POJOKSATU.id, MEMPERINGATI Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia yang jatuh pada 17 Agustus 2025, berbagai cara dapat dilakukan untuk mengenang perjuangan para pahlawan.
Salah satunya adalah dengan membacakan puisi bertema kemerdekaan karya sastrawan legendaris Indonesia, Chairil Anwar.
Chairil Anwar bukan hanya sekadar penyair, ia adalah suara lantang dari generasi 1945 yang menyalakan api semangat dalam sejarah sastra Indonesia.
Baca Juga: UMY Gelar Lomba 17 Agustus Perdana di HUT ke-80 RI, Ajang Kebersamaan Warga Kampus
Dalam usianya yang singkat, ia meninggalkan jejak mendalam lewat sekira 96 karya, termasuk 70 puisi yang penuh gelora, keberanian, dan pergulatan batin.
Lahir di Medan pada tahun 1922 dan wafat di Jakarta pada tanggal 28 April 1949, Chairil menutup hidupnya di usia muda. Akan tetapi, karya-karyanya tetap abadi dan seolah masih berbicara kepada kita tentang hidup, cinta, dan perjuangan.
Menyambut momen istimewa ini, membaca puisi-puisi perjuangan Chairil Anwar bisa menjadi cara yang bermakna untuk mengobarkan semangat nasionalisme.
Berikut lima puisi karya Chairil Anwar yang mengusung tema kemerdekaan, sangat cocok untuk menyemarakkan HUT ke-80 RI:
1. DIPONEGORO
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Begitulah. Lawan seratus seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda banjir.
Sekali artinya
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditinda
Sungguhpun dalam ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai.
Maju.
Serbu.
Serang.
Terjang. (1943)
2. SIAP-SEDIA
Kepada angkatanku
Tanganmu nanti tegang kaku,
Jantungmu nanti berdebar berhenti,
Tubuhmu nanti mengeras batu,
Tapi kami sederap mengganti,
Terus memahat ini Tugu,
Matamu nanti kaca saja,
Mulutmu nanti habis bicara,
Darahmu nanti mengalir berhenti,
Tapi kami sederap mengganti,
Terus berdaya untuk Masyarakat Jaya.
Suaramu nanti diam ditekan,
Namamu nanti terbang hilang,
Langkahmu nanti enggan ke depan,
Tapi kami sederap mengganti,
Bersatu maju, ke Kemenangan.
Darah kami panas selama,
Badan kami tertempa baja,
Jiwa kami gagah perkasa,
Kami akan mewarna di angkasa,
Kami pembawa ke Bahgia nyata.
Kawan, kawan
Menepis segar angin terasa
Lalu menderu menyapu awan
Terus menembus surya cahaya
Mamancar pencar ke seluruh dunia
Riang menggelombang sawah dan hutan.
Segala menyala-nyala!
Segala menyala-nyala!
Kawan, kawan
Dan kita bangkit dengan kesedaran
Mencucuk menerang hingga belulang.
Kawan, kawan
Kita mengayun pedang ke Dunia Terang! (1944)
Baca Juga: Selamat Hari Merdeka! 80 Ide Caption Kreatif untuk Meriahkan HUT ke-80 Republik Indonesia
3. PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO
Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu,
Panggang di atas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut
Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh. (1948)
4. PRAJURIT JAGA MALAM
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu itu?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras, bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucu debu....
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu itu! (1948)
5. KRAWANG-BEKASI
Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan berdegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang-kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berilah kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi. (1948)
Ikuti berita-berita terbaru melalui web kami Pojoksatu di aplikasi berikut;
Demikiannya karya-karya Chairil Anwar yang bertemakan tentang perjuangan Kemerdekaan RI. ***



