POJOKSATU.id — Dunia perbankan di Australia digemparkan dengan kisah seorang pegawai perempuan yang harus menerima kenyataan pahit dipecat setelah 25 tahun mengabdi.

Ironisnya, posisinya justru digantikan oleh sistem kecerdasan buatan (AI) yang selama ini turut dia latih.

Kasus ini menjadi potret nyata dari teknologi membawa dua sisi, yakni kemajuan besar sekaligus ancaman serius bagi manusia.

Kecerdasan buatan memang menawarkan berbagai kelebihan.

Pertama, AI mampu bekerja tanpa mengenal lelah, efisien, dan akurat dalam mengolah data dalam jumlah besar.

Baca Juga: Airlangga Hartarto Ingatkan Pengusaha, Jangan Lakukan PHK! Utamakan Lapangan Kerja

Hal ini tentu sangat membantu industri keuangan seperti perbankan yang membutuhkan ketelitian tinggi dalam menghitung transaksi, mendeteksi fraud, hingga menganalisis pola keuangan nasabah.

AI juga bisa memberikan layanan cepat, seperti melalui chatbot perbankan yang tersedia 24 jam melayani nasabah tanpa henti.

Selain itu, AI dapat mengurangi human error.

Pekerjaan yang sebelumnya rawan kesalahan karena faktor kelelahan, kelalaian, atau emosi manusia bisa diminimalkan.

Di sektor kesehatan, AI juga sudah membantu dokter dalam mendiagnosis penyakit lebih cepat.

Dalam dunia transportasi, mobil otonom menjadi salah satu contoh AI diproyeksikan untuk mengurangi angka kecelakaan lalu lintas.

Baca Juga: Biologi Joget

Namun, di balik semua keunggulan tersebut, kecerdasan buatan tidak lepas dari kekurangan yang perlu dicermati.

Salah satunya adalah ancaman terhadap lapangan kerja, seperti yang dialami pegawai bank di Australia.

Manusia bisa kehilangan pekerjaan yang digantikan oleh mesin cerdas yang lebih efisien dan murah bagi perusahaan.

Ketergantungan berlebihan pada AI juga dapat membuat keterampilan manusia semakin berkurang.

Selain itu, AI masih memiliki keterbatasan dalam aspek empati, etika, dan penilaian moral.

Mesin hanya bisa memutuskan berdasarkan data, bukan perasaan atau konteks sosial yang lebih kompleks.

Baca Juga: Andi Yusran Nilai Kasus Laptop Chromebook akan Terhenti di Nadiem, Lingkaran Istana Tak Tersentuh

Ada pula potensi bias karena AI dilatih berdasarkan data yang bisa saja mengandung diskriminasi.

Lebih jauh, keamanan data menjadi tantangan serius karena AI beroperasi dengan informasi sensitif yang rentan diretas jika tidak diawasi dengan baik.

Kisah pegawai bank yang digantikan AI menjadi peringatan bahwa transformasi digital tidak selalu manis.

Dunia memang tidak bisa menolak kehadiran AI, tetapi yang perlu dipikirkan adalah cara manusia bisa tetap relevan di tengah gempuran teknologi.

Kolaborasi manusia dan mesin cerdas harus dikelola dengan bijak agar kemajuan teknologi benar-benar membawa manfaat, bukan hanya melahirkan korban baru.***

Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:

Versi Android: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.promedia.pojoksatu

versid iOS: https://apps.apple.com/app/pojok-satu/id6670306141

Channel Whatsapp: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaizUTRDjiOXHsJCgQ2E

Fanpage edugov: https://www.facebook.com/profile.php?id=61575904868212