POJOKSATU.id — Para buruh di Jawa Timur kembali mengajukan tuntutan agar upah minimum kabupaten/kota (UMK) tahun depan naik antara 8 hingga 10 persen.
Dorongan inflasi disebut sebagai alasan utama mereka meminta penyesuaian upah demi menjaga kemampuan membeli kebutuhan sehari-hari.
Merespons tuntutan tersebut, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menegaskan pentingnya forum tripartit dalam proses merumuskan kebijakan upah.
Menurutnya, forum itu menjadi ruang dialog strategis yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, dan para pekerja untuk mencari keputusan yang seimbang bagi semua pihak.
"Forum tripartit ini akan menjadi tempat kedua belah pihak duduk bersama dengan pemerintah, untuk menentukan apa yang terbaik bagi kemaslahatan buruh dan kesinambungan usaha," ujar Emil.
Emil juga meyakini Jawa Timur dapat kembali menemukan kesepahaman seperti tahun-tahun sebelumnya.
Baca Juga: Fakta yang Sangat Terang, Polisi Kalah Cepat dari Damkar Wakapolri Akui SPKT Butuh Reformasi Besar
Meski pemerintah pusat sudah menetapkan formula kenaikan upah, ia menekankan bahwa musyawarah tetap menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan dari proses penetapan UMK.
"Memang ada formula dalam peraturan pemerintah yang memuat variabel-variabel sebagai dasar penghitungan. Tetapi duduk bareng ini tetap penting untuk memperkuat proses pembahasan dan menelaah situasi nyata di lapangan," tegasnya.
Ia turut menyoroti bahwa hasil diskusi di forum tripartit mungkin tidak selalu dijadikan dasar utama keputusan.
Namun, seluruh prosesnya tetap menjadi catatan penting yang mempengaruhi kebijakan di periode berikutnya.
Saat ditanya soal kemungkinan UMK tahun ini tetap mengikuti formula yang mengacu pada pertumbuhan ekonomi dan inflasi, Emil memilih menunggu pembahasan resmi.
"Saya tidak boleh bicara mendahului forum tersebut. Meski ada formulasi, selama ini aspirasi selalu dibahas melalui forum tripartit, diteruskan ke pusat, dan keputusan diambil bersama," jelasnya.
Baca Juga: DPR Bongkar Masalah Sistemik di Polri dan Kejagung, Dari Kinerja Lemah hingga Konflik Lembaga
Menurut Emil, formula memang menjadi rujukan yang signifikan, tetapi dialog tetap menjadi jalur inti sebelum keputusan final ditetapkan.
"Keputusan akhir seringkali mengacu pada formula, tetapi konteksnya selalu melihat dinamika yang terjadi. Kalau bertanya apakah usulan awal biasanya lebih tinggi lalu turun, atau lebih rendah lalu naik, lihat saja rekam jejak tahun-tahun sebelumnya tidak pernah 100 persen sama," pungkasnya.***




