POJOKSATU.ID - Bahan bakar nabati BobiBos yang sedang menjadi perhatian publik akhirnya memasuki tahap uji coba perdana.

Sebelum diperluas ke seluruh kabupaten/kota di Jawa Barat, Gubernur Jawa Barat memastikan.

Bahwa lokasi pertama uji coba resmi dilakukan di Kabupaten Subang, tepatnya di kawasan Lembur Pakuan.

Keputusan ini bukan tanpa alasan. Dari percakapan panjang antara Gubernur Jawa Barat dan tim peneliti BobiBos.

Baca Juga: Terungkap! Isu 4 Formasi Strategis CPNS 2026 Masuk APBN Ternyata Hoax, Ini Penjelasan Resmi Kemenpan RB

Terungkap bahwa Lembur Pakuan dipilih karena memiliki infrastruktur yang paling siap untuk menjalankan pilot project energi nabati ini.

Termasuk lokasi lahan, akses jalan, hingga fasilitas penyimpanan bahan bakar yang aman.

Lembur Pakuan, yang berada dalam wilayah administratif Kabupaten Subang, disebut berulang kali sebagai pusat kegiatan awal BobiBos.

Pemilihan lokasi ini strategi tepat untuk memastikan uji coba berlangsung aman, terkontrol, dan dapat dipantau langsung oleh Gubernur.

Baca Juga: Geger! Temuan Bayi di Kebun Puncak Bogor, Polisi Telusuri Jejak Pembuang

Ada beberapa alasan utama mengapa uji coba awal ditempatkan di Lembur Pakuan.

Akses mudah, Gubernur menjelaskan bahwa jalan menuju kebun uji coba sudah dibeton sepanjang 600 meter. Infrastruktur ini memudahkan mobilisasi.

Kemudahan akses ini menjadi faktor penting dalam uji coba bahan bakar yang melibatkan kendaraan operasional dan alat berat.

Uji coba membutuhkan area penyimpanan bahan bakar dalam jumlah signifikan.

Untuk menghindari risiko keselamatan, tangki penyimpanan BobiBos akan ditanam di lokasi yang jauh dari rumah warga.

Produksi BobiBos berasal dari ekstraksi jerami. Kabupaten Subang memiliki suplai jerami yang signifikan, terutama di area lahan pertanian yang masih luas.

Gubernur menyebut bahwa, kita punya lahan sawah besar dan jeraminya bisa langsung dipakai. Yang penting ada kontinuitas produksi.

Jerami sebagai bahan baku utama membuat Subang menjadi lokasi paling masuk akal untuk memulai tahap produksi awal.

Baca Juga: Mengapa Validasi TPG Peralihan Non ASN ke ASN Berlarut? Ini Dugaan Penyebab yang Membuat Guru Geram

Tim peneliti menyatakan bahwa uji coba tidak membutuhkan mesin besar terlebih dahulu. Mesin kecil bisa dipindahkan ke lokasi dan langsung beroperasi.

Mesin portable dengan kapasitas produksi 200–300 liter/hari siap digunakan di Subang, sebelum mesin besar dengan kapasitas hingga 50.000 liter/hari disiapkan.

Uji coba BobiBos di Subang mencakup beberapa aspek yang cukup komprehensif.

Bukan hanya pengujian bahan bakar pada kendaraan, tetapi juga pengujian rantai suplai, penyimpanan, dan performa mesin.

Baca Juga: Waspada! Empat Komponen Dapodik Ini Bisa Gagalkan SKTP 2026 Jika Tak Dicek dari Sekarang

Gubernur bahkan mencontohkan, motor saya, mobil saya, traktor, sampai ojek sekitar sini semua boleh diuji coba.

Artinya, uji coba BobiBos melibatkan kendaraan nyata yang beroperasi setiap hari di lapangan.

Tangki penyimpanan yang akan dipasang 2.000 liter untuk bahan bakar 2-tak dan 2.000 liter bahan bakar 4-tak, total kapasitas awal: 4.000 liter.

Tangki ini akan ditanam di kebun Lembur Pakuan dan menjadi pusat distribusi internal.

Pertanyaan mengenai alasan uji coba BobiBos tidak langsung dilakukan di banyak daerah memang cukup sering muncul di tengah masyarakat.

Namun, terdapat sejumlah pertimbangan mendasar yang membuat pemerintah memilih pendekatan bertahap dan terpusat.

Salah satu faktor utama adalah persoalan legalitas. Gubernur telah menegaskan bahwa BobiBos belum boleh diperjualbelikan atau digunakan secara masif.

Sebelum izin resmi dari Kementerian ESDM diterbitkan.

Tahap awal ini harus dipastikan benar-benar aman dan sesuai kerangka regulasi agar tidak menimbulkan persoalan hukum di kemudian hari.

Baca Juga: Begini Skema Distribusi Bahan Bakar Nabati BobiBos di Jabar, Dari Ojek Lembur Pakuan hingga Alat Berat Pemprov

Selain aspek legalitas, risiko teknis pada fase uji coba awal juga masih sangat tinggi.

Pada tahap ini, performa mesin yang menggunakan BobiBos harus dipantau secara ketat, penyimpanan harus memenuhi standar keamanan.

Dan distribusi harus berjalan dengan skema yang terkontrol. Evaluasi pun dilakukan setiap hari untuk memastikan tidak ada anomali yang terlewat.

Jika uji coba dilakukan secara serentak di berbagai daerah, potensi terjadinya kesalahan justru semakin besar.

Baca Juga: Polwan Polres Karawang Amankan CFD Lewat Patroli Sepeda

Sementara proses pengawasan dan penanganannya menjadi jauh lebih sulit.

Alasan lainnya adalah perlunya sentralisasi seluruh proses uji coba.

Lembur Pakuan dipilih sebagai pusat uji coba karena memiliki fasilitas lengkap untuk memantau, menganalisis, dan mengendalikan seluruh tahapan pengembangan BobiBos.

Pendekatan terpusat ini memungkinkan setiap temuan teknis dapat segera ditangani sebelum diperluas ke wilayah lain.

Baru setelah pilot project di Subang benar-benar berhasil dan seluruh parameter dinyatakan aman, uji coba multi-lokasi akan dipertimbangkan untuk dilakukan di daerah lain.

Pendekatan ini memastikan BobiBos berkembang dengan standar yang terukur dan minim risiko.***