POJOKSATU.ID - Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar berpulang pada Sabtu 8 November 2025.
Ia mengembuskan napas terakhir di usia 71 tahun setelah berjuang melawan sakit yang dideritanya beberapa waktu terakhir.
Sebelum menghadap Sang Khalik, Antasari sempat menyampaikan satu keinginan terakhir yang sederhana namun menyentuh.
Ingin meninggal di rumah, bukan di rumah sakit.
Baca Juga: TPG Triwulan 4 November 2025: Non ASN Sudah Cair, ASN Masih Cemas Menatap Layar Ponsel
Keinginan itu disampaikan kepada keluarganya beberapa hari sebelum kondisinya menurun drastis.
Ucapan itu menjadi pesan terakhir dari seorang tokoh hukum yang pernah berada di puncak karier, sekaligus sempat mengalami masa paling gelap dalam hidupnya.
Menurut keluarga, Antasari sempat dirawat di rumah sakit karena infeksi virus.
Dokter menyebut kondisinya sempat membaik hingga diizinkan pulang.
Baca Juga: Viral Sosok FN di Tiktok Disebut Pelaku Ledakan Bom SMAN 72, Siswa Aktif Pernah Pelatihan OSIS
Namun, pada Sabtu pagi, kondisinya tiba-tiba menurun hingga akhirnya meninggal dunia di rumahnya, sesuai dengan keinginannya sendiri.
“Beliau sempat dirawat di RS, tapi sudah boleh pulang. Dokter bilang sudah stabil. Tapi pagi tadi, kondisinya kritis dan enggak tertolong,” ujar Ardiansyah.
Jenazah Antasari disalatkan di Masjid Asy-Syarif, BSD, sekitar pukul 15.20 WIB.
Suasana duka menyelimuti masjid. Beberapa kerabat, sahabat lama, dan tokoh hukum datang untuk memberi penghormatan terakhir.
Di antaranya tampak Jimly Asshiddiqie, Ketua Komisi Percepatan Reformasi Polri, yang juga sahabat lama Antasari sejak masa kuliah di Universitas Indonesia.
Setelah disalatkan, jenazah Antasari diberangkatkan menuju San Diego Hills Memorial Park, Karawang, Jawa Barat.
Irak-iringan keluarga mengantar kepergian almarhum dengan tangis haru.
Beberapa kerabat terlihat memeluk satu sama lain saat ambulans berangkat dari halaman masjid.
Baca Juga: Dedie Rachim Lantik 22 Kepala SD Kota Bogor, Dorong Pendidikan Berkarakter untuk Generasi Emas
Bagi keluarga, keinginan Antasari untuk wafat di rumah dianggap sebagai bentuk ketenangan hati di akhir hidupnya.
Antasari Azhar dikenal sebagai salah satu tokoh hukum paling disorot di Indonesia.
Sebelum menjadi Ketua KPK, ia adalah jaksa karier yang dikenal bersih dan keras terhadap korupsi.
Namun perjalanan hidupnya berubah setelah terjerat kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen pada 2009.
Baca Juga: Kapolres Tangerang Selatan Buka “Ojol Mart” Guna Perkuat Sinergi dan Ekonomi Ojol
Kasus yang mengguncang dunia hukum nasional dan membelah opini publik.
Meski divonis bersalah dan menjalani hukuman 12 tahun penjara, Antasari tak pernah berhenti memperjuangkan klaim ketidakbersalahannya.
Setelah bebas pada 2017, ia sempat aktif berbicara soal reformasi hukum dan keadilan.
Dalam berbagai kesempatan, ia kerap menyampaikan bahwa “keadilan bukan soal menang atau kalah, tapi soal hati nurani.”
Ucapan itu menjadi cerminan dari perjalanan hidup yang kompleks, dari ruang sidang hingga akhirnya kembali ke ruang keluarga, tempat ia menghembuskan napas terakhir.
Banyak rekan seprofesi mengenang Antasari sebagai sosok tegas, religius, dan berani menanggung risiko atas keputusannya.
Meski penuh kontroversi, Antasari meninggalkan warisan penting dalam dunia hukum integritas dan keberanian untuk berdiri pada keyakinannya.
Ia menjadi contoh nyata bahwa kehidupan pejabat publik tidak selalu berakhir dengan kekuasaan, tapi dengan refleksi dan perenungan panjang.
Menjelang sore, suasana di Masjid Asy-Syarif masih penuh dengan jamaah yang datang silih berganti.
Baca Juga: Wakil Panglima TNI Tinjau Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Tangsel
Beberapa warga sekitar ikut menyalatkan jenazah, meski tak mengenal pribadi almarhum secara langsung.
Sore itu, langit Serpong mendung. Ketika ambulans membawa jenazah keluar dari halaman masjid, suara tangis keluarga terdengar di antara lantunan doa.
Antasari pergi dengan sederhana tanpa prosesi besar, tanpa panggung, hanya ditemani keluarga dan sahabat terdekat.***
Dan mungkin, itulah yang ia inginkan pulang dengan tenang, di rumah, bersama orang-orang yang ia cintai.




