POJOKSATU.id – Akses jalan menuju Palabuhanratu dari Sukabumi, baik itu melalui Cikidang maupun Cibadak Warungkiara, tidak bisa diakses akibat longsor menutup lintasan jalan.

Di beberapa wilayah di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dilanda bencana alam berupa banjir, tanah longsor, dan gelombang tinggi.

Peristiwa yang terjadi pada Rabu (4/12/2024) ini berdampak luas, merusak infrastruktur dan menyebabkan lumpuhnya aktivitas di berbagai wilayah.

Berikut pemetaan kondisi bencana di beberapa wilayah yang terkena bencana alam.

Baca Juga: Banjir Bandang Parungseah Sukabumi Akibat Luapan Sungai Cikaso, Alhamdulillah Tak Ada Korban Jiwa

Banjir di Palabuhanratu dan Sekitarnya

Hujan deras selama lebih dari 24 jam menyebabkan banjir di Kecamatan Palabuhanratu. Beberapa titik terdampak parah, termasuk Puskesmas Palabuhanratu, Kampung Gumelar, Cangehgar, dan Pasanggrahan.

Koordinator Pos SAR Basarnas Sukabumi, Suryo Adianto, mengungkapkan banjir setinggi 1,5 meter menggenangi Puskesmas Palabuhanratu.

"Pada pukul 06.00 kami menerima informasi permintaan evakuasi di Puskesmas Palabuhanratu, kami bersama tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi kurang lebih 24 jiwa yang berada di Puskesmas," jelasnya.

Suryo menambahkan, evakuasi dilakukan menggunakan perahu karet. Sebagian besar korban adalah pegawai Puskesmas dan warga sekitar. "Mereka terjebak dengan derasnya kiriman air dari atas Puskesmas," ujarnya.

Baca Juga: Banjir di Sukabumi, Enam Kendaraan Milik Warga Hanyut, 18 Kawasan Terdampak

Selain itu, banjir merendam area Pasar Palabuhanratu, Dermaga Palabuhanratu, hingga Jalan Raya Gadobangkong.

"Banjir juga ada di beberapa titik lain, kami beserta tim gabungan mengerahkan kurang lebih 30 personel untuk evakuasi," tambah Suryo.

Tanah Longsor di Bantargadung

Akses Jalan Raya Nasional Sukabumi-Palabuhanratu di Jalan Bojonggaling, Kecamatan Bantargadung, tertutup material longsor sejak pukul 02.30 WIB.

Longsor ini menyebabkan jalan tidak dapat dilalui kendaraan roda empat.

Baca Juga: 118 Warga Mengungsi Akibat Banjir Bandang dan Tanah Longsor di Kota Sukabumi, BPBD Ungkap Ini Penyebab Bencana Alam Itu

Sahrul (32), seorang penumpang bus, menyampaikan situasi terkini.

"Jalan tertutup tanah longsor, mobil enggak bisa lewat, motor disediakan jalan darurat sama warga," katanya.

Ia dan rombongannya terjebak dalam kemacetan panjang.

Sidik (30), warga setempat, membenarkan kondisi tersebut. "Sementara tidak ada korban jiwa katanya. Motor dibantu warga lewat jalan setapak yang cukup ekstrem," jelasnya.

Banjir Bandang di Sagaranten dan Palabuhanratu

Video banjir bandang di media sosial memperlihatkan enam mobil terseret arus di kawasan Palabuhanratu.

Salah satu video menunjukkan sebuah mobil di Sagaranten yang terguling saat mencoba menerjang arus.

Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyatakan pihaknya sedang melakukan pengecekan di lokasi.

"Untuk perkembangan selanjutnya akan segera diinformasikan," ujarnya.

Baca Juga: Tinjau Lokasi Banjir di Tiga Kelurahan Sukabumi, Bey Machmudin Imbau Warga Waspada Hujan Ekstrem

Petugas gabungan dipimpin oleh Kepala Pelaksana BPBD Sukabumi telah berada di lokasi untuk menanggulangi dampak bencana.

Gelombang Tinggi di Ujunggenteng

Cuaca ekstrem di Pantai Ujunggenteng menyebabkan 63 kapal nelayan terdampak, termasuk 25 rusak berat, 35 rusak ringan, dua hilang, dan satu karam.

Ketua Rukun Nelayan Ujunggenteng, Asep Jeka, menjelaskan, "Ada sekitar 63 unit kapal terdampak gelombang tinggi laut selatan Kabupaten Sukabumi tepatnya di Desa Ujunggenteng, Kecamatan Ciracap."

Pemicu Bencana

Terpisah, peneliti dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, menjelaskan bahwa banjir bandang di Sukabumi dipicu oleh gangguan cuaca skala sinoptik yang menyebabkan hujan terus-menerus.

Salah satu faktor yang disebut adalah pengaruh vorteks atau sirkulasi siklonik di Samudera Hindia yang semakin menguat dan mendekati wilayah barat daya Jawa bagian barat.

Baca Juga: 62 Lokasi di Sukabumi Dilanda Kebanjiran, Banyak Pohon Tumbang, Hingga Warga yang Terseret Arus

"Waspada Jawa Barat selatan dan Banten (Lebak, Pandeglang), potensi hujan persisten masih tinggi," tulisnya melalui akun media sosial X, Rabu sore.

Sebelumnya, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Barat, Rakhmat Prasetia, mengungkapkan bahwa curah hujan di Sukabumi dari pengamatan di Pelabuhanratu sepanjang Selasa hingga Rabu pagi mencapai kategori ekstrem, yakni 150,6 milimeter.

Selain dipengaruhi sirkulasi siklonik di Samudera Hindia, ia juga mencatat adanya pengaruh bibit Siklon Tropis 95W di Laut Natuna Utara. ***