POJOKSATU.ID - Pemerintah tengah mendorong revolusi kecil di dunia pendidikan.

Setelah meluncurkan program pembelajaran bahasa asing di Sekolah Rakyat.

Dari bahasa Korea hingga Jepang, antusiasme publik pun meningkat tajam.

Anak-anak di desa kini bisa menyapa dalam “annyeonghaseyo” atau “ohayou gozaimasu”.

Baca Juga: Sulap Menara Pandang Jadi Perpustakaan Modern, Pemkot Depok Kejar Target Literasi 2027

Mereka tertarik belajar bahasa lewat drama Korea dan anime Jepang.

Tapi di tengah semangat globalisasi ini, muncul kekhawatiran baru.

Jangan sampai bahasa asing membuat anak-anak lupa pada bahasa ibu mereka sendiri.

Langkah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Baca Juga: Efek Samping MBG Niat Baik Bikin Gizi Naik, Malah Inflansi Jadi Naik!

Dalam mengintegrasikan pembelajaran bahasa asing ke kurikulum Sekolah Rakyat mendapat sambutan luas dari berbagai kalangan.

Kebijakan ini dianggap sebagai terobosan penting untuk memperluas akses pendidikan global.

Sekaligus menyiapkan generasi muda menghadapi persaingan internasional.

Melalui kerja sama dengan sejumlah lembaga budaya internasional.

Seperti Korea Foundation, Japan International Cooperation Agency (JICA), dan Chinese Language Council International.

Pemerintah berupaya memperkuat kapasitas siswa dalam berkomunikasi lintas bahasa dan budaya.

Program ini ditargetkan menjangkau lebih dari 10.000 Sekolah Rakyat hingga tahun 2028.

Dengan kewajiban mengajarkan sedikitnya dua bahasa asing di setiap sekolah yang berpartisipasi.

Baca Juga: RSUD Al-Mulk Kota Sukabumi Berpartisipasi dalam Pemecahan Rekor MURI Melalui Donor Darah Nasional ARSADA

Meski program ini menuai apresiasi.

Sejumlah ahli bahasa mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara penguasaan bahasa asing dan pelestarian bahasa ibu.

Penguasaan bahasa global memang membuka banyak peluang pendidikan dan ekonomi.

Namun bahasa daerah dan bahasa nasional tetap menjadi fondasi identitas dan jati diri bangsa.

Baca Juga: Panggilan Energi dari Kota Sukabumi, PKK sebagai Pilar Utama Menuju Indonesia Emas

Para pemerhati pendidikan menilai, tantangan terbesar bukan sekadar mengajarkan bahasa baru.

Melainkan memastikan siswa memahami konteks budaya di baliknya tanpa kehilangan akar kebangsaan.

Karena itu, integrasi bahasa asing di sekolah diharapkan tidak menggeser posisi bahasa Indonesia dan bahasa daerah.

Melainkan memperkaya kemampuan komunikasi generasi muda agar tetap berakar lokal sekaligus berpandangan global.

Menjawab kekhawatiran masyarakat mengenai dominasi bahasa asing di sekolah.

Kemendikbudristek menegaskan bahwa keberadaan pelajaran bahasa asing.

Tidak akan menggeser posisi bahasa Indonesia maupun bahasa daerah dalam kurikulum nasional.

Pemerintah memastikan bahasa ibu tetap menjadi prioritas utama dalam pendidikan.

Sementara penguasaan bahasa asing diposisikan sebagai pelengkap untuk memperluas wawasan dan kemampuan komunikasi global siswa.

Baca Juga: Menteri dengan Skor Terendah Mengapa Bahlil Lahadalia Dikritik Malah Siap Hentikan Impor Solar 2026

Kemendikbudristek menilai bahwa kemampuan berbahasa seharusnya tidak bersifat saling meniadakan.

Melainkan saling memperkuat, bahasa asing dipandang sebagai jendela untuk memahami dunia luar.

Sementara bahasa Indonesia dan bahasa daerah tetap menjadi fondasi identitas dan kebudayaan bangsa.

Dengan keseimbangan itu, siswa diharapkan mampu beradaptasi di lingkungan global tanpa kehilangan akar nasionalnya.

Baca Juga: Gaji Guru ASN Naik Besar-besaran 2025, Ini Rahasia Angka yang Tak Pernah Kamu Dengar dan Mekanisme Pelaksanaan

Sebagai langkah konkret, pemerintah tengah menyiapkan kurikulum bilingual lokal.

Yang dirancang agar pembelajaran bahasa asing dapat berjalan berdampingan dengan penguatan literasi bahasa Indonesia dan pelestarian bahasa daerah.

Pendekatan ini diharapkan menjadi model pendidikan bahasa yang lebih inklusif, relevan, dan berorientasi masa depan.

Tanpa mengorbankan kekayaan linguistik yang telah menjadi bagian penting dari jati diri bangsa.

Fenomena menarik muncul di beberapa sekolah percontohan.

Di Sekolah Rakyat Kubu Raya, Kalimantan Barat, siswa sudah mampu berkomunikasi dalam tiga bahasa yaitu Indonesia, Mandarin, dan Melayu lokal.

Di sekolah itu, pelajaran bahasa asing justru memperkuat rasa bangga terhadap identitas lokal.

Siswa membandingkan arti kata antarbahasa dan menemukan kemiripan nilai sopan santun di balik tiap budaya.

Di tengah derasnya arus globalisasi, Indonesia mencoba menapaki jalannya sendiri menjadi bangsa modern tanpa kehilangan akar.

Baca Juga: Validasi Data Dapodik Bermasalah? Begini Cara Perbaiki Agar SKTP Cepat Terbit!

Anak-anak di desa kini bisa menyapa dengan “Hello” atau “Konnichiwa”.

Tapi mereka juga tetap bisa berkata, “Sugeng enjing” atau “Selamat pagi” dengan bangga.

Karena di ujungnya, seperti kata pepatah lama, “Bahasa menunjukkan bangsa”.

Dan bangsa yang tahu dari mana asal bahasanya, tak akan pernah kehilangan arah.***