POJOKSATU.id, JAKARTA-- Arya Daru Pangayunan (39) PNS Kemlu yang ditemukan tewas di kosnya di Menteng, Jakarta Pusat ternyata ayahnya bukan orang sembarangan.
Ayah Arya Daru merupakan Ir Subaryono, PHD, mantan dosen Fakultas Teknik Geodesi UGM yang merupakan doktor atau S3 lulusan luar negeri.
Semasa kecil, Daru tinggal di Perumahan Fakultas Teknik UGM di Seturan, Sleman, Yogyakarta.
Sementara saat ini Subaryono telah tinggal di Jalan Damai, Ngaglik, Sleman.
"Seturan itu waktu Daru masih kecil. Sekarang bapak ibu (Arya Daru) di Jalan Damai," kata Meta Bagus, kakak ipar Arya Daru.
Selama ini Arya Daru kerap pulang pergi Jakarta-Yogya untuk menemui anak istrinya yang memang tinggal di sana.
Istri Arya Daru yakni Meta Ayu Puspitantri selama ini tinggal di rumah orang tuanya, Prof Basu Swastha Dharmmesta, di Jalan Munggur, Jomblang, Janti, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul, DIY.
Keluarga juga menyerahkan penyelidikan kasus ini ke polisi.
"Kami menyerahkan prosesnya kepada pihak yang berwajib," kata kakak ipar Arya Daru, Meta Bagus, Kamis (10/7).
Baca Juga: PNS Kemlu Arya Daru Pangayunan Diduga Bunuh Diri, Kriminolog UI dan Kapolsek Beri Bukti-buktinya
Bagus mengatakan keluarga menghormati proses yang tengah berjalan di kepolisian.
"Kami mohon doa dan kiriman fatihah-nya kepada almarhum," katanya lagi dilansir kumparan.
Diketahui, jenazah Arya ditemukan di dalam kamar kos nomor 105 yang pintunya terkunci dari dalam.
Tidak ada tanda kekerasan fisik pada tubuh Arya Daru. Begitu juga tidak ada barang berharga yang hilang dari kamarnya.
Polisi menemukan sejumlah obat di lokasi kejadian, di antaranya obat sakit kepala dan asam lambung.
Barang-barang pribadi korban tidak ada yang hilang dan semuanya utuh. CCTV kos korban juga tidak merekam aktivitas mencurigakan sebelum kejadian.
Situasi itulah yang kemudian menguatkan dugaan bahwa Arya Daru meninggal karena mengakhiri hidupnya sendiri.
Menurut Kriminolog UI, Adrianus Meliala, salah satu bukti yang paling menguatkan adalah lakban yang melilit kepala Arya Daru.
Dari hasil penyelidikan polisi, sidik jari yang tertinggal di lakban hanya milik korban. Artinya, bisa diduga Arya Daru sendiri yang melakban kepalanya untuk menutup jalur napas.
“Kemungkinan ia lebih dulu menenggak obat tidur," ujar Kriminolog Universitas Indonesia, Adrianus Meliala, dikutip dari Kompas Petang beberapa hari lalu.
"Kalau dari analisis lingkungan, saya meyakini ini adalah salah satu tindakan bunuh diri, karena tidak ada pihak lain yang keluar masuk saat kejadian," katanya lagi.***




