POJOKSATU.ID – Belum lama ini publik tengah dihebohkan dengan kasus sekolah swasta Al Kareem Islamic School di Bekasi, Jawa Barat.

Bagaimana tidak, sekolah swasta elit itu diklaim tidak menjalankan program Sebagaimana mestinya.

Salah satunya, beberapa tenaga pendidik Al Kareem Islamic School mengaku diperlakukan layaknya seorang pembantu.

Baca Juga: Profil Al Kareem Islamic School, Sekolah Swasta Elit Disegel Disdik Bekasi Usai Diduga Bodong

Oleh karena itu, para guru sekolah swasta elit ini kompak mengundurkan diri sebagai tenaga pengajar Al Kareem Islamic School.

Sebagaimana halnya dikutip Pojoksatu.id dari portal media radarbekasi.id pada Rabu (18/6/2025).

Dalam artikelnya, sebanyak 7 orang guru dikonfirmasi telah menyatakan sikap perlawanan terhadap pihak sekolah.

Baca Juga: 5 Fakta Al Kareem Islamic School, Sekolah Swasta Elit Disegel Disdik Bekasi Usai Diduga Bodong Hingga Pungli

Dikarenakan, mereka mengaku tidak diperlakukan sebagai layaknya guru, melainkan seorang budak.

“Tujuh tenaga pengajar Al Kareem Islamic School memilih mengundurkan diri pada Jumat (13/6/2025),” jelasnya.

“Mereka mengaku mengalami perlakuan tidak layak selama bekerja, mulai dari beban kerja di luar kesepakatan, penahanan ijazah, hingga keterlambatan gaji,” lanjutnya.

Baca Juga: Pengadilan Tolak Dua Kali Banding NewJeans, ADOR Beri Peluang Minji dkk Kembali ke Agensi Jelang Ultah Ketiga Debut Grup Itu

Hal ini dikonfirmasi langsung oleh Raihan Tri Wahyudi, salah satu tenaga pengajar sekolah swasta elit tersebut.

Raihan menuturkan bahwa dirinya sering mendapatkan arahan untuk melayani anak pemilik yayasan hingga bekerja layaknya seorang pembantu.

Dikarenakan, Raihan kerap kali disuruh membeli perlengkapan rumah tangga milik pemilik yayasan yang merangkap jadi Kepala Sekolah (Kepsek) Al Kareem Islamic School.

Baca Juga: BRI Raih Predikat Perusahaan Publik Terbesar di Indonesia versi Forbes Global 2000 Tahun 2025

“Tiap pagi saya harus antar anak beliau sekolah, kadang ke tempat les, bahkan belanja kebutuhan rumah tangga. Itu tidak pernah dijelaskan saat awal perekrutan,” jelasnya.

Tidak hanya Raihan, Salsabila Syafwani, salah satu guru lainnya yang mengajar di sekolah swasta elit tersebut juga mengungkapkan hal serupa.

Salsabila menuturkan bahwa dirinya kerap mendapat potongan gaji tanpa adanya imbauan terlebih dahulu dari pihak sekolah.

Baca Juga: Kronologi Kasus Al Kareem Islamic School, Sekolah Elit di Bekasi Diduga Bodong Hingga Pekerjakan Guru Bak Pembantu

“Kami digaji tidak pernah full banyak potongan dan kami tidak pernah ketahui itu potongannya untuk apa, potongan gaji pernah mencapai Rp700 ribu,” terangnya. ***