POJOKSATU.ID- Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso menilai, dampak El Nino kian terasa dengan naiknya harga pangan dunia dan berimbang ke harga pangan nasional.

El Nino juga membawa kemarau berkepanjangan yang mengakibatkan gagal panen, kebakaran, dan menurunnya kualitas udara.

"Ini (El Nino) bisa berdampak pada kehidupan sosial,” kata  KH Chriswanto Santoso, Selasa 10 Oktober 2023.

Baca Juga: Pesan Menyentuh Wiljan Pluim: Berat Tinggalkan PSM Makassar

Menurut Kyai Chriswanto, dalam sejarah Indonesia, kekeringan yang berkepanjangan pernah terjadi pada tahun 1965 dan 1988.

Kekeringan ini lantas mengakibatkan lonjakan harga pangan dan menjadi pemantik perubahan politik dan kerusuhan berdarah.

Hal ini harus diwaspadai, mengingat Pemilu 2024 mendatang sudah di depan mata.

"Menjelang Pemilu, kewaspadaan seluruh elemen bangsa harus ditingkatkan,” tuturnya.

Baca Juga: Jessica Wongso Terinspirasi Film 8 Pembunuh Bayaran yang Rilis pas Natal 2015 untuk Membunuh Mirna Salihin

Selain itu, kata Kyai Chriswanto, El Nino menjadikan negara-negara yang surplus pangan memiliki daya tawar yang kuat

Karena itu ia menyarankan agar program kedaulatan pangan diupayakan terus, meskipun kepemimpinan nasional silih berganti di setiap Pemilu Presiden dan Legislatif.

“Indonesia hanya sekali swasembada pangan dan itu sudah lama sekali pada era Orde Baru. Seharusnya dengan demokrasi yang lebih terbuka pengawasannya, kedaulatan pangan bukan hal yang mustahil,” imbuhnya.

Senada dengan KH Chriswanto, Anggota DPR RI Singgih Januratmoko mengatakan kemarau berkepanjangan bukan hanya berakibat pada harga pangan melambung.

Baca Juga: Wiljan Pluim ke mana Usai Tinggalkan PSM? Ternyata Gabung Klub Papan Atas Ini

Di sisi lain, peternak juga terpukul, yang mengakibatkan peternak UMKM kesulitan memperoleh pakan.

"Kemarau panjang mengakibatkan panen jagung gagal dan mengakibatkan harga jagung di tingkat peternak naik. Ini membuat peternak UMKM kesulitan memperoleh pakan,” ujar Singgih.

Dalam pakan ternak, 50 persen komposisinya adalah jagung. Bila harga jagung naik, ini sudah tentu harga pakan juga melambung tinggi.

Baca Juga: Gibran Rakabuming Diusulkan Jadi Cawapres Prabowo, Partai Nasdem Gerah, Singgung Legalkan Dinasti Politik

Saat ini, harga jagung di tingkat peternah mencapai Rp6.500-7.000 per kilogram. Sementara kemarau ini diperkirakan sampai Desember.

"Kami sarankan jangan karena pertimbangan politis pemerintah tidak mengimpor jagung. Ada jutaan peternak dan industri terkait bisa merugi,” saran Singgih yang juga warga LDII Yogyakarta.

Singgih juga mengingatkan pentingnya seluruh elemen bangsa bergotong-royong dan meningkatkan kepedulian sosial. Di berbagai provinsi mengalami kesulitan air, bahkan kemarau memicu kebakaran di perkotaan, hutan, hingga perkebunan.

“Di wilayah kekeringan air terdapat banyak keluarga yang benar-benar tidak memiliki air bersih. Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk saling membantu mengirimkan truk tangki air, yang biayanya sangat terjangkau bila bergotong-royong,” ujarnya. ***