POJOKSATU.ID - Video aksi sejumlah warga menjadikan lokasi erupsi Gunung Semeru sebagai “wisata dadakan” viral di media sosial.

Dan menuai kemarahan para relawan. Rekaman yang pertama kali diunggah akun TikTok @drd_adventure_rescue tersebut.

Memperlihatkan warga memadati kawasan terdampak erupsi di Desa Supiturang, Kabupaten Lumajang, meski wilayah itu berstatus tanggap darurat bencana.

Dalam video berdurasi kurang dari satu menit itu, tampak warga datang berkerumun, sebagian berjalan kaki.

Baca Juga: Beasiswa Chinese Government Scholarship (CGS) 2026 Buka Peluang Kuliah Gratis di Tiongkok

Sebagian lain mengendarai motor dan mobil jeep layaknya sedang mengunjungi tempat wisata.

Relawan yang berada di lokasi langsung meminta warga kembali karena kondisi masih sangat berbahaya.

“Balik pak, balik pak. Air turun lagi,” teriak salah satu relawan memperingatkan potensi banjir lahar dingin yang bisa terjadi sewaktu-waktu ketika hujan turun.

Namun, peringatan itu tak digubris banyak pengunjung. Bahkan, sejumlah orang terekam berswafoto, berjoget, hingga membuat konten di tengah area terdampak erupsi.

Baca Juga: Bupati Tana Toraja Serahkan SK ke 46 PPPK, Ini Rincian Formasi dan Pesannya

Relawan pun kesal dengan sikap para pengunjung tersebut.

“Dipikir tempat wisata ini. Lihat ada yang foto-foto selfie, joget-joget. Pantes ta di lokasi bencana, nggak genah,” ungkap relawan itu.

Hingga Selasa 25 November 2025, video tersebut telah ditonton lebih dari 378 ribu kali dan memicu perdebatan publik terkait rendahnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya bencana.

Relawan Community of Rapid Response Emergency (CORE) Indonesia, Dwie Derek, membenarkan bahwa video yang viral itu direkam rekannya sesama relawan.

“Lokasi videonya di pos pantau di Desa Supiturang, Minggu (23/11/2025) sekitar pukul 15.30 WIB,” ujarnya.

Menurut Dwie, sehari setelah erupsi besar pada 19 November 2025, warga setempat mulai datang untuk mencari barang-barang yang bisa diselamatkan.

Namun, tak lama kemudian, muncul rombongan warga luar desa yang datang hanya untuk menonton lokasi bencana.

Padahal, wilayah itu belum boleh diakses publik berdasarkan aturan status tanggap darurat yang masih berlaku.

Baca Juga: Pentingnya Sewa Kantor Skala Besar untuk Efisiensi dan Fleksibilitas Bisnis

“Sebelum masanya habis, sebetulnya nggak boleh diakses. Aturannya sudah jelas,” tegas Dwie.

Petugas lapangan sebenarnya sudah berupaya menjaga akses masuk. Tetapi banyak warga nekat melewati jalan tikus yang tidak terpantau petugas.

“Sejak Jumat 21 November 2025, lokasi sudah mulai banyak orang luar yang datang,” ungkap Dwie.

Ia juga menyoroti keberadaan sejumlah mobil jeep yang masuk ke area bencana.

Baca Juga: Mengerikan! Aksi Main Hakim Sendiri di Tanah Abang, IRT Diarak Tanpa Proses Hukum

Menurutnya, kendaraan itu awalnya digunakan membantu warga mengangkut barang.

Namun belakangan justru dipakai untuk mengantar pengunjung yang ingin ‘wisata erupsi’.

Melihat situasi semakin tak terkendali, Dwie dan relawan lain melapor ke posko induk BPBD.

“Mulai Senin 24 November 2025, penjagaan diperketat karena lokasi masih berbahaya,” jelasnya.

Viralnya video ini kembali menyoroti fenomena “disaster tourism” yang kerap muncul setiap kali terjadi bencana di Indonesia.

Bebuah perilaku yang dinilai berbahaya sekaligus tidak etis.

Selain membahayakan diri sendiri, tindakan tersebut juga mengganggu kerja relawan dan aparat yang masih berjibaku menjaga keselamatan warga.

Relawan mengingatkan, erupsi Semeru menyisakan kondisi tanah yang labil.

Baca Juga: Dosen UIN Saizu Wakili Kampus di Pelatihan Moderasi Beragama dan Ekoteologi Nasional

Jalur aliran lahar yang sewaktu-waktu dapat berubah, serta kualitas udara yang buruk akibat abu vulkanik.

“Kami sudah capek mengingatkan. Semua ini demi keselamatan mereka sendiri,” ucap Dwie.

Hingga kini, relawan masih berjaga di beberapa titik untuk memastikan tidak ada lagi warga atau wisatawan dadakan yang memaksa masuk ke area rawan erupsi.***