POJOKSATU.id – Penunjukan Tito Karnavian sebagai Kapolri pada Juli 2016 menarik perhatian bukan saja karena prestasi yang melekat padanya.

tetapi juga karena loncatan kariernya yang memotong jalur senioritas di tubuh Polri.

Kini namanya juga kembali mencuat karena dipilih sebagai anggota percepatan reformasi polri oleh Presiden Prabowo.

Baca Juga: Jabar Lindungi 1 Juta Pekerja Informal Lewat BPJS Ketenagakerjaan

Kisah di balik “melompati” senioritas ini memberi gambaran kompleksitas antara meritokrasi dan tradisi korps.

 

Ketika senioritas tergeser

Tito lulus dari Akademi Kepolisian (Akpol) angkatan 1987—dilantik sebagai Kapolri menggantikan Badrodin Haiti yang berasal dari angkatan Akpol 1982.

Baca Juga: Kabar Baik! Syarat CPNS 2026 Dilonggarkan untuk Jurusan Prioritas dan Jabatan Tertentu

Perhitungan menunjukkan Tito melompati sekitar empat angkatan senior yang umumnya menjadi kandidat utama untuk kursi Kapolri.

Bagi sebagian pihak, ini langkah beranimenunjukan bahwa kemampuan dan prestasi bisa mengungguli tradisi panjang.

Dalam artikel “Era Meritokrasi di Tubuh Polri”, disebut bahwa penunjukan Tito sebagai calon Kapolri “langka” karena jarang ada perwira yang langsung melewati banyak senior.

Baca Juga: Data realisasi penerapan, Jumlah PPPK Paruh Waktu yang Telah Dilantik Vs Target Nasional

Namun di sisi lain, lembaga pengawas seperti Indonesia Police Watch (IPW) mengingatkan bahwa skema pelompatan tersebut dapat berdampak pada sistem kaderisasi Polri.

“Tito terlalu junior untuk jadi Kapolri,” ujar IPW saat itu. 

Strategi dan tantangan internal

Tito sendiri menyambut kritik ini dengan janji mempererat hubungan dengan senior-senior di institusi.

Ia menyatakan bahwa.

Baca Juga: Bupati Dony Geram! ASN Sumedang Masih Langgar Program “Jumat Ngangkot”

“senioritas itu penting, tapi yang lebih penting adalah interpersonal skill” untuk menjalankan tugas bersama.

Pernyataan ini menegaskan niatnya mengelola potensi konflik internal yang muncul dari loncatan kariernya.

Selain itu, dalam wawancara ia mengatakan siap “merangkul semua pihak senior-senior, tentu secara objektif”.

Baca Juga: Kenapa TPG Triwulan 3 Lebih Lambat dari Triwulan 4? Simak Penjelasan Mekanisme Baru Tahun 2025!

Ini menunjukkan bahwa masalah bukan sekadar kisah meloncat, tetapi bagaimana mengelola institusi yang memiliki struktur hierarki kuat menuju transformasi.

Namun kenyataannya, loncatan itu tetap memunculkan sorotan.

Apakah promosi berdasarkan senioritas harus digeser demi meritokrasi?.

Baca Juga: Miris! ASN Majalengka Nunggak Pajak Kendaraan Rp 9 Miliar, DPRD Desak Bupati Bertindak

Atau apakah ini menciptakan ketidakpuasan internal yang kemudian mengganggu soliditas?

Beberapa analis percaya bahwa tantangan utama bukan pada siapa menjabat, tetapi bagaimana institusi merespons perubahan.

Kasus Tito menjadi semacam “laboratorium” perubahan nilai di Polri.

Dalam arus modernisasi kepolisian, meritokrasi sering disebut sebagai kunci peningkatan profesionalisme.

kinerja, prestasi, kemampuan menjadi indikator, bukan semata lama masa kerja atau senioritas.

Meski demikian, bentuk pelaksanaannya rawan memunculkan gesekan.

Baca Juga: Bupati Dony Geram! ASN Sumedang Masih Langgar Program “Jumat Ngangkot”

Jika senior merasa terabaikan, maka semangat kolegialitas bisa tergerus.

Untuk Polri yang mengandalkan disiplin, kepercayaan, dan kerjasama antarjenjangbab ini menjadi penting.

Lompatan karier Tito Karnavian bukan hanya fenomena anekdot birokrasi.

Ia membuka diskusi serius antara menjaga tatanan senioritas dan membuka ruang bagi talenta muda-berprestasi.

Baca Juga: Jabar Lindungi 1 Juta Pekerja Informal Lewat BPJS Ketenagakerjaan

Apakah Polri akan memilih jalur lama atau berani membentuk jalur baru melalui kapasitas? Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan bagaimana institusi besar ini berkembang.

 Bagi institusi besar seperti Polri, integrasi antara hierarki yang respek dan sistem yang adil menjadi kunci.

Tito memberikan sebuah peluang untuk melihat apakah perubahan struktural bisa berjalan selaras dengan budaya institusi.

Baca Juga: Kabar Baik! Syarat CPNS 2026 Dilonggarkan untuk Jurusan Prioritas dan Jabatan Tertentu

Waktu akan menjadi penguji jika langkah ini menghasilkan Polri yang lebih responsif, profesional, dan dipercaya publik.***