POJOKSATU.ID — Siapa sangka, program yang niatnya mulia seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) justru ikut menyulut panasnya harga di pasar.
Di banyak daerah Jawa Barat, bukan cuma perut anak sekolah yang kenyang, tapi harga pangan pun ikut “gendut”.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, inflasi Oktober 2025 tercatat 0,45 persen.
dengan penyumbang utama berasal dari komoditas pangan seperti telur ayam, daging ayam ras, dan beras.
Salah satu faktor pemicunya? Ya, program MBG yang digadang-gadang untuk menekan angka stunting.
Niat Baik yang Bikin Harga Naik
Secara konsep, MBG memang keren.
Siapa yang tidak senang jika anak-anak sekolah bisa menikmati makanan sehat setiap hari? Namun di lapangan, dampaknya tidak sesederhana itu.
Program ini membuat permintaan bahan pokok melonjak tajam dalam waktu singkat.
Ribuan sekolah, kantin, dan penyedia katering berebut stok bahan pangan dari pasar yang sama.
Hasilnya? Harga naik sebelum nasi sempat matang.
Inflasi Tak Cuma dari Emas
Yang menarik, BPS juga mencatat bahwa selain MBG, emas perhiasan menjadi penyumbang inflasi terbesar di Jawa Barat.
Tapi berbeda dengan emas yang kenaikan harganya mengikuti pasar global.
Kenaikan harga pangan lebih terasa langsung di dapur masyarakat kecil.
Kenaikan harga telur dan ayam ras misalnya, tidak hanya membuat pengusaha katering kelimpungan, tapi juga ibu rumah tangga di pasar tradisional.
Ironisnya, sementara pemerintah berupaya menyehatkan anak sekolah lewat MBG.
Banyak keluarga justru harus memutar otak agar tetap bisa makan bergizi di rumah tanpa menguras dompet.
Pasar Tradisional Ikut Terguncang
Dampak MBG tak berhenti di harga.
Di beberapa daerah, program ini juga disebut mengganggu ekosistem pasar tradisional.
Sebab banyak bahan pangan langsung diborong dalam jumlah besar oleh pihak penyelenggara, membuat stok di pasar umum menipis.
Kondisi ini membuat harga di tingkat eceran ikut terdongkrak.
Artinya, program sosial yang seharusnya membantu malah menciptakan tekanan baru di pasar rakyat.
Pemerintah tentu tak bermaksud menciptakan inflasi.
Tujuan utama MBG adalah meningkatkan gizi anak-anak dan menekan angka stunting, terutama di wilayah dengan tingkat kemiskinan tinggi.
Namun, efek sampingnya jelas tak bisa diabaikan.
Ekonom menyarankan agar pemerintah daerah dan penyelenggara MBG berkoordinasi.
Dengan pelaku pasar dan Bulog untuk memastikan pasokan bahan pangan tetap stabil.
Distribusi dan waktu pembelian juga perlu diatur agar tidak terjadi penumpukan permintaan di waktu yang sama.
Kebijakan yang baik adalah yang tidak hanya menyenangkan di atas kertas, tapi juga ramah di pasar.
MBG sudah memberi manfaat sosial, tapi pemerintah perlu cepat menambal sisi ekonomi agar efek inflasi tidak makin melebar.***




