POJOKSATU.ID Kebakaran hebat melanda kawasan permukiman padat di Jati Pulo, Palmerah, Jakarta Barat, dan menghanguskan 50 rumah.
Peristiwa yang terjadi pada Senin sore itu membuat 14 orang luka-luka, terdiri dari anak-anak, warga lansia, hingga ibu rumah tangga.
Insiden ini kembali membuka mata publik tentang rawannya kebakaran di kawasan padat penduduk Ibu Kota.
Baca Juga: Cek Sekarang! Daftar Penerima Rapel Gaji & Pensiunan Rp48 Triliun Resmi Diumumkan Menkeu
Api mulai terlihat sekitar pukul 16.30 WIB dan semakin membesar dalam hitungan menit.
Warga menyebut sebelum api muncul, terdengar dentuman keras dari arah jaringan listrik, diikuti percikan api besar.
Dugaan sementara mengarah pada korsleting listrik, meski beberapa saksi juga mengaitkan dentuman tersebut dengan kabel tegangan tinggi yang sempat memercik api.
Situasi cepat memburuk karena angin kencang dan rapatnya rumah-rumah warga.
Petugas pemadam mengerahkan 20 unit mobil damkar dan lebih dari 100 personel untuk menjinakkan si jago merah.
Meski respon cepat dilakukan, butuh lebih dari dua jam hingga api benar-benar padam sekitar pukul 18.42 WIB.
Medan pemadaman tergolong sulit karena akses jalan sempit dan banyaknya warga yang berusaha menyelamatkan barang-barang pribadi.
Baca Juga: Rp48 Triliun Digelontorkan untuk Rapel Pensiunan, Ini Tahapan Pencairannya Menurut Menkeu
Sebanyak 350 jiwa dari 100 kepala keluarga terpaksa mengungsi ke lokasi aman, di antaranya ke Lapangan Taman Jati.
Banyak warga hanya membawa pakaian yang menempel di badan.
Petugas PMI dan PK3D langsung memberikan pertolongan pertama bagi korban luka, terutama mereka yang mengalami sesak napas akibat asap pekat.
Baca Juga: Gegara Memviralkan Kondisi Sekolah yang Nyaris Ambruk, Guru di Bulukumba Malah Dipaksa Minta Maaf
Pemerintah kelurahan telah membuka dapur umum serta pendataan kebutuhan darurat.
Kerugian materi diperkirakan mencapai Rp 1,3 miliar. Sebagian besar rumah yang terbakar adalah bangunan semi permanen yang mudah dilalap api.
Warga kini dihadapkan pada kenyataan pahit untuk memulai hidup dari awal: kehilangan tempat tinggal, harta benda, hingga dokumen penting yang terbakar.
Baca Juga: Aturan Baru Beban Kerja Guru Mulai Berlaku, Apa yang Sebenarnya Berubah untuk TPG?
Kebakaran ini menambah daftar panjang insiden serupa di Jakarta Barat yang dikenal sebagai wilayah dengan kasus kebakaran tertinggi di DKI Jakarta.
Penyebab paling umum masih berkisar pada korsleting listrik akibat instalasi yang sudah tua, penggunaan kabel tidak standar, hingga sambungan listrik ilegal.
Kondisi permukiman yang padat membuat satu percikan kecil dapat berubah menjadi bencana besar.
Pemerintah daerah diminta bertindak cepat, tidak hanya dalam penanganan pengungsi, tetapi juga dalam inspeksi instalasi listrik di kawasan rawan kebakaran.
Edukasi warga terkait keselamatan rumah tangga, khususnya dalam penggunaan peralatan listrik, menjadi penting untuk menekan risiko bencana serupa.
Warga berharap pemerintah tak hanya hadir saat bencana, tetapi juga melakukan langkah pencegahan jangka panjang.
Dengan jumlah kebakaran yang terus meningkat setiap tahun, mitigasi harus menjadi prioritas agar kejadian seperti di Jati Pulo tak terulang.***




