POJOKSATU.ID - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan rencana pembangunan stasiun KRL di area Jakarta International Stadium (JIS).

Sebagai salah satu solusi utama untuk mengatasi kemacetan parah usai konser besar.

Masalah lalu lintas di sekitar stadion yang berulang setiap event membuat Pemprov semakin serius mengakselerasi proyek transportasi massal.

Pengalaman macet sudah menjadi cerita klasik setiap ada konser besar di JIS. Salah satu contoh paling nyata adalah konser Bruno Mars.

Baca Juga: Sosok Bonio Mahasiwa UMA Tewas Dibunuh Ternyata Banyak Uang, Kelola Kosan Milik Keluarganya

Menurut laporan Kompas, jelang konser pada September 2024, lalu lintas di jalanan dekat stadion padat merayap.

Pengemudi dan penonton terjebak. Banyak yang memilih berjalan kaki beberapa ratus meter demi menghindari kendaraan yang berhenti total di jalan.

Sementara itu, Dinas Perhubungan DKI dan Sudinhub Jakarta Utara sempat mengaku sudah menyiapkan kantong parkir di Ancol Karnaval.

Namun, banyak penonton justru lebih memilih parkir di sekitar stadion, membuat titik parkir resmi kurang dimanfaatkan.

Baca Juga: Kisah Tragis Mahasiswa UMA Medan, Kamis Main Biliar Bareng Kawan, Jumat Ditemukan Tewas di Rumah

Menurut kepala seksi operasi lalu lintas Sudinhub Jakut, Ikhwan Purnama, upaya untuk mengarahkan penonton ke kantong parkir di Ancol sudah dilakukan.

Termasuk dengan menurunkan ratusan personel untuk mengatur arus.

Namun, disiplin parkir penonton masih menjadi tantangan, dan kemacetan tetap tak terhindarkan.

Begitu konser usai, problem keluar dari JIS kerap jadi keluhan utama. Penonton mengeluh harus menunggu lama.

Bahkan berjalan kaki cukup jauh karena sulitnya keluar dari kawasan stadion.

Dalam event lain, seperti konser Dewa 19, sejumlah penonton menyatakan kenyataan pahit kurangnya lahan parkir.

Transportasi umum massal yang belum memadai, serta akses pejalan kaki yang minim.

"Menyelenggarakan acara besar di JIS ini bencana besar, tanpa akses transportasi umum massal, tanpa parkir yang layak, bahkan tanpa akses trotoar yang layak."

Baca Juga: 744 Polisi Cilik Pukau Pandeglang, Tunjukkan Disiplin di Lomba Keselamatan Lalu Lintas

Catatan lain menyebut bahwa JIS hanya memiliki sedikit kantong parkir.

Beberapa pengunjung pun memilih untuk memarkir jauh dan melanjutkan perjalanan dengan ojek online atau berjalan kaki.

Melihat problem akses transportasi dan kemacetan, Gubernur Pramono menegaskan bahwa stasiun KRL tepat di area JIS menjadi prioritas.

Dalam pernyataannya, ia menyatakan harapan agar KRL bisa berhenti “di bawahnya JIS” dan terhubung ke berbagai ruas.

Baca Juga: Gawat! BPBDPK Pandeglang Cuma Punya Satu Perahu Evakuasi

Menurut Pramono, konektivitas massal adalah solusi agar penonton tidak lagi mengandalkan kendaraan pribadi.

Dengan transportasi publik yang kuat, beban lalu lintas usai event besar bisa ditekan.

Ia menambahkan, pembangunan stasiun ini akan melengkapi integrasi moda transportasi lain seperti TransJakarta, LRT, serta jalur pejalan kaki.

Semua untuk mendukung mobilitas penonton konser atau acara olahraga besar di stadion.

TransJakarta pun sudah menunjukkan sinyal dukungan. Untuk konser Maroon 5 di JIS, TransJakarta memperpanjang jam operasional hingga tengah malam di beberapa rute.

Seperti Koridor 12P (LRT-JIS) dan Koridor 14A/B, agar penonton bisa pulang dengan aman

Pada konser Seventeen, pihak JIS dan panitia juga mengimbau semua penonton untuk menggunakan transportasi umum.

Rencana untuk stasiun KRL di JIS bukan hal baru. Dishub DKI pernah menyatakan.

Bahwa stasiun sementara akan selesai dalam waktu dekat, sebelum dibangun versi “ultimate” dengan kapasitas lebih besar.

Baca Juga: Sudahkah Terlaksana? Pemda Jawa Barat Asuransikan Sejuta Pekerja Informal Lewat BPJS Ketenagakerjaan Mulai November 2025

Model ini diharapkan bisa meningkatkan pergerakan massa menuju JIS.

Terutama saat event besar, sehingga beban kendaraan pribadi bisa ditekan dan kemacetan bisa dikelola lebih baik.

Dengan stasiun KRL di JIS, stadion dapat diakses lebih mudah, cepat, dan ramah lingkungan.

Hal ini membuka potensi besar untuk menjadikan JIS sebagai pusat kegiatan olahraga dan hiburan skala internasional tanpa beban lalu lintas ekstrem setiap event.

Baca Juga: Rahasia di Balik Julukan Banten sebagai Tanah Jawara

Tidak hanya itu, integrasi moda transportasi (KRL + TransJakarta + LRT + pejalan kaki) bisa mendorong penggunaan transportasi publik.

Oleh masyarakat umum, bukan hanya penonton konser. Ini menjadi langkah strategis dalam mengurangi emisi dan kemacetan di Jakarta Utara.

Jika stasiun KRL di JIS tidak segera rampung, risiko kemacetan berat akan terus muncul. Setiap event besar bisa kembali jadi “bencana lalu lintas”.

Dengan potensi keluhan publik yang tinggi: parkir liar, kendaraan memadati ruas jalan, dan penonton yang frustasi.

Selain itu, kurangnya akses transportasi publik bisa membuat peserta acara lebih enggan menggunakan moda massal.

Dan memilih kendaraan pribadi. Itu artinya, beban lingkungan dan kemacetan kota tidak akan berkurang secara signifikan.

Kasus kemacetan parah usai konser JIS menjadi bukti nyata bahwa infrastruktur transportasi pendukung stadion masih belum ideal.

Gubernur Pramono Anung dan Pemprov DKI telah menaruh perhatian serius lewat percepatan pembangunan stasiun KRL.