POJOKSATU.id - Tengah marak beredar isu ada beras berbaan plastik atau beras sintetis impor yang dikonsumsi masyarakat.

Perihal beras sintetis tersebut Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso alias Buwas pun membantahnya.

Dengan tegas Buwas mengatakan bahwa pihaknya sellau memastikan impor beras dalam pengawasan dan pengecekan yang ketat dan baik, serta dilakukan secara berkali-kali, baik di negara pengekspor, maupun di dalam negeri saat beras tersebut tiba di Indonesia.

Selain itu, Buwas juga menjelaskan bahwa plastik merupakan bahan yang mahal. Sehingga beredarnya kabar simpang siur mengenai beras sintetis ini merupakan sesuatu yang tidak mungkin.

Baca Juga: Daftar Kejanggalan Putusan MK Buka Peluang Gibran Cawapres, Berubah Setelah Paklek Masuk, Ada Peristiwa Aneh

Pernyataan tersebut datang setelah sebuah video yang viral di media sosial memperlihatkan narasi warga di Bukitinggi, Sumatera Barat, yang mengaku menemukan beras plastik atau beras sintetis, di mana mereka yang mengonsumsi beras tersebut mengalami keracunan.

Buwas menjelaskan isu beras sintetis ini telah diembuskan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, di tengah upaya serius pemerintah dalam melakukan stabilisasi pasokan dan harga beras dengan menggencarkan impor untuk memastikan stok yang aman bagi masyarakat Indonesia.

Buwas juga menceritakan pengalamannya selama menjadi Kebareskrim Polri, di mana dulu sempat ada isu beras plastik serupa, padahal itu bukan plastik.

Baca Juga: Usai Putusan MK Gibran Ngaku Langsung Dipanggil Menghadap Sekjen PDIP Besok: Ditunggu saja

Ternyata itu bukan beras plastik, kata Buwas, hasil pemeriksaan dan penyidikan kepolisian, beras tersebut terbuat dari singkong.

Diproses dulu menjadi seperti mie, baru diproses jadi beras. Makanya mengkilap. Tapi bukan dari beras asli.

Saat ini, atas kabar hoaks yang beredar tersebut, pemerintah sendiri tengah berusaha menindaklanjuti pembuat video tersebut, yang telah menyebarkan berita bohong kepada masyarakat mengenai beras plastik.

Plt Menteri Pertanian Arief Prasetyo Adi juga merespon cukup keras terkait isu tersebut. Ia pun sependapat dengan Buwas dan membantah adanya beras sitetis tersebut.

Arief mengatakan adanya isu beras sintetis ini karena ada pihak-pihak yang tidak suka akan impor beras yang dilakukan pemerintah.

Selain itu, dia mengatakan bahwa harga plastik itu lebih mahal dari beras.

Baca Juga: MK Bolehkan Gibran jadi Cawapres, 215 Tokoh Keluarkan Maklumat Juanda 2023: Reformasi Kembali ke Titik Nol

Arief pun meminta kepolisian dalam hal ini Satuan Tugas Pangan (Satgas Pangan) segera menelusuri informasi yang berkembang tersebut.

Dia juga meminta jangan ragu jika oknum sengaja membuat kegaduhan di publik atas informasi tersebut.

Sementara itu, pakar teknologi pangan dari Intitute Pertanian Bogor (IPB) Slamet Budijanto mengatakan beras plastik yang diklaim selama ini adalah hoaks.

Jikalau benar beras plastik ada, menurutnya hal itu tidak masuk akal. Karena pembuatan biji platik membutuhkan biaya produksi tinggi. Bahkan lebih mahal dari harga jual berasnya sendiri.

Slamet menyebutkan bahwa, harga satu kilogram biji plastik dari hasil daur ulang sudah mencapai Rp 20 ribu. Sedangkan, harga beras premium yang ada di pasaran saat ini berada di angka Rp 15 ribu.

Guru Besar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB University itu menegaskan, semestinya istilah beras plastik itu tidak ada.

Menurut dia, selama ini yang beredar adalah biji plastik yang bentuknya bisa bermacam-macam, termasuk bisa menyerupai beras.

Dijelaskannya, sebagai peneliti, ia bisa memastikan bahwa yang diklaim sebagai beras plastik itu hoaks. Yang viral itu sebenarnya biji plastik, tapi dikasih nama beras plastik.

Pada beberapa kasus, Slamet menjelaskan, dalam pembuatan beras analog menggunakan gliceryn monostearat (GMS) yang merupakan produk turunan sawit.

Beberapa peneliti menyebutnya sebagai ‘plasticizer’ yang berfungsi supaya tidak lengket dan lebih kompak produk beras analognya.

Ia berpesan, kejadian seperti ini bisa menjadi pelajaran agar masyarakat lebih teliti dan kritis menanggapi suatu isu.

Terlebih di era banjir informasi seperti sekarang, berpikir kritis merupakan modal penting dalam memilah benar tidaknya sebuah berita.

Profesor Slamet sendiri merupakan sosok di balik inovasi beras analog.

Beras buatannya itu berbahan baku bukan padi, melainkan dari beragam sumber pangan lain seperti jagung, ubi jalar, talas, sorgum dan lainnya.

Meski bukan dari padi, beras analog justru bisa menjadi alternatif pangan selain beras dan memiliki segudang manfaat bagi kesehatan.