POJOKSATU.id, JAKARTA—Pelaku ledakan bom di SMAN 72 Kelapa Gading Jakarta Utara, Fadel Nazriel (17) sudah dipindah ke RS Polri Kramat Jati mulai hari ini, Senin (10/11).

Polisi melakukan pemeriksaan awal di tengah kondisi pelaku yang membaik. Hasil pemeriksaan diketahui pelaku menyampaikan ketidaksukaannya diduga kepada temannya di sekolah.

Pelaku juga disebut menyampaikan uneg-unegnya melalui tulisan di dinding di sekolah, begitu juga di meja di kelas di sekolah tersebut.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Bhudi Hermanto, Senin, menyampaikan, dari hasil pemeriksaan awal, ada wujud rasa ketidaksukaan pelaku.

Baca Juga: Jenguk Korban Ledakan di SMAN 72, Mendikdasmen Berikan Dukungan Psikososial Untuk Korban Terdampak

Pelaku menyampaikannya dengan tidak frontal tetapi melalui tulisan dan gambar.

“Menyampaikan dengan tulisan, gambaran-gambaran," kata Kombes Bhudi.

Dari pemeriksaan awal ini, menurut Bhudi, diperlukan kepedulian kita bersama, baik sebagai orang tua pada saat anak-anak di sekolah melaksanakan pendidikan belajar mengajar.

Kepedulian itu bisa dilakukan dengan melihat apakah ada tulisan siswa di dinding atau di meja yang merupakan curhatan dari siswa tersebut.

“Inilah yang harus kita ajak untuk menggugah apakah tulisan di dinding di meja,” katanya.

Bhudi belum merinci lebih jauh uneg-uneg pelaku Fadel Nazriel.

Baca Juga: Usai Insiden Ledakan SMAN 72, Komisi I DPR Jadwalkan Rapat dengan Kemenhan dan TNI

“Apabila kita cepat dan tanggap mungkin kita bisa memitigasi, mengeliminir kejadian yang lebih besar," jelasnya lagi.

Dipindah ke RS Polri

Pelaku saat ini sudah dalam kondisi sadar dan dirawat di RS Polri Kramat Jati. Pelaku dipindah dari RS Islam dimana kondisi kesehatannya sudah semakin membaik.

Pelaku dipindah ke RS Polri Kramat Jati untuk memudahkan penyidik melakukan pendalaman informasi.

"Selanjutnya memudahkan juga penyidik untuk bisa mendalami informasi. Karena yang bersangkutan sudah dalam kondisi sadar,” jelasnya.

“Apabila dalam perkembangan kondisi kesehatan semakin baik, itu akan lebih memudahkan penyidik untuk meminta keterangan," ujarnya lagi.

Dikatakan, alasan pelaku dipindahkan ke RS Polri dimana Polda sudah membentuk tim terpadu terkait kasus tersebut.

Selain penanganan medis, psikis, pemindahan ini juga menghindari pelaku ditempatkan dalam satu ruangan yang ada beberapa orang.

“Sehingga untuk mencegah terjadinya infeksi, makannya di RS Polri dalam satu ruangan," jelasnya lagi.***