POJOKSATU.id — Pemerintah kini mulai bergerak lebih konkret untuk membantu para pedagang baju bekas impor, termasuk yang berjualan di kawasan Pasar Senen agar bisa beralih ke produk-produk lokal.

Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, mengatakan bahwa pihaknya telah mengumpulkan sekitar 1.300 merek lokal yang disiapkan sebagai pilihan dagangan baru bagi para pedagang yang terdampak kebijakan pelarangan impor pakaian bekas.

Maman menjelaskan bahwa ratusan merek tersebut berasal dari berbagai kategori produk.

Baca Juga: UMK 2026 Jatim Menghangat! Buruh Minta Kenaikan 8–10%, Pemerintah Soroti Dialog Tripartit

“Ada baju, celana, ada sepatu, ada sendal, jadi total itu ada 1.300-an merek,” ujarnya.

Pemerintah, lanjutnya, terus membangun komunikasi dengan para pedagang untuk memastikan proses transisi berjalan lancar dan tidak menghambat keberlangsungan usaha mereka.

Ia menegaskan bahwa dengan adanya pelarangan impor, pasokan barang secara perlahan pasti akan berkurang, sehingga pedagang harus disiapkan alternatif yang lebih stabil.

Baca Juga: Banyak yang Belum Tahu! Ini Tahapan Terkini Pengangkatan PPPK Paruh Waktu 2025 dan Daftar Instansi Penyerah SK

“Mereka akan berjalan aja tuh, tapi kan lama-lama kan pasti supply pasokan produknya kan pasti akan menipis. Nah itu kan enggak boleh kita biarkan. Makanya nanti kita ganti dengan produk brand lokal,” kata Maman.

Beberapa merek lokal yang ikut dikonsolidasikan pemerintah juga bukan nama asing di pasar. Eiger, brand asal Bandung yang berdiri sejak 1979, menjadi salah satunya.

Selama puluhan tahun, Eiger dikenal luas sebagai produsen perlengkapan outdoor premium, mulai dari jaket, kaos, kacamata, hingga sandal gunung dengan material yang kokoh dan tahan lama.

Baca Juga: Fakta yang Sangat Terang, Polisi Kalah Cepat dari Damkar Wakapolri Akui SPKT Butuh Reformasi Besar

Ada pula The Executive, brand fashion yang diproduksi PT Delami Garment Industries sejak tahun 2000.

Produk-produk seperti kemeja, rok, blazer, celana, hingga dress membuat merek ini menjadi pilihan populer pekerja kantoran.

Jaringan tokonya tersebar di berbagai kota dan tersedia pula melalui official store online.

Erigo juga masuk dalam daftar merek yang disiapkan pemerintah.

Baca Juga: Ide Outfit Kondangan Elegan tapi Tetap Low Budget

Didirikan oleh Muhammad Sadad pada 2013, brand ini berkembang pesat dari bisnis kecil menjadi salah satu merek streetwear lokal paling digemari di e-commerce.

Koleksinya berupa hoodie, kaos, kemeja, dan jaket terus diminati, bahkan Erigo pernah meraup omzet hingga Rp22 miliar pada 2015 berkat strategi pemasaran agresif.

Brand lain yang turut terlibat adalah This is April, label fashion wanita asal Jakarta yang berdiri sejak 2012.

Meski sempat terpukul pandemi, penjualan online mereka justru melonjak hingga 400 kali lipat.

Baca Juga: Terpanggil PPG Daljab Kemenag Batch 4? Segera Lakukan Hal Penting Ini, Tidak Bisa Ditunda

Koleksi seperti blazer, kemeja oversize, dan outfit berbahan denim dikenal memiliki desain yang trendi dan mudah dipadukan.

Dari kategori sepatu, ada Kanky, brand asal Bandung yang hadir sejak 2019.

Merek ini cepat menarik perhatian berkat desain kekinian dan harga yang ramah di kantong.

Salah satu produk paling populer adalah seri Story Kitadake yang makin dikenal sejak tren Gorpcore mencuat.

Baca Juga: Misi Besar Prabowo di Balik Pertemuan dengan Michael Bloomberg, Membangun SDM Kelas Dunia

Dengan dukungan ribuan produk lokal tersebut, pemerintah berharap proses perpindahan para pedagang dari baju bekas impor ke barang-barang buatan dalam negeri dapat berlangsung lebih mulus, berkelanjutan, dan tetap memberi keuntungan bagi para pelaku usaha.***