POJOKSATU.ID - Jenderal TNI Raden Widodo atau Jenderal Widodo dan Soeharto sejatinya adalah kawan seperjuangan. Tapi ia didepak karena dianggap ancaman bagi sang presiden.
Bagi pembentuk Utama Orde Baru (Orba), pantang ada figur yang bisa menyaingi ketokohan Soeharto.
Siapapun yang dianggap berpotensi membahayakan posisi Presiden Soeharto akan segera disingkirkan.
Sebagai presiden jebolan tentara, Soeharto mafhum ABRI, khususnya angkatan darat dan selalu menghadirkan para perwira loyalis sekaligus oposan.
Salah satu perwira tinggi yang pernah kena depak karena mengusik Soeharto adalah Jenderal TNI Widodo, yang merupakan Kepala Staf TNI AD (Kasad) periode 1978-1980.
Widodo yang disebut-sebut sebagai tokoh pembaru TNI dicurigai Soeharto memiliki agenda tersamar.
Baca Juga: Rekap Hasil Final Hongkong Open 2023: Indonesia Juara Umum
Soeharto dan Raden Widodo sejatinya adalah kawan seperjuangan sejak masa revolusi.
Widodo yang lahir di Yogyakarta, 25 April 1924 adalah putra pensiunan pegawai rendahan keraton Yogyakarta.
Di masa pendudukan Jepang, dia mendapat pelatihan militer sebagai komandan peleton pasukan Pembela Tanah Air (PETA).
Baca Juga: Mengenal 5 Tradisi Masyarakat Pesisir Indonesia Dalam Menghormati Sumber Daya Lautan
Widodo merupakan salah seorang komandan lima pasukan yang ambil bagian dalam serangan penting terhadap markas tentara Jepang di Kotabaru di bawah pimpinan Mayor Soeharto pada 1945.
Kontras dengan nasib kawan-kawan seangkatannya, karir militer Widodo berjalan lambat. Selama sebelas tahun yaitu pada 1945-1956, dia hanya menyandang pangkat kapten.
Widodo baru menapaki jenjang perwira tinggi ketika diangkat sebagai instruktur Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SSKAD) pada 1957.
Diantara salah satu murid Widodo di SSKAD tersebutlah nama Soeharto, bekas komandan batalionnya saat zaman perang melawan Belanda di Yogyakarta.
Baca Juga: Mengulik Sejarah Pasar Johar Semarang, Dibangun Arsitek Belanda yang Pro-Kemerdekaan Indonesia
Soeharto dan Widodo bersua lagi di medan laga saat kampanye pembebasan Irian Barat. Soeharto yang memimpin Komando Mandala pada 1962, menunjuk Widodo sebagai kepala staf satuan pasukan terjun payung.
Keduanya berpencar ketika Soeharto menjadi Panglima Kostrad. Sementara Widodo bertugas di Kodam Diponegoro sebagai anggota staf.
Widodo melakukan langkah cepat dan penuh inisiatif selama prahara 1965 di Jawa Tengah. Dia bertindak tegas terhadap PKI dalam situasi tak menentu saat Panglima Diponegoro melemah.
Baca Juga: Rincian Hadiah China Open 2023, Jojo Menang Banyak Walau Cuma Sampai Semifinal
Semasa menjabat Panglima Komando Wilayah Pertahanan (Pangkowilhan) II, Widodo dipandang sebagai tokoh masa depan ABRI.
Widodo terkenal dengan pemikiran dan terobosannya yang inovatif. Bahkan bagi beberapa kalangan, Widodo dianggap sebagai calon presiden berikutnya.
Pers sering kali mengutip imbauan Widodo kepada para anggota TNI-AD yang hendak pensiun agar jangan sampai dihinggapi gejala post-power syndrome.
Baca Juga: Mengenang Kosasih Kartadiredja, Wasit Indonesia Pertama Berlisensi FIFA, Dijuluki King Kobra Asia
Yaitu kondisi psiko-sosial orang yang kehilangan keseimbangan karena tiba-tiba jabatan yang dipegangnya hilang.
Semakin terang citra Widodo semakin bertentangan pula haluannya dengan Soeharto.
Ketika menjabat Kasad, Januari 1978, Widodo hendak menampilkan wajah baru ABRI yang lebih demokratis.
Menyadari kedudukan pemerintah lewat ABRI begitu kuat, Widodo justru ingin mengurangi keterlibatan ABRI dalam program kekaryaan maupun dwifungsi.
Dalam makalahnya, Widodo mengusulkan agar ABRI harus berdiri di atas semua golongan. Sebaliknya, Presiden Soeharto menginginkan ABRI hanya bernanung dalam Golongan Karya.
Motif-motif yang dilakukannya jauh lebih kompleks daripada yang nampak di permukaan.
Pendekatan yang lebih puritan sebagai perwira bersih dalam mengabdi rakyat, tak hanya dianggap sebagai upaya untuk mengejar ambisinya.
Baca Juga: Perjuangan Lionel Sinathrya, Demi Seleksi Timnas Indonesia U17, Rela Tinggalkan Prancis
Lebih dari itu, ketertarikannya dipandang sebagai kritik tak langsung kepada Presiden Soeharto dan keluarganya.
Dari serangkaian prakarsanya, yang berujung pada murka Soeharto adalah ketika Widodo memfasilitasi para jenderal pensiunan untuk bersuara dalam Forum Studi dan Komunikasi.
Widodo memainkan peran penting dalam melakukan koordinasi dan pengembangan pandangan dari kedua belah pihak yaitu para perwira aktif di Seskoad serta para pensiunan di Fosko.
Forum ini kemudian menjadi ajang bagi lawan politik Soeharto menyampaikan kritik bertubi-tubi. Soeharto yang lama-lama jengah mendengar kritikan lantas membubarkan Fosko dan mempersulit kehidupan para jenderal di dalamnya.
Baca Juga: Mengenal Tradisi Sedekah Laut, Ritual Masyarakat Pesisir Indonesia Yang Jadi Daya Tarik Wisatawan
Widodo harus membayar mahal semua inisiatif yang dilakukannya. Menurut Atmadji, begitu mengetahui Soeharto tak lagi nyaman dengan langkah-langkah Widodo, Panglima ABRI, Jenderal M Jusuf segera mengajukan usulan pergantian Kasad yang langsung disetujui.
Pada April 1980, Widodo digantikan oleh wakilnya Letnan Jenderal TNI Poniman yang dianggap lebih low profile dan bukan tipikal outspoken dibanding Widodo.
Beberapa hari setelah pergantian Kasad, Jenderal Widodo menampik persoalan dirinya ketika ditanya oleh wartawan. Dia membantah bahwa ada sesuatu dalam kaitan pergantian Kasad.
Baca Juga: Inilah Hasil Drawing Piala Dunia U17 2023, Indonesia Terhindar Lawan Tim Raksasa
Pasca pensiun, Widodo menjauhkan diri dari hingar bingar politik maupun militer. Dia wafat pada 19 Februari 1993.***




