POJOKSATU.ID – Kasus kematian Nazwa Aliya (19) wanita asal Deli Serdang, Sumatera Utara belakangan ini menyita perhatian publik.
Bagaimana tidak, hal ini terjadi usai wanita muda tersebut dikabarkan meninggal dunia saat menjadi pekerja migran ilegal di Kamboja.
Tidak heran, fenomena ini sontak ditanggapi langsung oleh Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI).
Baca Juga: Diduga Lecehkan Mahasiswi, Oknum Dosen UIN Saizu Purwokerto Dipolisikan
Yang mana, pihak KP2MI mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat agar tidak menjadi pekerja migran ilegal.
Sebagaimana disampaikan oleh Menteri P2MI Abdul Kadir Karding yang dikutip Pojoksatu.id dari portal Antara.
“Kami tegaskan kerja di Kamboja ilegal. Kami tidak ingin masyarakat Indonesia tergoda dengan gaji tinggi di awal, tapi nyatanya ditipu,” tuturnya.
Baca Juga: KP2MI Sebut Bakal Bantu Proses Pemulangan Jenazah Nazwa Aliya Pekerja Migran Ilegal di Kamboja
“Dieksploitasi, jadi korban kekerasan, lukanya saat menjadi pekerja migran Indonesia ilegal membekas, hingga dirasakan keluarga di Tanah Air,” tambahnya.
Sebelumnya, Ketua OKK Grib Jaya Medan, Dudi Efni Pasaribu juga turut menanggapi kasus tersebut.
Yang mana, dirinya menyatakan akan membantu proses pemulangan jenazah korban dari Kamboja.
“Kami sedang berupaya agar jenazah Nazwa bisa segera dipulangkan. Hamba Allah sudah menghubungi timnya di Kamboja,” jelasnya.
“Dan memang benar biaya yang diminta sebesar 8.500 USD. Kami mohon doa agar proses ini bisa berjalan lancar,” lanjutnya.
Bukan main, Dudi menuturkan bahwa pihaknya akan mengawal proses pemulangan jasad korban hingga sampai ke rumah duka.
Baca Juga: Gedung Sekolah hingga Fasilitas Umum di Karawang Rusak Akibat Gempa
“Kami akan membantu sampai jenazah anak kita ini tiba di tanah air,” jelasnya yang dikutip dari portal Pojoksatu.id.
“Ini bentuk kepedulian kami dan kemurahan Allah SWT melalui Hamba-Nya yang simpati dengan derita keluarga Bu Lanniari (ibu Nazwa),” lanjutnya.
Perlu diketahui, insiden ini bermula saat korban diketahui berpamitan ke ibunya, Lanniari Hasibuan (53) untuk melamar pekerjaan.
Baca Juga: Isu Akuisisi 51 Persen Saham BCA dan Megaskandal BLBI BCA Makin Mencuat, Apa Masih Bisa Dituntaskan?
Berdasarkan informasi dihimpun, lamaran pekerjaan itu ditujukan Nazwa ke salah satu bank swasta di Medan, Sumatera Utara pada Selasa (27/5/2025).
Mengetahui inisiatif korban, Lanniari sontak mengizinkan putrinya melamar pekerjaan tersebut dikarenakan jarak tempat melamar tidak terlalu jauh.
Namun, Nazwa yang beralasan pergi melamar pekerjaan tersebut ternyata hanya tipuan semata agar ibunya terperdaya.
Baca Juga: Getaran Gempa Bekasi Terasa di Purwakarta, Rumah Warga Rusak - Jatiluhur dan Cirata Aman
Sebab, wanita lulusan SMK itu menggunakan kedok tersebut demi memuluskan rencananya untuk jadi pekerja migran di Kamboja.
Mengetahui putrinya berada di negara asing, Lanniari tanpa berpikir panjang menyuruh putrinya untuk segera kembali pulang.
Kendati demikian, permintaan sang ibu justru tidak diindahkan oleh korban dengan tetap bersikeras mencari keberuntungan di Kamboja.
Baca Juga: Bandara Husein Sastranegara Bakal Dibuka Lagi? Pemkot Bandung Desak Pusat, Angkasa Pura Sudah Siap
“Saya sempat menyuruh dia pulang melalui petugas bandara di Kamboja, tapi dia bilang akan baik-baik saja di sana,” ucap ibu korban.
Waktu silih berganti, Lanniari tiba-tiba mendapat kabar mengejutkan dari salah satu kerabatnya, seorang warga negara Inggris.
Yang mana, dirinya dikabarkan bahwa putri kesayangannya itu sedang menjalani perawatan insentif di State Hospital, Siem Reap, Kamboja.
Baca Juga: Grib Jaya Medan Bantu Proses Pemulangan Jenazah Nazwa Aliya dari Kamboja: Kami Sedang Barupaya
Tidak lama setelah menjalani perawatan, Lanniari kembali mendapat kabar bahwa putrinya telah meninggal dunia pada Selasa (12/8/2025). ***



