POJOKSATU.id - Perjalanan hidup Akhmad Syukri Nazry Penarik kerap disebut sebagai salah satu kisah paling dramatis di antara generasi pemimpin daerah saat ini.
Ia bukan berasal dari keluarga elit politik, bukan pula anak pejabat.
Sebaliknya, ia tumbuh dari lingkungan sederhana di Sibolga dan harus menjalani berbagai pekerjaan berat sejak muda.
Baca Juga: Presiden Prabowo Bahas Bencana Sumbar Sumut Aceh, Perintahkan Gunakan Teknologi Modifikasi Cuaca
Termasuk menjadi sopir bus serta mengumpulkan minyak goreng bekas untuk menutupi kebutuhan sehari-hari dan biaya kuliah.
Lahir pada 1 Oktober 1990, Syukri tumbuh dengan tekad kuat untuk mengejar pendidikan dan membangun diri lewat jalur yang ia ketahui bekerja keras.
Semasa kuliah di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, ia harus membagi waktu antara belajar dan bekerja.
Dari pengalaman hidup itulah ia belajar kedisiplinan, kesabaran, dan kemampuan memahami berbagai karakter orang modal yang kelak sangat memengaruhi gaya kepemimpinannya.
Karier politiknya justru datang secara tak terduga. Setelah lulus, ia mendapat kesempatan menjadi ajudan seorang bupati di Tapanuli Tengah.
Jabatan itu membuka pintu baru bagi Syukri untuk mengenal birokrasi lebih dekat.
Baca Juga: Guru Diminta Segera Cek SIMPKB: Pemanggilan Peserta PPG Tahap 5 Resmi Dirilis Hari Ini
Ia mengakui tidak pernah merencanakan menjadi politisi; namun kesempatan untuk maju sebagai calon legislatif datang, dan ia mengambilnya.
Pada Pemilu 2019, ia berhasil melenggang ke DPRD Kota Sibolga dan kemudian terpilih sebagai Ketua DPRD periode 2019–2024. Dari sanalah karier politiknya melesat.
Pada Pilkada 2024, Syukri maju sebagai calon Wali Kota Sibolga dan meraih kemenangan dengan 26.551 suara.
Ia resmi dilantik sebagai Wali Kota Sibolga periode 2025–2030, menjadikannya salah satu kepala daerah termuda di Sumatera Utara.
Namun tak lama setelah memegang jabatan, ujian besar justru menerjang.
Pada akhir November 2025, wilayah Tapanuli Tengah dan Sibolga diguncang banjir bandang serta longsor besar imbas cuaca ekstrem.
Baca Juga: Sudah Konfirmasi? Peserta PPG Tahap 5 Bakal Dapat Bimbingan Langsung dari LPTK
Dalam situasi itu, Syukri diketahui berada di Sitahuis untuk memantau kondisi lapangan. Akses jalan terputus, jaringan komunikasi runtuh, dan beberapa wilayah terisolasi.
Di tengah kekacauan itu, laporan mengejutkan muncul: Wali Kota Sibolga hilang kontak.
Informasi tersebut disampaikan berbagai media nasional dan memicu kehebohan publik.
Syukri dilaporkan tidak dapat dihubungi setelah berusaha bergerak dari salah satu titik terdampak.
Baca Juga: Sudah Konfirmasi? Peserta PPG Tahap 5 Bakal Dapat Bimbingan Langsung dari LPTK
Tim penanganan bencana, aparat keamanan, dan relawan berupaya mencari jalur untuk menembus lokasi, tetapi kondisi cuaca dan kerusakan infrastruktur membuat upaya pencarian tidak mudah.
Hilangnya seorang kepala daerah di tengah situasi darurat memberi gambaran jelas tentang betapa beratnya bencana yang terjadi.
Di saat yang sama, kondisi itu menyoroti risiko yang dihadapi pemimpin ketika turun langsung ke lapangan.
Baca Juga: Presiden Prabowo Bahas Bencana Sumbar Sumut Aceh, Perintahkan Gunakan Teknologi Modifikasi Cuaca
Sorotan publik pun meluas bagaimana sistem keamanan kepala daerah ketika situasi genting?
Bagaimana koordinasi pemerintahan saat pemimpin berada dalam keadaan tidak terdeteksi?
Namun bagi sebagian warga Sibolga, peristiwa itu justru menjadi cermin dari karakter seorang pemimpin yang tidak hanya memberi perintah dari kantor, tetapi hadir langsung di titik bencana.
Syukri dikenal memiliki gaya kepemimpinan yang dekat dengan masyarakat, dan kebiasaannya terjun ke lapangan kini menjadi salah satu faktor.
Yang membuatnya harus menghadapi risiko besar.***




