POJOKSATU.ID — Sebuah kasus kehilangan barang di Commuter Line kembali menyita perhatian publik setelah seorang ibu membagikan pengalamannya di media sosial Threads.

Ia menceritakan bahwa cooler bag berisi tumbler Tuku miliknya tertinggal saat pulang kerja menggunakan KRL rute Tanah Abang–Rangkasbitung sekitar pukul 19.00 WIB.

Ia baru menyadari barang tersebut tertinggal ketika turun di Stasiun Rawa Buntu.

Baca Juga: Siklon Senyar Picu Tiga Hari Bencana Beruntun di Sumut, 24 Warga Tewas, Ribuan Mengungsi

Setelah melapor kepada petugas, cooler bag itu rupanya berhasil diamankan oleh satpam PT KAI.

Bahkan, sang satpam sempat mendokumentasikan kondisi tas secara lengkap. Hingga tahap ini, semuanya dinilai berjalan sesuai prosedur.

Keesokan harinya, sang ibu pergi ke Stasiun Rangkasbitung untuk mengambil barangnya. Namun kejutan terjadi ketika tas tersebut diserahkan.

Baca Juga: Kenapa NIP PPPK Paruh Waktu Belum Terbit? Ini Penyebab Resminya Menurut BKPSDM

Cooler bag memang kembali, tetapi isi utamanya tumbler Tuku lenyap. Ia mengaku kaget sekaligus kecewa karena tas yang awalnya ditemukan dalam kondisi utuh, tiba-tiba berkurang isinya saat diterima kembali.

Ketika menanyakan hal tersebut kepada petugas, ia mendapatkan jawaban yang membuat warganet semakin geram.

Petugas mengakui bahwa ia tidak melakukan pengecekan isi tas saat serah terima barang hilang.

Ia juga menyebut situasi stasiun yang sedang ramai membuatnya langsung menyimpan tas tanpa memeriksanya terlebih dahulu.

Baca Juga: Sumatera Utara Diterjang 86 Bencana dalam 3 Hari 24 Orang Meninggal 11 Daerah Porak-poranda

Kelalaian ini kemudian menjadi pangkal masalah terutama setelah muncul kabar bahwa petugas tersebut terancam diberi sanksi berat.

Informasi bahwa petugas bisa kehilangan pekerjaannya memicu diskusi luas di media sosial.

Banyak warganet menilai sikap perusahaan terlalu keras, mengingat petugas yang bertugas malam itu sudah mengakui kesalahan dan bersedia bertanggung jawab.

Baca Juga: Penyebab 441 Guru Honorer Cilegon Tak Lolos Seleksi PPPK, Padahal Sekolah Kekurangan Guru

Menurut mereka, kelalaian yang terjadi bukanlah tindakan kriminal, melainkan human error yang seharusnya bisa ditangani dengan sanksi lebih proporsional.

Beberapa warganet mengingatkan bahwa PT KAI sebagai perusahaan besar semestinya bersikap netral dan objektif.

Mereka menilai tidak adil jika kesalahan operasional langsung dibebankan sepenuhnya kepada petugas di lapangan.

Baca Juga: Aturan Baru Purbaya Bikin Desa Ketar-ketir, Tak Ada Koperasi Merah Putih, Dana Desa Bisa Mandek!

Komentar yang muncul juga menyinggung perlunya SOP yang lebih jelas, terutama terkait proses pencatatan dan pemeriksaan barang hilang.

Netizen menilai bahwa prosedur serah terima barang seharusnya selalu dilengkapi pemeriksaan isi untuk memastikan kondisi sesuai dokumentasi awal.

Dengan begitu, potensi kehilangan atau dugaan penyalahgunaan bisa diminimalkan.

Mereka juga mendorong KAI melakukan perbaikan sistem, bukan hanya memberikan hukuman kepada karyawan yang bertugas.

Baca Juga: Kementerian Kebudayaan Sukses Ubah Gudang Pelabuhan Jadi Ruang Seni untuk FKSM 2025

Kasus ini kini berkembang menjadi kritik terhadap manajemen penanganan barang hilang dalam layanan KRL.

Warganet berharap kejadian ini bisa menjadi pembelajaran agar SOP lebih diperketat, namun tetap mempertimbangkan aspek keadilan bagi petugas maupun pengguna layanan.***