POJOKSATU.ID - Kota Palu kembali diguncang ancaman mematikan, bukan oleh gempa atau tsunami, tetapi oleh ulah manusia.
Fasilitas Early Warning System (EWS) tsunami di Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat.
Dibegal pencuri, membuat sistem peringatan dini yang vital bagi keselamatan warga tidak berfungsi.
Peristiwa yang terjadi pada Jumat 21 November itu terekam kamera CCTV.
Baca Juga: Abdul Mu’ti Usul Bahasa Indonesia Ganti Nama Jadi Bahasa Sastra Indonesia, Pastikan Sastranya Jalan
Seorang pria terlihat memanjat menara EWS dan dengan tenang memotong kabel lalu melarikan diri membawa hasil curiannya.
Kabel yang hilang bukan sembarang kabel, kabel enam meter yang menjadi jalur utama penghubung sistem sirene.
“Iya benar, kami sudah laporkan ke pihak kepolisian,” ujar Kabid Kedaruratan BPBD Palu, Irfan Suebo, Kamis 27 November.
BPBD Palu menemukan kabel sepanjang enam meter, mulai dari kotak panel di tiang hingga kabel bawah tanah, telah hilang setelah dicuri.
Baca Juga: Menag Nyatakan Dukungan Indonesia, 3.000 Anak Palestina Putus Sekolah Siap Ditampung di Pesantren
Tanpa kabel tersebut, sirene tsunami tidak bisa berfungsi sama sekali.
Pencurian ini membuat satu titik peringatan dini hilang fungsinya.
Artinya, jika tsunami benar-benar terjadi, satu wilayah akan kehilangan alarm peringatan yang bisa menyelamatkan ribuan jiwa.
Kasus pencurian fasilitas keselamatan ini bukan pertama kalinya terjadi di Palu.
Pada tragedi gempa dan tsunami 2018, beberapa alat pendeteksi tsunami yang berada di laut tidak berbunyi karena baterainya hilang dicuri.
Akibatnya, peringatan tidak tersampaikan dengan benar dan gelombang tsunami menerjang tanpa siap-siap, menewaskan ribuan warga.
Kejadian pencurian yang kembali terulang kini menjadi alarm keras.
Sabotase terhadap alat keselamatan di wilayah rawan bencana bisa sama mematikannya dengan bencana itu sendiri.
Baca Juga: Banjir Besar Landa Sumbar–Aceh, Pembelajaran Dialihkan ke Daring, Perpanjangan Diserahkan ke Sekolah
CCTV memperlihatkan bahwa aksi pencurian dilakukan dengan penuh perhitungan.
Pelaku memanjat menara, memotong kabel, dan melarikan diri tanpa terdeteksi langsung oleh petugas.
Bagi BPBD dan masyarakat, pencurian ini bukan sekadar masalah kriminal kecil.
Ini adalah tindakan yang secara langsung mengancam keselamatan ribuan warga.
Baca Juga: Rincian Insentif Bagi Guru Honorer yang Diterima Tahun 2026! Ada Kenaikan Nominal!
BPBD Palu telah menyerahkan rekaman CCTV kepada pihak kepolisian.
Hingga kini, polisi sedang melakukan penyelidikan untuk mengidentifikasi dan menangkap pelaku.
Sejumlah warga Lere menyatakan kekesalannya.
Menurut mereka, EWS bukan barang biasa, melainkan alat yang akan menentukan hidup dan mati mereka bila tsunami datang.
Kemarahan warga makin besar ketika mengingat kembali trauma mendalam 2018.
Banyak keluarga kehilangan orang terdekat karena peringatan yang terlambat.
BPBD Palu kini berfokus memperbaiki EWS yang rusak agar kembali berfungsi.
Pencurian kabel EWS ini menjadi alarm keras bahwa sistem mitigasi bencana bisa runtuh oleh tindakan kriminal sepele, dan siapapun bisa menjadi korbannya.***




