondisi tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk abai terhadap kebutuhan dasar warga.
Beberapa tokoh masyarakat meminta pemerintah melakukan pendekatan berbeda dalam menangani jalan kampung.
Menurut mereka, perlu ada pemetaan lebih rinci terhadap kondisi jalan lingkungan dan program khusus yang fokus pada perbaikan permukiman lama.
Baca Juga: Evaluasi Ketat Menanti! BKN Ingatkan PPPK, Nasib Kontrakmu Ditentukan Kinerja, Bukan Otomatis!
Sebab tanpa langkah konkret, kampung-kampung itu akan terus berada dalam kondisi memprihatinkan meski berada tepat di tengah ibu kota negara.
Warga berharap agar perhatian pemerintah tidak hanya terpusat pada jalan protokol dan kawasan bisnis, tetapi juga pada infrastruktur dasar yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat kecil.
Mereka menegaskan bahwa jalan layak bukan kemewahan, melainkan kebutuhan penting bagi mobilitas, kesehatan, dan keselamatan.
Selama bertahun-tahun, janji perbaikan datang silih berganti, tapi kondisi jalan tetap sama.
Kini warga mendesak agar pemerintah benar-benar melakukan tindakan nyata, bukan sekadar inspeksi sesekali.
Jakarta sebagai pusat pemerintahan seharusnya menjadi contoh pembangunan yang adil bagi semua, termasuk bagi kampung kecil yang telah menunggu terlalu lama.***




