POJOKSATU.ID - Penyelidikan kasus ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta memasuki babak baru setelah polisi menemukan adanya tulisan dan simbol asing di senjata mainan yang dibawa oleh pelaku.

Tulisan-tulisan tersebut diduga terinspirasi dari ideologi ekstrem dan teori konspirasi global yang beredar luas di internet.

Meski Polda Metro Jaya sudah menegaskan bahwa senjata itu hanyalah mainan replika, temuan ini tetap menimbulkan tanda tanya besar.

Baca Juga: Banyak Guru Gagal Akses Link PPG Tahap 2, Begini Cara Cek Hasil Kelulusan yang Pasti Aman

Apa arti tulisan tersebut dan bagaimana bisa sampai dipahami oleh seorang siswa sekolah menengah atas.


Tulisan dan Simbol yang Ditemukan

Berdasarkan hasil olah TKP oleh Densus 88 Antiteror Polri, di tubuh senjata mainan itu ditemukan beberapa tulisan dan angka, seperti 14/88.

serta nama-nama figur yang terhubung dengan aksi terorisme internasional.

Baca Juga: Kenapa Pengumuman PPG Guru Tertentu 2025 Terlambat? Ini 7 Fakta yang Perlu Kamu Tahu

Tulisan tersebut ternyata bukan sekadar coretan acak, melainkan memiliki makna ideologis yang sering digunakan dalam jaringan ekstremis dan kelompok neo-Nazi di luar negeri.

Menurutnya, angka 14 merujuk pada 14 Words, slogan yang sering dipakai kelompok radikal Barat.

Sementara angka 88 diartikan sebagai singkatan dari Heil Hitler (karena huruf H adalah huruf ke-8 dalam alfabet Latin).


Kemungkinan Pengaruh dari Internet

Kepolisian masih mendalami bagaimana seorang pelajar bisa mengenal simbol-simbol ini.

Baca Juga: Begini Cara Humas Polsek Klari Dekatkan Polisi dengan Masyarakat

Diduga kuat, pelaku mendapat referensi melalui platform media sosial dan forum daring internasional yang menyebarkan ideologi ekstrem dan teori konspirasi.

Fenomena ini menegaskan kembali bagaimana internet bisa menjadi ruang berbahaya bagi remaja yang mencari identitas atau pelarian dari tekanan sosial.

Dalam banyak kasus, teori konspirasi dan narasi ekstrem sering dikemas dalam bentuk hiburan atau humor daring, sehingga sulit disaring oleh pengguna muda.


Dari Teori Konspirasi hingga Radikalisasi Digital

Ahli keamanan siber Dr. Nurul Aulia, dari lembaga riset CyberPeace Indonesia, menjelaskan bahwa banyak platform global yang tampak netral justru menjadi wadah penyebaran narasi ekstrem.

Baca Juga: Sehari Setelah Ledakan, SMAN 72 Jakarta Masih Dijaga Ketat Petugas POM TNI AL dan Polisi

Ia mencontohkan, simbol seperti angka 14/88 sering disisipkan dalam meme, game, hingga video pendek yang membungkus ideologi kekerasan dengan gaya pop culture.

Inilah yang disebut radikalisasi pasif proses perlahan di mana seseorang mulai mengadopsi pandangan ekstrem tanpa disadari.

Dalam konteks pelaku SMAN 72, polisi dan psikolog menduga kemungkinan besar ia terpapar simbol dan narasi konspiratif melalui kanal tersebut.


Polisi Tegaskan Tidak Ada Jaringan Teror

Meski ada simbol dan tulisan yang mencurigakan, polisi menegaskan bahwa tidak ada indikasi keterlibatan jaringan terorisme di balik aksi pelaku.

Baca Juga: Gagal di PPG Tahap 2 Bukan Akhir! Begini Langkah Daftar Ulang dan Tips Lolos Ujian Ulang 2026

Ledakan di SMAN 72 lebih mengarah pada tindakan individual yang terinspirasi simbol-simbol tertentu, bukan perintah dari kelompok mana pun.

Pihak Densus 88 kini bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Kemendikbudristek untuk melakukan pendidikan kontra-narasi ekstremisme di sekolah-sekolah Jakarta.

Tulisan di senjata mainan pelaku SMAN 72 Jakarta membuka mata kita akan bahaya laten konten ekstrem di dunia maya.

Meskipun tidak ditemukan jaringan teror aktif, simbol dan ideologi yang tertanam bisa menjadi pintu masuk bagi perilaku destruktif.

Kini, tantangan bukan hanya di ruang fisik sekolah, tapi juga di ruang digital yang tanpa batas.

Pemerintah, sekolah, dan orang tua harus bergerak bersama membangun benteng kesadaran dan literasi digital agar tak ada lagi pelajar Indonesia yang tersesat dalam simbol-simbol kebencian global.***