POJOKSATU.id - Sosok KH Miftachul Akhyar kembali menjadi pusat perhatian publik setelah keputusan Syuriyah PBNU menegaskan.
Bahwa ia mengambil alih kendali kepemimpinan PBNU pada akhir November 2025.
Nama Rais Aam PBNU itu mendadak mencuat dalam perbincangan nasional, terutama setelah dinamika internal terkait posisi Ketua Umum PBNU menciptakan kegaduhan di ruang publik.
KH Miftachul Akhyar bukan figur baru dalam dunia keulamaan Indonesia. Lahir di Surabaya pada 30 Juni 1953.
Ia tumbuh dalam lingkungan pesantren dan dikenal berasal dari keluarga ulama terpandang.
Sejak kecil, ia telah ditempa dalam tradisi pesantren yang ketat mulai dari Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Pesantren Sidogiri Pasuruan, hingga Pesantren Al-Islah Soditan Lasem.
Baca Juga: Tambang Liar Kian Nekat, Satgas PKH & Gubernur Banten Turun Tangan
Pendidikan yang ditempuhnya berlangsung bertahun-tahun, membentuk karakter ilmiah, spiritual, sekaligus kedisiplinan yang kuat.
Rekam jejak panjangnya dalam Nahdlatul Ulama memperlihatkan bagaimana kepercayaan organisasi terus mengarah kepadanya.
Ia pernah menjabat Rais Syuriyah PCNU Surabaya, kemudian dipercaya memegang posisi Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur selama dua periode.
Baca Juga: Pembinaan Pelajar Pancasila di Yonif 203 AK Tegaskan Tolak Tawuran
Dari tingkat wilayah, namanya naik ke tingkat pusat hingga akhirnya terpilih sebagai Wakil Rais Aam, lalu menjadi Rais Aam PBNU melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) pada Muktamar ke-34.
Di luar NU, kiprahnya juga tercatat di Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pada 2020 hingga 2022.
Ia menjabat Ketua Umum MUI, sebelum memutuskan mundur demi fokus menjalankan amanah sebagai Rais Aam PBNU.
Keputusan itu memperkuat citra dirinya sebagai sosok ulama yang mengutamakan etika organisasi dan konsistensi tugas.
Gaya kepemimpinan KH Miftachul Akhyar dikenal tenang, sederhana, dan tidak banyak tampil di ruang publik.
Baca Juga: Peran Guru Jadi Sorotan di HGN 2025, Dedikasi Tanpa Batas untuk Pendidikan Banten
Namun, sikapnya yang tawadhu bukan berarti ia tidak tegas.
Di kalangan ulama, ia dipandang sebagai figur yang memegang teguh prinsip dasar organisasi dan nilai-nilai pesantren.
Banyak cerita dari para tamu pondoknya di Surabaya yang menunjukkan kesederhanaannya menyambut tamu tanpa asistensi, menyuguhkan minuman sendiri, hingga menolak perlakuan istimewa.
Baca Juga: Peran Guru Jadi Sorotan di HGN 2025, Dedikasi Tanpa Batas untuk Pendidikan Banten
Karakter inilah yang membuatnya menjadi sosok “penjaga marwah organisasi”.
Ketika dinamika terjadi di internal PBNU, ia berdiri sebagai pemegang otoritas Syuriyah yang bertugas memastikan arah organisasi tetap sesuai koridor konstitusi.
Keputusannya meminta Ketua Umum PBNU mengundurkan diri kemudian menuai reaksi besar.
Baca Juga: Pembinaan Pelajar Pancasila di Yonif 203 AK Tegaskan Tolak Tawuran
Namun bagi para kiai sepuh, Miftachul Akhyar dianggap menjalankan mandat sesuai tanggung jawab sebagai Rais Aam.
Sebagai ulama yang mengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya, KH Miftachul Akhyar juga dikenal sebagai mursyid tarekat yang membentuk spiritualitas ribuan santri dan jamaah.
Kiprahnya dalam dunia pendidikan dan dakwah membuat namanya masuk dalam daftar “500 Muslim Berpengaruh di Dunia” oleh Royal Islamic Strategic Studies Center di Yordania.
Kini, KH Miftachul Akhyar memegang peran sentral dalam menentukan arah NU menuju masa depan.
Dengan pengalaman panjang, jejaring keulamaan yang kuat, dan karakter moderat yang teruji.
Publik menilai bahwa dialah sosok yang tepat untuk menjaga stabilitas organisasi Islam terbesar di Indonesia di tengah dinamika yang berkembang.
Baca Juga: APBD Banten 2026 Disahkan, Gubernur Banten Tegaskan Anggaran Fokus Pelayanan Publik Dan Pembangunan
Di saat banyak tokoh tampil dengan gaya agresif, KH Miftachul Akhyar justru hadir sebagai simbol keteduhan.****




