POJOKSATU.id - Sumpah Pemuda merupakan peristiwa bersejarah yang menjadi tonggak penting dalam perjuangan menuju kemerdekaan Republik Indonesia.
Dalam merumuskan isi Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928. Para pemuda tersebut berkumpul, mereka berasal dari berbagai organisasi, suku, agama, serta daerah.
Namun, terdapat beberapa tokoh yang memiliki peran spesifik dalam dalam peristiwa tersebut, berikut 13 tokoh Sumpah Pemuda:
1. Soegondo Djojopoespito
Soegondo Djojopoespito sebagai ketua Kongres Pemuda II. Soegondo, yang kala masih berusia 24 tahun, memaparkan arti penting dan maksud diadakannya Kongres Pemuda 2.
Dia membicarakan sejarah perkembangan organisasi pergerakan nasional mulai dari terbentuknya Boedi Oetomo hingga terlaksananya Kongres Pemuda.
Baca Juga: Mengenal Sosok Mayor Bismo, Pahlawan yang Gugur oleh Rakyatnya Sendiri
2. R.M. Djoko Marsaid
R.M. Djoko Marsaid dalam Kongres Pemuda II berperan sebagai wakil ketua.
Meski memiliki peran signifikan, dalam pertengahan proses kongres, Marsaid mengundurkan diri dari rapat karena perbedaan pendapat tentang fusi organisasi.
Kala itu, si mantri polisi ini tidak setuju apabila Jong Java yang sudah mapan bergabung ke dalam organisasi baru yang menurutnya belum jelas bentuk dan arahnya.
3. Muhammad Yamin
Dalam Kongres Pemuda II, Muhammad Yamin tak hanya berperan sebagai sekretaris. Dalam kongres hari pertama, Yamin mengulas tentang persatuan yang bisa tercipta di Indonesia karena adanya dasar yang kuat yaitu persamaan kultur, persamaan bahasa, dan persamaan hukum adat. Pidatonya tersebut memantik banyak tanggapan dari peserta kongres.
Baca Juga: Misteri Kota Kediri, Konon Presiden Bisa Lengser dari Jabatannya Ketika Datang ke Kota Ini
4. Djoened Pusponegoro
Posisi Djoko Marsaid setelah mengundurkan diri digantikan oleh Djoened Pusponegoro.
Djoened Pusponegoro menempati posisi sebagai wakil ketua pada rapat ketiga yaitu ketika Sumpah Pemuda diikrarkan. Keberadaan Djoened ini membantu melancarkan kongres hingga selesai.
5. Kartosoewirjo
Kartosuwiryo dalam kongres mengusulkan tentang kedudukan bahasa asing sebagai bahasa pergaulan internasional.
Dalam pembahasan itu, Kartosoewirjo mengambil kesimpulan bahwa bahasa Indonesia harus menjadi penghubung dalam persatuan pemuda.
Baca Juga: Usai Putusan MK Gibran Ngaku Langsung Dipanggil Menghadap Sekjen PDIP Besok: Ditunggu saja
6. Mr. Sartono
Dalam Kongres Pemuda II, Mr. Sartono berperan sebagai salah satu penyampai pidato pada hari pertama kongres.
Pria yang turut terlibat dalam kepanitiaan Kongres I itu menyatakan keinginannya untuk berusaha mempersatukan bangsa dan menumbuhkan rasa cinta tanah air.
7. Siti Soendari
Siti Soendari, yang juga termasuk salah satu tokoh Kongres Pemuda 2, mengusulkan untuk menanamkan perasaan cinta tanah air sedari dini, khususnya untuk kalangan perempuan.
Siti mengkritisi kebiasaan di Indonesia kala itu, yang memberikan hak pendidikan hanya kepada golongan pria. Menurutnya, jika perempuan terdidik mereka dapat membantu secara aktif dalam menyokong pergerakan nasional.
8. Poernamawoelan
Pada kongres hari kedua, Poernamawoelan mendapat kesempatan untuk menyampaikan pidato yang mengkritik tentang pendidikan anak kala itu.
Poernamawoelan menyampaikan bahwa anak-anak harus diberi pendidikan agar menjadi orang baik dan setia kepada tanah air.
9. Abdoellah Sigit
Abdoellah Sigit menggagas ide bahwa pendidikan anak harus dijalankan melalui aturan kebangsaan yaitu interaksi, banyak membaca, organisasi pemuda, dan lain sebagainya.
Salah satu kesalahan pendidikan di Indonesia menurutnya adalah adanya anggapan bahwa derajat perempuan berada di bawah laki-laki.
10. Sarmidi Mangoensarkoro
Sehubungan dengan pendidikan, Sarmidi Mangoensarkoro berbicara tentang pendidikan anak di rumah.
Pada intinya, dia menekankan bahwa pendidikan anak sebaiknya tidak dilakukan berdasarkan perintah atau paksaan melainkan dengan bimbingan.
11. Johanna Masdani
Johanna Masdani atau Johanna Nanap Tumbuan, yang kala itu masih berusia 18, berperan membacakan teks Sumpah Pemuda. Pada hari kelahiran Sumpah Pemuda, Johanna hadir sebagai perwakilan dari pemudi Jong Minahasa.
12. Wage Rudolf Soepratman
Wage Rudolf (W.R.) Supratman membawakan lagu ciptaannya "Indonesia Raya" yang dinyanyikan oleh seluruh peserta kongres sebelum bersama-sama mengikrarkan Sumpah Pemuda.
13. Dolly Salim
Dolly Salim atau Theodora Athia Salim menjadi perwakilan dari organisasi kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij) dalam Kongres Pemuda II.
Saat itu, Dolly bukanlah peserta kongres karena usianya yang baru 15. Namun, tanpa diduga, putri dari Haji Agus Salim ini didapuk sebagai pemimpin dalam sesi menyanyikan lagu "Indonesia Raya" untuk pertama kalinya di kongres Sumpah Pemuda.




