POJOKSATU.ID - Bencana tanah longsor yang menerjang Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap.

Pada Kamis malam 13 November menelan korban jiwa dan menyisakan kerusakan parah.

Salah satu penyebab utama bencana ini, menurut pihak berwenang dan warga, adalah retakan tanah sepanjang ± 25 meter.

Yang muncul sehari sebelum longsor serta hujan ekstrem yang mengguyur wilayah tersebut berhari-hari.

Baca Juga: Keresahan PPPK Aceh Memuncak, Forum Koordinator Bongkar Fakta TPP 2026 Tanpa Porsi Anggaran

Camat Majenang, Aji Pramono, menyebutkan bahwa longsor terjadi setelah hujan deras yang berlangsung berulang kali sejak akhir pekan sebelumnya.

“Tanah jenuh air, dan akhirnya tidak mampu menahan beban. Itu salah satu pemicu longsor,” ujarnya, dikutip dari Antara, 14 November 2025.

Sementara itu, Kepala Desa Cibeunying, Lili Warli, mengaku sudah melihat tanda-tanda pergerakan tanah sejak dua hari sebelum bencana.

Dia menyebut bahwa jalan di perbatasan Dusun Cibuyut dan Tarukahan mulai ambles, dan intensitas penurunan semakin terasa.

Baca Juga: Jelajah Pesona Lampung! Dari Pantai hingga Air Terjun Tanpa Harus Mahal

Menurut petugas BPBD Cilacap, selain retakan yang panjang, tanah di lokasi longsor dilaporkan turun hingga sekitar 2 meter.

Material longsoran menimbun permukiman warga, dengan dampak pada sekitar 12 rumah rusak dan 16 rumah lainnya diancam.

Tanda bahaya itu tak datang tanpa peringatan: meski retakan sudah tampak dan hujan terus mengguyur, warga di zona rawan hanya sebagian dievakuasi.

Kepala Bupati Cilacap, Syamsul Auliya Rachman, menyebut pihaknya telah mengerahkan alat berat dan tim SAR gabungan, namun medan yang sulit menyulitkan upaya evakuasi.

BPBD menegaskan bahwa tanah di area longsor masih bergerak di beberapa titik.

Karena itu, mereka meminta warga menjauhi lokasi rawan dan mengikuti arahan evakuasi dari petugas.

Ironisnya, meski sudah ada sinyal bahaya sejak dua hari sebelumnya, mitigasi nyata belum optimal.

Penanganan retakan dengan kajian geologi belum sempat dilakukan sebelum bencana.

Baca Juga: Ini RINCIAN LENGKAP Aktivitas Bulan Guru Nasional 2025, Apa yang Harus Disiapkan Sekolah?

Bupati Syamsul menyatakan bahwa relokasi rumah warga terdampak akan menjadi salah satu langkah ke depan setelah proses evakuasi rampung.

Dalam keterangannya, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan empati kepada korban dan menegaskan pentingnya pemetaan titik rawan bencana di wilayah pegunungan.

“Kami imbau masyarakat di daerah lain agar mewaspadai potensi longsor, terutama jika hujan tinggi terus berulang,” katanya.

Analisis para ahli juga menyoroti bahwa bencana ini bukan sekadar musibah alam semata, tetapi peringatan keras soal tata ruang.

Baca Juga: Denny Sumargo Wawancarai Tiga Polisi Penyelamat Bilqis, 6 Hari Tak Mandi Tidur di Mobil dan Musola

Kontur lereng yang rentan, kombinasi drainase buruk, dan pemukiman di zona bahaya harus ditata ulang untuk mencegah tragedi serupa di masa depan.

Kejadian di Cibeunying kini menjadi catatan kritis, tanpa mitigasi berbasis data geologi dan relokasi rumah warga di lereng yang labil, longsor akan terus mengintai saat hujan ekstrem datang.

Pemerintah daerah dan pusat pun dihadapkan pada tugas besar untuk memperkuat sistem peringatan dini, memperbaiki drainase.

Dan mengedukasi masyarakat agar bisa menyelamatkan diri sebelum tanah bergerak.***