PojokSatu.id — Ketika Prabowo Subianto menghadiri peresmian pabrik petrokimia raksasa senilai Rp 62 triliun di Cilegon, banyak mata menatap kagum.

Inilah investasi terbesar di Asia Tenggara, simbol kemandirian industri, sekaligus bukti bahwa Indonesia mulai naik kelas.

Namun di balik kilau hilirisasi dan teknologi canggih dari Korea Selatan, muncul pertanyaan apakah bumi kita siap menanggung bebannya?.

Baca Juga: Tunjangan ASN Jadi Korban Akibat Daerah Krisis Fiskal, Benarkah Solusi atau Sekadar Penghematan?

 

Hilirisasi yang Diimpikan, Industri yang Menggeliat

Indonesia selama puluhan tahun dikenal sebagai konsumen berat produk petrokimia.

Dari plastik kemasan, pipa, hingga bahan otomotif sebagian besar bahan bakunya impor.

Proyek PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) senilai Rp 62,4 triliun di Cilegon, Banten, digadang-gadang akan mengubah itu semua.

Baca Juga: Dari Raja Ampat hingga Wakatobi Ini Surga Bawah Laut Indonesia yang Gak Ada Duanya

Pabrik ini mampu mengolah nafta dan LPG menjadi etilena, propilena, serta turunannya, bahan dasar berbagai produk industri modern.

Dengan kapasitas hingga 3,2 juta ton per tahun, Indonesia berpeluang mengurangi impor petrokimia hingga 70 persen.

“Ini bagian dari hilirisasi, supaya nilai tambah ekonomi terjadi di dalam negeri,” ujar Menko Perekonomian Airlangga Hartarto saat menghadiri peresmian.

Baca Juga: Kasus CPNS dan PPPK Tak Aktif Kerja! Instansi Diminta Segera Proses Pengunduran Diri dan Gantikan

Lompatan Besar bagi Ekonomi Nasional

Secara ekonomi, langkah ini tak bisa diremehkan.

Proyek yang menyerap lebih dari 13 ribu tenaga kerja saat konstruksi ini diharapkan menjadi mesin baru pertumbuhan industri manufaktur.

Baca Juga: Dari Dapodik ke Puslapdik, Siapa Sebenarnya Penentu Nasib Cairnya TPG Guru?

Sebagian produk akan diekspor, tapi fokus utama tetap untuk pasar domestik  menekan defisit neraca perdagangan dan menciptakan rantai pasok lokal.

Tak hanya itu, kolaborasi Indonesia–Korea ini juga membawa transfer teknologi petrokimia modern

Yang selama ini dikuasai segelintir negara seperti Korea Selatan, Jepang, dan Arab Saudi.

Baca Juga: Pusat Bilang Dana KUR Masih Banyak, tapi Daerah Mengeluh Sudah Habis Ada Apa Sebenarnya?

Bagi pemerintah, proyek ini menjadi bukti nyata bahwa hilirisasi tak lagi sebatas jargon melainkan strategi industri nasional jangka panjang.

 

Tapi, Apa Kabar Lingkungan Kita?

Setiap kemajuan punya sisi lain. Proyek petrokimia ini juga memunculkan kekhawatiran dari kalangan pemerhati lingkungan.

Baca Juga: Dari Raja Ampat hingga Wakatobi Ini Surga Bawah Laut Indonesia yang Gak Ada Duanya

Sektor petrokimia dikenal sebagai penyumbang emisi gas rumah kaca signifikan, karena proses produksinya menggunakan energi tinggi dan menghasilkan limbah padat maupun cair.

Belum lagi bahan bakunya  nafta, turunan minyak bumi  yang tetap berbasis fosil.

Artinya, meskipun proyek ini berlabel “hilirisasi”, ia belum sepenuhnya mendukung transisi energi hijau yang tengah digalakkan.

Baca Juga: Insentif Dapur MBG Rp 6 Juta per Hari Dinilai Terlalu Besar, Efisienkah Kebijakan Baru BGN Ini?

Pakar energi dari UI, Fabby Tumiwa, pernah menyebut bahwa Indonesia perlu hati-hati dalam mendorong industri berat berbasis fosil.

karena bisa menambah jejak karbon jangka panjang jika tak diimbangi mitigasi energi bersih.

 

Upaya Hijau dari Dalam Pabrik

Baca Juga: Pusat Bilang Dana KUR Masih Banyak, tapi Daerah Mengeluh Sudah Habis Ada Apa Sebenarnya?

Menariknya, Lotte Chemical Indonesia mengklaim sudah menyiapkan langkah-langkah ramah lingkungan.

Mereka menyebut akan menerapkan teknologi efisiensi energi dan sistem daur ulang air industri, serta mengurangi limbah kimia melalui proses pemisahan tertutup.

Selain itu, PT LCI bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk memastikan area sekitar tetap aman dari pencemaran udara dan air.

Baca Juga: Bank Himbara Dapat Sorotan Karena Lambatnya Penyaluran BSU 2025, Ini Salah Siapa?

Namun hingga kini, laporan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) lengkap proyek ini belum dipublikasikan secara luas ke publik.

Itu sebabnya, kalangan aktivis lingkungan menilai transparansi menjadi kunci.

 

Antara Ambisi Ekonomi dan Tanggung Jawab Ekologi.

Baca Juga: Gagal SKTP karena Mutasi Sekolah? Ini Prosedur Resmi Agar Data Kamu Tak Hilang di Sistem!

Pembangunan industri besar seperti ini ibarat dua sisi mata uang.

Di satu sisi, ia membuka lapangan kerja, meningkatkan kapasitas industri nasional, dan mengurangi impor.

Namun di sisi lain, jika tanpa pengawasan ketat, ia bisa memperparah polusi, meningkatkan konsumsi energi, dan memunculkan beban lingkungan baru.

Pemerintah tampaknya menyadari dilema ini.

Dalam pidatonya, Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunan industri harus berjalan beriringan dengan keberlanjutan.

Baca Juga: Kadistrik Mandobo Minta 221 CPNS atau PPPK Tingkatkan Dedikasi, Ini Fakta Terbarunya!

“Kita ingin maju, tapi tidak dengan merusak bumi,” katanya.

Kini, bola ada di tangan regulator dan pelaku industri.

Apakah proyek senilai Rp 62 triliun ini akan menjadi model keberhasilan hilirisasi yang berkelanjutan, atau justru simbol kemajuan yang menambah beban lingkungan.

Baca Juga: Dari Raja Ampat hingga Wakatobi Ini Surga Bawah Laut Indonesia yang Gak Ada Duanya

Tergantung pada komitmen mereka menjaga keseimbangan.***